3 Fakta Tentang Covid-19 Tanpa Gejala

  Senin, 07 September 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi pandemi (Shutterstock)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Orang tanpa gejala (OTG) Covid-19 atau asimtomatik bisa ditemui di mana-mana.

Menurut para peneliti, ini adalah salah satu misteri besar tentang virus corona. Banyak bukti menunjukkan hampir setengah dari kasus Covid-19 mungkin tanpa gejala. Dan masalahnya, mereka yang tidak pernah mendapatkan gejala, terutama anak-anak, sangat mungkin berpotensi menyebarkan virus sama mudahnya dengan orang yang terinfeksi dengan gejala. 

Dalam berita Huffpost yang dilansir Suara.com--jaringan AyoSurabaya.com, Senin (7/9/2020), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC telah mengubah pedoman pengujiannya awal pekan ini, yang sebelumnya menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki gejala Covid-19 tidak perlu diuji, kini Direktur CDC mengklarifikasi bahwa orang-orang tersebut 'dapat dipertimbangkan' untuk pengujian.

Pakar kesehatan mengatakan akan menjadi tantangan besar untuk menangani Covid-19 jika kita bahkan tidak tahu siapa yang mengidapnya. Bahkan orang tanpa gejala dapat (dan akan) sangat memengaruhi masa depan pandemi. Para ilmuwan kemudian mengumpulkan sejumlah wawasan baru dalam beberapa bulan terakhir yang telah membantu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang terjadi dengan orang yang terinfeksi namun tidak pernah mengalami gejala apa pun. Ini dia beberapa di antaranya.

Belum Ada Angka Pasti

Sebuah riset yang keluar pada bulan Juni menunjukkan bahwa sekitar 40% orang yang terinfeksi yang dites Covid-19 di kota kecil di Italia tidak memiliki gejala. Di Boston, dokter menguji sekelompok orang yang tunawisma dan tinggal di penginapan dan menemukan bahwa 146 orang yang dites positif tidak memiliki gejala.

CDC saat ini menyatakan bahwa individu tanpa gejala di Amerika Serikat dapat mencapai hingga 40% kasus. Namun meskipun jelas ada banyak kasus tanpa gejala di luar sana, dokter tidak yakin seberapa lazimnya kasus tersebut.

“Kami belum benar-benar tahu berapa banyak orang yang akhirnya tidak menunjukkan gejala penyakit ini,” kata Manisha Juthani, spesialis penyakit menular dari Yale Medicine.

Ilmuwan dapat memperkirakan jumlahnya melalui penelitian, tetapi statistik ini hampir tidak dapat menangkap kenyataan dari seluruh populasi.

Pasien Muda 

Peneliti memperkirakan sebagian besar kasus konfirmasi tanpa gejala melibatkan orang berusia 20-an, 30-an dan 40-an. Namun anak-anak juga tampaknya memainkan peran yang jauh lebih besar dalam penyebaran diam-diam Covid-19 daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Alasan utamanya, menurut peneliti, adalah karena anak-anak biasanya tidak mengalami gejala Covid-19 yang parah; mereka cenderung tidak memiliki gejala atau gejala yang begitu ringan sehingga tidak diperhatikan atau diabaikan. Hal ini menjadikan mereka kandidat utama untuk membawa dan menyebarkan infeksi tanpa disadari.

Data yang lebih baru menemukan bahwa banyak orang lanjut usia juga tidak menunjukkan gejala. Satu studi yang diterbitkan di JAMA pada pertengahan Agustus menemukan bahwa 88% orang dewasa yang lebih tua yang dites positif Covid-19 di panti jompo Connecticut tidak menunjukkan gejala. Di sebuah panti jompo di Chicago, 37% penghuni lansia yang dites positif Covid-19 tidak pernah mengalami gejala.

OTG Tularkan Virus?

Sebuah studi baru-baru ini dari Korea Selatan menemukan bahwa orang tanpa gejala dan gejala membawa viral load yang sama di tubuh mereka, yaitu jumlah virus yang terletak di tenggorokan dan hidung. Ini menunjukkan bahwa orang tanpa gejala berpotensi menyebarkan virus corona sama mudahnya dengan mereka yang memiliki gejala.

Tetapi para ilmuwan tidak sepenuhnya yakin akan hal itu. Sebagai alternatif, materi virus yang terdeteksi pada pembawa asimtomatik mungkin tidak menular - itu bisa berupa potongan virus mati yang belum dikeluarkan dari tubuh, menurut Juthani.

Batuk dan bersin dianggap sebagai cara utama partikel virus corona keluar dan menginfeksi orang baru. Secara teoritis, jika orang yang terinfeksi memiliki gejala, ada kemungkinan mereka lebih sering batuk dan bersin serta mengeluarkan lebih banyak tetesan pernapasan ke lingkungan.

“Ini memungkinkan partikel virus menyebar lebih banyak daripada pada pasien tanpa gejala,” kata Juthani.

Pakar lain mengatakan berbicara dapat menularkan virus dengan sangat mudah juga. “Batuk berpotensi mengeluarkan lebih besar dan lebih banyak awan tetesan, tetapi sekarang kita tahu bahwa hanya berbicara menghasilkan ribuan tetesan,” tambah Benjamin Neuman, seorang ahli virologi dan kepala departemen biologi di Texas A&M University-Texarkana.

Yang juga memprihatinkan adalah fakta bahwa pembawa tanpa gejala mungkin tidak melakukan tindakan pencegahan yang sama (seperti isolasi di rumah, memakai masker) seperti orang yang jelas sakit.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar