Jatim Perluas Sekolah Tatap Muka Jenjang SMK

  Senin, 07 September 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi pembelajaran tatap muka selama pandemi Covid-19. (Shutterstock)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Dinas Pendidikan Jawa Timur mengatakan, telah melakukan perluasan sekolah tatap muka.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Wahid Wahyudi mengungkapkan, berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran tatap muka tahap pertama yang dilangsungkan 18-30 Agustus 2020, prosesnya berjalan baik. 

Berbagai pihak juga diakuinya mendukung kembali dibukanya sekolah, termasuk orang tua, dan guru. Karenanya, Dindik Jatim memutuskan melanjutkan tahap dua, dengan memperbanyak jumlah sekolah yang menggelar proses belajar tatap muka.

"Uji coba pembelajaran tatap muka diperluas. Yang semula masing-masing kabupaten/ kota itu hanya satu SMA, SMK, dan SLB, mulai 31 Agustus 2020 itu jumlah SMK-nya ditingkatkan (jumlahnya) menjadi masing-masing kabupaten/ kota 25 persen (dari jumlah sekolah di tiap daerah)" kata dia, Senin (7/9/2020).

Wahid menegaskan, pada tahap dua, sekolah yang diperbanyak untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka baru jenjang SMK. Artinya, keputusan ini tidak berlaku untuk jejang SMA. Wahid menegaskan, untuk jenjang SMA dan SLB akan secara bertahap menyusul.

"SMA masih belum. Masih bertahap," ujarnya.

Wahid menegaskan, pembelajaran tatap muka belum diberlakukan di daerah yang menyandang zona merah Covid-19. Termasuk Surabaya dan Sidoarjo belum diperbolehkan menggelar pembelajaran tatap muka. Dia juga menekankan, sekolah yang ingin menerapkan pembelajaran tatap muka harus mendapatkan izin dari Satgas Covid-19 dan pemerintah daerah.

"Sekolah yang ingin melakukan belajar tatap muka harus mendapatkan rekomendasi dari gugus tugas Covid-19 kabupaten/kota," kata dia. 

Wahid mengungkapkan, rapid test untuk guru dan tenaga pendidik dilakukan secara masif kepada seluruh sekolah jenjang SMA/SMK di Jatim. Sebanyak 10 ribu orang telah dilaksanakan rapid test tahap pertama. Selanjutnya menyusul 10 ribu orang lagi di tahap kedua.

Ketika dikonfirmasi soal hasil rapid test, Wahid mengarahkan ke Dinas Kesehatan Jawa Timur. "Dinkes yang tahu datanya. Karena Dinkes yang melakukan," ujarnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar