Kasus Covid-19 di Surabaya Bertambah 90 Orang, Waspadai Klaster Keluarga

  Rabu, 16 September 2020   Rizma Riyandi
Ilustrasi--Covid-19 (Shutterstock)

GENTENG, AYOSURABAYA.COM -- Kasus Covid-19 di Kota Surabaya terus bertambah. Berdasarkan data terbaru pada 15 September 2020, Kasus Covid-19 di Kota Surabaya bertambah sebanyak 90 kasus. Di sisi lain ada penambahan pasien sembuh sebanyak 90 orang.

Berdasarkan data pada lawancovid-19.surabaya.go.id, total kasus Corona di Surabaya saat ini telah mencapai angka 13.208 kasus.

Rincian dari total kasus ini adalah 1.300 pasien sedang menjalani masa perawatan, 10.920 pasien dinyatakan sembuh, sedangkan 994 pasien meninggal dunia. Saat ini Kota Surabaya masih tercatat sebagai daerah dengan total kasus Virus Corona tertinggi di Jatim.

Klaster Keluarga Perlu Diwaspadai

Bahkan, saat ini Covid-19 bisa berasal dari klaster keluarga. Kemunculan klaster ini menunjukkan Covid-19 telah masuk ke satuan-satuan unit terkecil dalam masyarakat. Epidemiolog Universitas Gadjah Mada, Bayu Satria Wiratama, mengatakan bahwa klaster ini terjadi saat ada anggota keluarga terinfeksi dari luar rumah dan menularkan anggota lain.

Salah satu peningkatan disebabkan tidak ada pembatasan mobilitas penduduk. Orang-orang banyak melakukan mobilitas, baik ke dalam atau ke luar daerah, sehingga meningkatkan risiko mereka terpapar Covid-19. Hal ini diperparah dengan semakin banyaknya pasien positif Covid-19 asimptomatik (orang tanpa gejala) yang jumlahnya pun tidak diketahui.

"Lalu, mereka yang melakukan mobilitas tidak melakukan isolasi mandiri 14 hari selain jika diwajibkan," kata Bayu seperti dikutip dari Republika.co.id, Sabtu (12/9/2020).

AYO BACA : COVID-19 KLASTER KELUARGA: Ketahui Bahaya dan Cara Penularannya

Bayu menyebut, saat ini masih banyak masyarakat yang belum secara disiplin melaksanakan protokol kesehatan. Padahal, protokolnya sederhana, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan menjaga kebersihan. Kondisi ini diperburuk dengan tidak adanya pembatasan kegiatan di tingkat RT/RW.

Aktivitas warga yang tidak dibatasi, menurut Bayu, menjadikan klaster keluarga semakin masif. Bayu mengingatkan agar kegiatan berkumpul warga, seperti arisan, mengunjungi rumah tetangga, dan rapat warga tak dilakukan. Di samping itu, ia menyerukan agar warga tak membiarkan anak-anak bermain bersama di lingkungan perumahan tanpa pengawasan dan kurang memperhatikan protokol.

Melakukan liburan atau jalan-jalan di keramaian juga berpotensi membawa virus ketika kembali ke rumah. Bayu mengingatkan, saat aktivitas tidak memperhatikan protokol kesehatan, maka risiko penyebaran akan meningkat.

"Sebaliknya, kalau warga rajin soal masker, jaga jarak, cuci tangan, bisa menurunkan resiko terpapar dan menularkan Covid-19," ujar Bayu.

Untuk itu, Bayu menekankan pentingnya melaksanakan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itulah yang dapat memutus mata rantai penyebaran virus corona tipe baru penyebab Covid-19. "Terapkan protokol kesehatan dengan disiplin, di manapun dan dengan siapapun," kata Bayu.

Klaster Keluarga Sangat Berbahaya

Sementara itu, Sekjen Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia-PDP Erlang Samoedro menjelaskan klaster ini sebenarnya membahayakan.

AYO BACA : Cegah Covid-19, Risma Tegur Warga yang Masih Nongkrong Tengah Malam

"Yang membahayakan adalah kita membawa virus ke dalam rumah dan di situ ada kelompok rentan di dalam keluarga seperti orang tua, anak-anak, bayi, dan balita," ujarnya saat mengisi konferensi virtual BNPB bertema "Cluster Keluarga dan Cara Menanganinya", Senin (7/9/2020) lalu.

Erlang mengatakan kasus klaster keluarga biasanya dibawa anggota keluarga yang bepergian dari luar rumah. Ia menambahkan, klaster keluarga di Indonesia muncul lantaran saat ini masyarakat beraktivitas normal dan beraktivitas di luar.

Misalnya, bapak dan ibu yang bekerja atau beraktivitas di luar dan terinfeksi kemudian pulang ke rumah dan mengakibatkan transmisi menularkan virus ini ke dalam keluarga. Selain itu, dia melanjutkan, anak-anak yang main di sekitar lingkungan rumahnya juga bisa menjadi carrier membawa virus dan menulari yang lain.

Namun, dia melanjutkan, orang-orang yang terinfeksi virus ini sering tidak menyadarinya karena gejala yang dirasakan ringan dan akhirnya dianggap biasa.

"Seringkali gejala yang dialami seperti demam lumayan tinggi, batuk, pilek, hingga diare," katanya.

Karena itu, ia berharap, orang yang mengalami gejala-gejala tersebut, khususnya jika memiliki riwayat kontak dengan penderita virus ini, atau sehabis bepergian agar memeriksakan diri dengan metode polymerase chain reaction (PCR) atau swab. Ia menambahkan, pemeriksaan ini untuk memastikan apakah seseorang terknfeksi Covid-19.

Analis dan Penulis @pandemictalks Firdza Radiany mengatakan klaster keluarga ini muncul di Jabodetabek seperti 155 klaster keluarga di Bekasi, dan 48 klaster keluarga di Bogor. Selain itu, ada pula sembila klaster keluarga di Yogyakarta, delapan klaster keluarga di Semarang, dan 10 klaster keluarga di Malang.

Firdza mengingatkan warga sebaiknya mulai memahami bahwa klaster keluarga ini berbahaya. Untuk meminimalisasi penularan, langkah yang dilakukan di antaranya anggota keluarga yang bekerja di luar rumah sebaiknya mengurangi interaksi dengan anggota keluarga yang ada di rumah dan bisa menjaga jarak sosial ketika masuk ke rumah.

AYO BACA : PILKADA SURABAYA: Machfud Arifin Akui Positif Covid-19, Begini Ceritanya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar