Menengok Curug Halimun Terbesar di Pulau Jawa

  Jumat, 11 September 2020   Adi Ginanjar Maulana
Curug Halimun.(T. Bachtiar)

AYOSURABAYA.COM -- SA Reitsma dan WH Hoogland (1927) menulis, Curug Halimun memang bukan air terjun yang tertinggi, tapi merupakan air terjun terbesar di seluruh Jawa. 

Inilah yang menjadi daya tarik banyak orang untuk mengunjunginya, padahal jalan masuk ke sini sangat sulit pada awal abad ke-20. Kedua penulis itu memasukkan Curug Halimun di aliran Ci Tarum, di selatan Rajamandala, ke dalam buku panduan wisata Gids van Bandoeng en Midden-Priangan (1927).

SA Reitsma dan WH Hoogland dengan rinci menuliskan, bagaimana cara untuk ke Curug Halimun, “Dengan kereta api yang pertama, yang berangkat dari stasiun Bandung pukul 04.30 pagi. 
Perjalanan menuju Rajamandala bisa ditempuh juga dengan mobil melalui Padalarang, dan akan sampai di Rajamandala pukul 06.00. Yang berkendara dengan mobil atau sado di sepanjang jalan raya pos, setelah melewati Ci Tarum berbelok tepat sebelum jembatan di atas Ci Hea, di pal 26. Ikuti jalan setapak yang menuju ke Desa Pangkalan. Setelah satu setengah jam mendaki secara perlahan, akan sampai di Gunung Guha.

Bila naik kereta api sampai di halte Cipeuyeum, lalu berjalan menyusuri jalan raya pos ke arah Bandung sejauh 2 km. Di km 43 berbelok ke kanan menuju Desa Cipetirkolot di Cihea.

Karena tidak ada jalur khusus menuju air terjun, maka cara terbaik adalah meminta penduduk di Desa Cacaban sebagai pemandu. Perjalanan menurun menuju Ci Tarum melalui padang alang-alang. Suara gemuruh air terjun sudah terdengar dari kejauhan”.

Jalan raya pos selesai dibangun tahun 1910, menghubungkan kota-kota di sepanjang lintasan antara Bogor-Cianjur-Bandung-Sumedang-Cirebon- .... Dari jalan raya pos itu ke pedalaman, seperti dari Cihea, Kabupaten Cianjur, berada di sebelah barat Ci Tarum, ke selatan, belum dibangun jaringan jalan. Oleh karena itu wisatawan pada zaman kolonial, mereka haru berjalan kaki dari dari perpotongan jalan raya pos dengan aliran Ci Hea. Dari sana berjalan ke selatan sejauh (jarak lurus) 11,5 km, lalu menuruni lereng yang menurun tajam.

Sejak jalan aspal antara Rajamandala sampai bendungan Saguling beroperasi pada tahun 1986, untuk menuju Curug Halimun menjadi sangat sangat singkat. Antara Rajamandala sampai Cikuda, Saguling sejauh 13 km dapat mengunakan kendaraan. Dari Cikuda sampai Curug Halimun bisa berjalan kaki, atau dengan naik motor/ojeg sampai Cibodor, baru berjalan kaki. Jarak lurus antara Cikuda – Curug Halimun sekitar 1,5 km, tapi harus menurun dari ketinggian + 710 m dpl di Cikuda ke + 480 m dpl di Curug Halimun.
 
Apa yang disaksikan wisatawan pada zaman kolonial, seperti digambarkan oleh SA Reitsma dan WH Hoogland, jauh berbeda dengan apa yang disaksikan saat ini. Ada dua penyebab utama yang membedakannya, pertama karena Ci Tarum dibendung menjadi Danau Saguling, sehingga Ci Tarum antara bendungan Saguling sampai powerhaouse Saguling, lebih ke hulu sedikit dari Sanghyangtikoro, menjadi sungai yang tidak dilalui aliran Ci Tarum utama, tetapi airnya hanya diisi oleh anak-anak sungai di sepanjang 8 km, sehingga jumlah airnya menjadi sangat sedikit, ngérélék, kecil sekali. Kedua karena lingkungan kawasan itu kualitasnya terus merosot, jauh dari gambaran Junghuhn yang menyebutkan bahwa kawasan ini sebagai rimba hutanhujan tropis. Namun, bagian yang dalam di bawah air terjun, membentuk “kolam” kehijauan yang tenang, jernih, dan indah.

Gambaran betapa besar dan indahnya Curug Halimun, kini hanya dapat dilihat dari jejaknya, seperti yang saya lihat pada September 2020. Di dinding batu raksasa pada ketinggian dua meter lebih dari dasar sungai, terdapat ceruk memanjang berdiameter 80 cm. Pastilah saat itu aliran air yang sangat deras membawa material yang mampu mengebor batu menjadi lobang yang memanjang. Lama ke lamaan lubangnya semakin membesar, lalu bagian sisi terluarnya ambruk, membentuk ceruk yang memanjang. Dapat dipastikan, tinggi muka airnya lebih tinggi dari ketinggian ceruk. Diguga, tinggi muka airnya tiga meter lebih dari dasar sungai saat ini. Menurut Ryan Muhammad Agung, ketua Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Curug Halimun, Desa Saguling, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, lebar Ci Tarum di dasar sungai, ujung tebing bagian atas airterjun adalah 75 m, dengan tinggi tebing 45 m.

Pada saat SA Reitsma dan WH Hoogland membuat buku panduan wisata tahun 1927, saya menduga tinggi airnya mencapai 3-4 m dari dasar sungai bagian atas, dengan lebar sungai 75 m, lalu jatuh menjadi air terjun setinggi 45 m. Bisa dibayangkan bagaimana bergemuruhnya suara air terjun itu. Pada saat air jatuh, butiran-butiran airnya ada yang melayang-layang ditiup angin, membentuk halimun, kabut yang tebal. Sangat beralasan, mengapa pada masa lalu, karuhun, leluhur kita menamai air terjun ini Curug Halimun.

Di kedalaman 230 m, seperti yang tersingkap di sempadan Ci Tarum, di jalan setapak menuju Curug Halimun, bila menggunakan panduan Peta Geologi Lembar Cianjur yang dipetakan oleh Sudjatmiko (cetakan tahun 2003), perjalanan ke Curug Halimun itu menembus lorong waktu antara 30 juta hingga 1,6 juta tahun yang lalu, sejak Cekungan Bandung masih tergenang laut dangkal dengan bunga karangnya yang mempesona, hingga masa letusan-letusan gunungapi bawah laut empat-tiga juta tahun yang lalu. Bukti-buktinya dapat disaksikan pada saat menuruni lereng yang curam, di sana terdapat bongkah-bongkah batukapur yang diselimuti breksi, material kasar dan bersudut dari letusan gunungapi.

Kawasan Curug Halimun di aliran Ci Tarum, dapat dijadikan laboratorium ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh para pelajar dan mahasiswa, serta para peminat ilmu-ilmu kebumian, melalui kegiatan wisata bumi atau geowisata.

T. Bachtiar
Anggota Riset Cekungan Bandung

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar