Cegah Covid-19 dengan Eukaliptus! Perhatikan Khasiat dan Cara Mengolahnya

  Rabu, 07 Oktober 2020   Rizma Riyandi
Eukaliptus (Pixabay)

GENTENG, AYOSURABAYA.COM -- Salah satu upaya agar terhindar dari Corona adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Saat ini banyak masyarakat mengonsumsi atau menggunakan berbagai jenis vitamin atau asupan tertentu untuk meningkatkan imunitas tubuh. Tapi pernahkah Anda mencoba menggunakan eukaliptus untuk menjaga imunitas?

Dikutip dari Buku Saku Bahan Pangan Potensialuntuk Anti Virus dan Imun Booster dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Kementerian Pertanian, Tanaman eukaliptus merupakan salah satu tanaman penghasil atsiri yang banyak digunakan dalam formulasi produk farmasi. Tanaman ini berasal dari Australia, namun beberapa spesies juga dapat ditemukan di Philipina, Papua Nugini dan Indonesia Timur.

Genus Eucalyptus memiliki sekitar 900 spesies namun kira-kira hanya 300 spesies yang menghasilkan minyak atsiri. Eucalyptus spp.merupakan tanaman hutan pokok dengan beberapa varetas yang banyak ditanam antara lain E. grandis, E. urophylla, E. camaldulensis, E. wetarensis, E. pellita, E. dunii, E. globulus, E. simithii, E. cloeziana, E. maidenii, E. salina dan E. benthamii, E. citriodora. Minyak eukaliptus sering diartikan sebagai minyak kayu putih oleh masyarakat.  

Secara taksonomi, eukaliptus berbeda dengan kayu putih. Eukaliptus termasuk dalam genus Eucalyptus, sedangkan kayu putih termasuk dalam genus Melaleuca. Namun demikian, kedua genus tersebut berasal dari family yang sama, yaitu Myrtaceae. Secara tradisional, minyak eukaliptus telah dimanfaatkan di berbagai belahan dunia untuk mengatasi masalah saluran pernapasan seperti bronchitis, sinusitisdan pharyngitis. Berbagai studi telah dilakukan untuk mengeksplorasi aktivitas minyak atsiri ini sebagai anti-bakteri, anti-jamur dan anti-virus dengan hasil yang beragam tergantung spesies Eucalyptusyang digunakan.

Komponen dan Manfaat

AYO BACA : Pejabat Dinas Pariwisata Sumenep Berzina dengan Seorang Bidan, Keduanya Dapat Hukuman Ini

Senyawa utama minyak eukaliptus bervariasi tergantung jenis spesiesnya. Beberapa studi menyebutkan, bahwa komponen utama minyak eukaliptus berupa 1,8-cineole (eucalyptol), cryptone, α-pinene, p-cymene dan α-terpineol yang terdapat dalam  jumlah lebih dari 10%. Komponen lain seperti phellandaral, cuminal, globulol, limonene, dan aromadendrene  terdapat  dalam jumlah kurang dari 10%.

Eucalyptolmerupakan senyawa aktif eukaliptus yang  penting, yang  banyak dimanfaatkan oleh industri farmasi. Senyawa 1,8-cineole  tidak  selalu terdapat dalam jumlah yang tinggi. Beberapa jenis eukaliptus memiliki kandungan 1,8-cineole yang rendah seperti E. citriodora dan E. odorata. Aktivitas minyak eukaliptus sebagai antibakteri dan anti-jamur telah banyak dilaporkan  dalam literatur. E. odorata dan E. maideniidilaporkan memiliki aktivitas antibakteri yang cukup kuat terhadap H. influenzae, K. pneumoniae, P. aeruginosa, S. aureus, S. agalactiae, S. pneumoniae, dan S. pyogenes. Aktivitas antibakteri  tersebut berhubungan dengan komponen penyusun minyak atsirinya, terutama golongan hidrokarbon monoterpen p-cymene.

Selain itu, aktivitas antibakteri juga berhubungan dengan kadar 1,8-cineole yang  rendah dan monoterpene (p-cymene), keton (cryptone) dan aldehida (phellandraldan cuminal) dalam jumlah sedang. Aktivitas  antijamur eukaliptus  juga tergolong tinggi, diantaranya mampu menekan menghambat pertumbuhan Trichophyton rubrum, Trichophyton soudanense,  Microsporum canis, Scopulariopsis brevicaulis danCandida albicans. Aktivitas antijamur tidak berhubungan dengan komponen minyak atsiri yang terdapat dalam jumlah yang  besar, namun lebih terkait dengan sinergisme antara komponen major dan komponen minor.

Berbagai penelitian baik in vitro maupun in vivo telah dilakukan terkait manfaat ekstrak dan minyak eukaliptus sebagai antivirus terhadap influenza tipe A, herpes simplex tipe 1 dan 2 serta hepatitis C. Aktivitas antivirus ini tidak terkait dengan komponen major minyak atsiri tertentu, tetapi lebih berhubungan dengan sinergisme komponen major dan minor dan bergantung pada dosis yang  diberikan. Penelitian terhadap berbagai tipe virus Corona juga telah dilakukan di Indonesia, India, Cina, Brazil dan sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa komponen minyak eukaliptus secara sinergis berfungsi sebagai antivirus ataupun untuk meringankan gejala Covid-19.

Pembuatan Produk

AYO BACA : 5 Juta Buruh Ancam Mogok Kerja 6-8 Oktober

Minyak eukaliptus diperoleh dengan cara menyuling daun tanaman eukaliptus. Ranting dan kulit kayu tanaman eukaliptus juga memiliki  kandungan minyak  atsiri, namun kandungan tertinggi terdapat pada  daun. Penyulingan  pada umumnya dilakukan dengan teknik penyulingan uap dimana bahan tidak kontak langsung dengan air,  tetapi kontak  dengan  uap.  

Minyak yang dihasilkan berwarna bening dengan variasi kehijauan dan dapat langsung digunakan sebagai obat oles. Selain dalam bentuk minyak oles, produk eukaliptus juga banyak ditemukan dalam bentuk balsam, inhaler, roll-on, lotion, dan bahan aromaterapi. Produk Eukaliptus  tidak hanya digunakan dalam bidang farmasi, tetapi juga dalam formulasi produk kosmetika, parfum dan fragrance.

Dosis dan Efek Samping

Sebuah studi menyebutkan aktivitas  antivirus E. polybracteadalam bentuk uap maupun aerosol. Minyak atsiri yang mengandung lebih dari  70%  cineole (eucalyptol) ini mampu menginaktivasi virus influenza.  Nebulasi  minyak E. polybractea selama 15 detik mampu menginaktivasi  virus  hingga  99% setelah  kontak  selama  15  menit. Dalam bentuk uap (vapour), minyak E. polybractea dapat menginaktivasi virus 86% setelah kontak selama 1 hari.  

Sitotoksisitas minyak Eukaliptus juga berhugungan dengan komposisi  senyawa penyusunnya. Eukaliptus dengan sitotoksisitas yang rendah berhubungan dengan kadar 1,8-cineole  yang  tinggi  dan kandungan α-pinene dan limonene yang sedang seperti terdapat pada E. maidenii,  E.  sideroxylon dan E. cinirea. Minyak Eukaliptus dengan sitotoksisitas yang tinggi ditemukan pada  spesies E. lahmanii dan E. astringents  yang memiliki kadar α-pinene yang  tinggi dan 1,8-cineoleyang sedang.

Eucalyptol, senyawa yang banyak terdapat dalam minyak eukaliptus,  termasuk ke dalam golongan pangan GRASS (generally recognize as safe) dan telah diijinkan oleh  FDA untuk digunakan sebagai pangan. Sebagai  contoh,  dalam bentuk tablet hisap, Eucalyptol aman dikonsumsi sebanyak 0,2–15 mg setiap 30–60 menit, atau setiap 2 jam pada konsentrasi 1–30 mg Eucalyptol.

AYO BACA : Cegah Covid-19 dengan Konsumsi Kunyit! Perhatikan Khasiat dan Cara Mengolahnya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar