Cacar ke Tatar Sunda

  Selasa, 29 September 2020   Adi Ginanjar Maulana
Cacar ke Tatar Sunda

AYOSURABAYA.COM--Pada 8 Mei 1980, selama Rapat Pleno Kedelapan dari Majelis Kesehatan Dunia ke-33 ada perayaan deklarasi secara global mengenai pemberantasan cacar (Resolution WHA 33.3). 

Ini adalah rangkaian akhir dari upaya berskala dunia bagi penyakit yang sering menjangkit itu. Sebelumnya pada 1979, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara formal mengumumkan telah terberantasnya cacar di tingkat dunia.

Dua tahun sebelumnya, pada 1977, tercatat adanya kasus cacar alami yang terakhir. Sementara belasan tahun sebelumnya lagi sudah diumumkan pada 1959, WHO mengumumkan secara resmi untuk kali pertama bahwa cacar sudah terberantas.

Rangkaian fakta di atas saya baca dari kronologi yang terdapat dalam buku Hervé Bazin (2000), The Eradication of Smallpox: Edward Jenner and the First and only Eradication of a Human Infectious Disease. Fakta-fakta tersebut sekaligus mengenyahkan ancaman serius dari penyakit yang sering menjangkit itu.

Penulis yang sama menyatakan bahwa “Barangkali cacar merupakan penyakit yang paling mengancam leluhur kita, karena menjadi lazim terjadi di Eropa selama abad ke-18 dan ke-19 dan telah menewaskan paling tidak sepersepuluh populasi orang selama waktu yang lama” (2000: xix).

Pada awal bukunya, The Life and Death of Smallpox (2005: 1), Ian Glynn dan Jenifer Glynn menulis bahwa “Saat berumur sebelas tahun Mozart mengigau karena cacar, dan untungnya dia selamat karena hanya mendapatkan bekas-bekasnya saja; di Inggris pada tahun 1700 penyakit tersebut menewaskan anak laki-laki Ratu Anne yang berumur sebelas tahun, sehingga mengakhiri garis wangsa Stuart.

Abad ke-18 menjadi abad mengerikan karena cacar tersebar di seluruh dunia, dari keluarga kerajaan Austria, Spanyol dan Prancis hingga ke masyarakat terisolir Islandia dan Greenland, dari yang telah lama dikenal sebagai pusat-pusat penyakit cacar di Tiongkok dan India hingga ke daerah-daerah koloni baru di Dunia Baru. Kota-kota yang bertumbuhan khususnya mengalami kerentanan – kebanyakan anak-anak yang lahir pada abad ke-18 di London telah terserang cacar sebelum mereka berumur tujuh tahun, dan lebih dari 6.000 orang meninggal selama wabah cacar di Roma antara 1746 dan 1754”.

Namun, sebagai penyakit, cacar telah lama sekali dikenali. Konon, dalam sejarahnya, secara global, cacar sudah muncul pada zaman Sebelum Masehi: dari zaman Mesir Kuno pada 3000 tahun Sebelum Masehi dan India pada 2000 tahun Sebelum Masehi.

Yang jelas disebut-sebut berasal dari “timur” (Bazin, 2000: 3; Glynn & Glynn, 2005: 7-8; Gareth Williams, Angel of Death: The Story of Smallpox, 2010: 3-4,). Selama milenium pertama, cacar telah tersebar di seantero Eropa, Timur Tengah, Afrika Utara dan Barat, yang dibawa melalui invasi, perniagaan, perang agama. Hingga tahun 1000, daerah yang belum terdampak cacar antara lain Rusia, Skandinavia, Islandia, seluruh benua Amerika. Namun, beberapa abad kemudian semuanya terjangkit (Williams, 2010: 6).

Namun, klaim cacar sudah muncul sejak ribuan tahun yang lalu itu mendapatkan tantangan. Menurut beberapa penulis, kepercayaan ini tidak hanya bersandar pada catatan sejarah, tetapi juga bersandar kepada tafsir meragukan pada teks kesehatan kuno dari Tiongkok dan India serta didukung oleh kajian mengenai mumi Mesir Kuno (Glynn & Glynn, 2005: 11).

Sementara menurut S.L Kotar dan J.E Gessler (Smallpox: A History, 2013: 5), berdasarkan rumusan WHO, manusia awal terkena cacar dari binatang pengerat dan virusnya kemudian bermutasi menjadi variola, yang hanya menginfeksi manusia; atau terdampak proto-variola yang menjadi mutan dan berubah menjadi penyakit.

Pada skenario pertama, semua Orthopoxvirus yang ada mempunyai pola genome berbeda dari variola, sehingga yang kini dikenal sebagai variola tetap tidak berubah selama 3000 tahun. Skenario kedua, bukti keberadaan proto-virus tidak pernah ditemukan, sehingga hipotesisnya dapat dikatakan gugur. Yang jelas, deskripsi cacar belum muncul hingga abad ke 4 Masehi di Tiongkok, abad ke-7 di India dan Mediterania, dan abad ke-10 di Asia Barat Daya.

Yang jelas, orang pertama yang membuat deskripsi lengkap ihwal cacar adalah Rhazes (865–925). Pada 910, dia menulis Risalah tentang Cacar dan Cacar Air (Williams, 2010: 6, Bazin, 2000: 4).

Upaya paling berhasil untuk menaklukkan cacar adalah vaksinasi dan revaksinasi yang dirintis Edward Jenner, pada akhir abad ke-18 (Glynn & Glynn, 2005: 5). Saat itu, sekitar sepertiga kasus kebutaan di Eropa disebabkan oleh cacar dan dalam setahun kematian akibat penyakit ini mencapai 400.000 orang, kecuali di Rusia (Glynn & Glynn, 2005: 4). Menurut Bazin (2000: xiv), bahkan hingga akhir abad ke-19, virus penyebab cacar masih merupakan penyakit menular yang menakutkan dan mematikan.

Indonesia menurut Boomgaard (“Smallpox, Vaccination, and the Pax Neerlandica, Indonesia, 1550-1930”, 2003: 593, 609) dilanda cacar sebelum kedatangan orang Eropa, khususnya Portugis, pada abad ke-16. Demikian pula menurut Glynn & Glynn (2005: 86) yang menyatakan kemungkinan cacar mulai masuk ke Nusantara dari Tiongkok sebelum Portugis tiba, tetapi tanpa tradisi inokulasi Tionghoa.

Orang Portugis di Hindia Timur, Spanyol di Filipina; dan orang Portugis, Belanda serta Inggris di India dan Srilanka telah mendapati cacar di tempat-tempat tersebut sebelum mereka tiba (Glynn & Glynn, 2005: 36-37). Namun, menurut Boomgaard (2003: 609), orang Eropa bisa jadi yang mempercepat penyebaran cacar ke Nusantara melalui kegiatan perniagaan antarpulau. Salah satu sumber pembawanya adalah para budak yang diperjualbelikan di Asia Selatan dan Tenggara yang kemudian diadopsi pula oleh orang Eropa.

Selanjutnya menurut Boomgaard (2003: 591-592), catatan tertua Eropa menyebutkan bahwa cacar telah menyerang Ternate di Maluku Utara pada 1558 dan Ambon di Maluku Tengah pada 1564. Ke Filipina tiba pada 1574 dan 1591.

Sementara orang Belanda pertama kali mencatatnya di Indonesia pada 1618. Untuk abad ke-17, Boomgaard (2003: 594) menghitung kemungkinan ada 12 kali wabah cacar yang menjangkiti bagian Nusantara. Kejadian pertama terjadi pada 1613. Sementara pada abad ke-18, ada 13 kali wabah. Pada abad ke-17 umumnya terjadi di Jawa dan Maluku (Utara dan Tengah), serta Sunda Kecil dan Malaysia. Setelah tahun 1700, bertambah dengan Kalimantan dan Sumatra, selain yang sudah disebutkan di atas.

Pada abad ke-19, wabah cacar sudah menjadi endemik di Pulau Jawa sejak 1820-an (Boomgaard, 2003: 597). Sementara perkiraan kematian akibat wabah ini di Indonesia sebelum ada vaksinasi pada awal abad ke-19 adalah 50 per 1000 orang dan kematian per tahunnya adalah 10 orang per 1000, sehingga bisa disebutkan sejumlah 20% dari semua kematian penduduk di Indonesia disebabkan oleh cacar. Sementara di Eropa pada abad ke-17 dan ke-18, jumlah kematian tersebut tidak mencapai lebih dari 10% semua kematian penduduk (Boomgaard, 2003: 600).

Dengan demikian, wabah cacar sudah hadir di Pulau Jawa sejak abad ke-17 hingga menjadi endemik sekitar tahun 1820-an. Dengan demikian pula, Tatar Sunda sebagai bagian dari Pulau Jawa merupakan daerah yang terpapar cacar sejak awal.

Pada kesempatan-kesempatan mendatang, saya akan berupaya menuliskan sejarah, perkembangan dan penanganan wabah cacar di tanah air, terutama di Tatar Sunda. Termasuk di antaranya tanggapan dan pengalaman orang Sunda saat berhadapan dengan wabah cacar, sebagaimana yang dapat dilacak dari buku-buku berbahasa Sunda, sejak abad ke-19.

Atep Kurnia

Peminat literasi dan budaya Sunda.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar