Cegah Covid-19 dengan Konsumsi Temulawak! Perhatikan Khasiat dan Cara Mengolahnya

  Jumat, 25 September 2020   Rizma Riyandi
Temulawak (Pixabay)

GENTENG, AYOSURABAYA.COM -- Pandemi membuat semua orang berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak terjangkit Covid-19. Selain dengan olahraga, banyak orang mengonsumsi makanan tertentu untuk menjaga imunitas, salah satunya temulawak.

Dikutip dari Buku Saku Bahan Pangan Potensialuntuk Anti Virus dan Imun Booster dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Kementerian Perntaian, temulawak atau Curcuma xanthorriza merupakan tanaman obat asli Indonesia sejenis temu-temuan yang banyak digunakan dalam industri obat sebagai bahan pembuatan jamu, obat herbal terstandar dan obat fitofarmaka.

Pada tahun 2004, pemerintah melalui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mencanangkan Gerakan Nasional Minum Temulawak sebagai minuman kesehatan. Gerakan ini didasarkan pada hasil survei yang menyebutkan bahwa temulawak memiliki khasiat dapat menyembuhkan 24 jenis penyakit. Temulawak merupakan salah satu dari 10 jenis tanaman obat yang paling banyak digunakan dalam ramuan jamu.

Komponen dan Khasiat

AYO BACA : Isu Covid-19 Machfud Arifin Tak Pengaruhi Sikap Pemilih Pilkada Surabaya 2020

Khasiat temulawak antara lain sebagai penambah nafsu makan, pereda nyeri lambung, obat sariawan, memperbanyak produksi  Air Susu Ibu (ASI), mengobati gangguan saat haid dan nifas, serta membersihkan wajah dari bakteri penyebab jerawat. Selain memiliki khasiat sebagai obat, temulawak juga  digunakan dalam produk pangan dan kosmetik. Dalam pengobatan modern, temulawak memiliki manfaat sebagai antihepatitis, antikarsinogenik, antimikroba, antioksidan, antihiperlipidemia, antiviral, antiinflamasi, dan detoksifikasi.

Senyawa bioaktif utama yang berkontribusi terhadap manfaat temulawak adalah senyawa kurkumin, yang juga ditemui pada kunyit dan jahe dan temu-temuan lain. Senyawa ini  memberikan karakter warna kuning pada temulawak dan kunyit. Tepung temulawak mengandung kurkumin antara 3–6%, sedangkan ekstrak temulawak memiliki  kadar  kurkumin  30-  60%, sangat  dipengaruhi  oleh  proses ekstraksi dan pelarut yang digunakan untuk  mengekstrak.  

Komponen bioaktif  lainnya  dari  temulawak adalah xanthorrizol, memiliki aktivitas terhadap bakteri dan fungi patogen. Xanthorrizol  juga  berfungsi  untuk penyembuhan penyakit liver karena memiliki  aktivitas  hepatoprotektor dan  mengurangi  gejala  hati mengandung banyak lemak. Hasil  uji in  vitro  terhadap kurkumin  dari  beberapa  genus Curcuma  termasuk  temulawak menunjukkan aktivitas kuat sebagai senyawa  antiviral  terhadap  virus penyebab hepatitis C (HVC).

Kurkumin memberikan interaksi yang kuat  antara  kurkumin  terhadap reseptor 4GAG, sebuah protein yang terlibat dalam infeksi virus hepatitis C, juga  memiliki interaksi yang baik dengan reseptor protein lainnya, yang memainkan peran penting dalam replikasi HCV. Terkait penanganan Covid-19, penggunaan  kurkumin baik secara tunggal maupun gabungannya bisa membantu dalam meningkatkan daya tahan tubuh sebagai imunomodulator. Hasil penelitian telah  membuktikan bahwa ekstrak etanol temulawak  mampu meningkatkan sistem imun  dengan memicu proliferasi sel.

AYO BACA : Duh! Persela Ditaklukan Madura United di Kandang Sendiri

Pembuatan Produk

Penggunaan rimpang temulawak terbanyak pada produk minuman fungsional, sejenis  jamu atau minuman herbal lain, yaitu dalam bentuk rimpang segar dan simplisia kering atau bentuk serbuk temulawak. Ekstrak dan serbuk temulawak juga banyak ditambahkan pada produk olahan pangan seperti susu dan minuman lain.Senyawa  kurkumin  sebagai komponen bioaktif memiliki kelarutan yang  rendah  dalam  air, sehingga  aplikasinya dalam terapi menjadi terbatas.

Kurkumin juga memiliki pH asam  dan  sifat  fisiologis  serta bioavaibilitas  rendah. Salah satu upaya mengatasinya adalah dengan mengolah dalam bentuk  emulsi diantaranya dengan pengecilan ukuran menjadi berukuran nano, dengan  menambahkan surfaktan. Hasil penelitian BB Pascapanen menunjukkan, nanoemulsi  ekstrak temulawak (5-10%  ekstrak temulawak) yang dihasilkan dengan proses  emulsifkasi high energy(50–100 bar) memiliki karakteristik ukuran droplet emulsi 150–220 nm dengan aktivitas antioksidan IC50 900–1200 ppm.

Hal ini menunjukkan bahwa nanoemulsi ekstrak temulawak memiliki aktivitas antioksidan yang lebih baik daripada ekstrak temulawak pada konsentrasi yang disetarakan. Bentuk nanoemulsi akan mengatasi kekurangan minuman fungsional  selama ini, seperti terjadinya penggumpalan, pengendapan, pemisahan  dan ketidakstabilan fisik yang lain.

Dosis dan Efek Samping

Beberapa produk suplemen kesehatan  menyajikan  kurkumin 150–250 mg  dalam bentuk tepung temulawak. Dosis harian yang diizinkan untuk kurkumin  dalam bentuk ekstrak adalah 500–2000 mg. WHO telah  menetapkan ADI (Acceptable Daily Intake) untuk kurkumin sebesar 0-3 mg/ kg berat badan, dan FDA telah  menyatakan keamanan kurkumin. Toleransi dan keamanan kurkumin telah ditunjukkan berdasarkan uji klinis, yaitu dosis antara 4000 dan 8000 mg/hari dan dosis  hingga 12.000 mg/hari dengan konsentrasi 95% dari tiga kurkuminoid yaitu  kurkumin, bisdemeoksikurkumin, dan desmetoksikurkumin.

Konsumsi kurkumin secara berlebihan dalam jangka waktu lama tidak dianjurkan   karena mempertimbangkan beberapa efek samping. Kurkumin dapat berfungsi sebagai pengencer darah sehingga sangat tidak dianjurkan bagi orang yang  akan  melakukan tindakan pembedahan. Kemampuan kurkumin sebagai antidiabet akan memberikan efek penurunan gula darah secara drastis. Kurkumin dalam  temulawak  memiliki kemampuan menghambat absorpsi zat besi sehingga sebaiknya penderita  defisiensi zat besi menghindari konsumsi temulawak.

AYO BACA : Informasi Layanan SIM Keliling Kota Surabaya, Simak Persyaratannya!

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar