Wartawan Tempo Dulu: Kartu Pers dan Lencana Pers

  Rabu, 07 Oktober 2020   Rahim Asyik
Kartu pers wartawan tempo dulu. (Repro dari buku ”Mohamad Koerdie: Karya dan Pengabdiannya” karya Suradi Hp, 1989).

AYOSURABAYA.COM--Apa beda wartawan tempo dulu dan saat ini? Tak banyak tulisan tentang itu di Google. Tulisan yang ada pun kebanyakan memaksudkan dulu itu bukan dulu-dulu amat, melainkan antara tahun 1980-1990-an.

Perbedaan yang disampaikan pun umumnya berkaitan dengan perkembangan teknologi atau infrastrukturnya. Misalnya kalau dulu menulis berita harus memakai mesin tik, sulit menjangkau lokasi liputan lantaran kendaraan terbatas, dan wajib cuci cetak foto dulu sebelum ke kantor.

Sekarang bisa menulis, memotret, dan mengambil videonya sekaligus mengirimkannya dengan menggunakan telefon genggam. Transportasi juga saat ini rasanya tak terlalu jadi kendala.

Ada juga yang menganggap etos kerja wartawan dulu lebih baik dari sekarang dan menilai intimidasi, ancaman, dan teror zaman dulu lebih menyeramkan. Selain itu terjadi saling bersaing dalam mendapatkan berita eksklusif.

Ada kepuasan tersendiri manakala berita eksklusif yang ditulis si wartawan dulu menyebabkan reporter lain di media saingannya didamprat pemimpin redaksinya lantaran kecolongan berita.

Tulisan berikut ini akan membicarakan perbedaan yang lain lagi dengan perbandingan masa yang jauh lebih lampau, yakni sekarang dengan awal abad ke-20 atau pada masa penjajahan Belanda. Khususnya perbedaan dari sisi kartu pers (preskaart) dan lencana pers (prespenning atau press-insigne).

Keterangan mengenai kartu pers dan lencana pers termuat dalam tulisan Saeroen dalam buku Dibelakang Lajar Journalistiek Indonesia (Batavia-Centrum: Drukkerij Olt & Co, 1936). Saeroen adalah wartawan terkenal pada masanya.

Dia pernah menjadi pemimpin redaksi di koran Pemandangan. Buku lain yang ditulis Saeroen di antaranya Tjita-tjita jang Tergoda, Berdiri Dipinggir Jalan, dan Maskawin Paling Tinggi. Belakangan Saeroen menulis skenario film yang laris di pasaran. 

Kartu Pers dan Lencana Pers

Wartawan saat ini tampaknya tak mengenal apa yang disebut dengan lencana pers berikut pemanfaatannya. Namun umumnya tahu apa yang dinamakan kartu pers. Salah satu kartu pers dikeluarkan oleh organisasi profesi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk anggotanya.

Untuk mendapatkan kartu ini, wartawan harus mengisi formulir pendaftaran, membuat surat pernyataan pribadi dilengkapi dengan surat pernyataan dari pemimpin redaksi tempat wartawan tersebut berkhidmat. Sejumlah media mengeluarkan kartu pers sendiri untuk wartawannya.

Dengan demikian, seorang wartawan bisa mengantongi 4 kartu: kartu pers dari media, kartu pegawai dari media, kartu pers PWI, dan kartu kompetensi dari Dewan Pers.

Pada zama dulu, kartu pers dikeluarkan oleh media, ditandatangani pemimpin redaksi dan diotorisasi oleh Politieke Inlichtingen Dienst, badan keamanan penting Belanda yang salah satu tugasnya memang mengontrol pers. Dengan kartu itu, kata Saeroen, ”orang lebih gampang bisa dapat keterangan tentang kedjadian-kedjadian dari jang wadjib.”

Namun pada praktiknya, pemegang kartu pers juga banyak yang belum tahu kegunaannya. Sebagian wartawan malah menggunakannya untuk pamer kepada teman atau tetangganya.

Sebagian lainnya untuk mendapat keuntungan pribadi, misalnya untuk masuk bioskop atau nonton sepak bola secara gratis. Secara resmi, tulis Saeroen, kartu pers itu tidak ada artinya. ”Perskaart hanjalah pengakoean hoofdredacteur pada pembantoenja jang sebenarnja diloear apa jang ditetapkan dalam oendang-oendang.”

Tak sedikit pejabat yang menolak mengotorisasi pengajuan kartu pers itu. Tak sedikit juga wartawan yang sudah menunjukkan kartu persnya ditolak masuk ke dalam bioskop atau stadion. Mungkin karena jumlah wartawan lumayan banyak.

Tahun 1930-an, ada sekitar 320 wartawan yang memegang kartu pers dan lencana pers di Jakarta saja. Untuk acara-acara tertentu, wartawan tetap harus mengantongi surat undangan resmi dari penyelenggara.

Menurut Saeroen, tanda yang sah untuk wartawan tempo dulu adalah perspenning atau aslinya pers-insigne alias lencana pers, bukan kartu pers. Bentuknya seperti apa? Disebutkan bentuknya seperti medali sebesar ”oewang ringgitan”.

Dalam lencana pers ini tertera foto pemegang, keterangan pemimpin redaksi, dan disahkan oleh Hoofd van Plaatselijk Bestuur. Khusus di Jakarta, pengesahan dilakukan oleh Hoofd Commissaris van Politie.

Lencana pers ini punya landasan hukumnya, yakni Bijblad No. 6304 tanggal 22 Juli 1905. Lengkapnya, bunyinya sebagai berikut:

  1. Kepala-kepala Negeri ada berhak memberi idzin kepada anggota tetap dari Redactie soerat soerat-kabar jang terbit di Hindia Belanda dan wakil-wakilnja jang dikoeasakan oleh itoe soerat-soerat-kabar atau soerat-kabar jang terbit di lain tempat dan persbureau loear negeri, oentoek memakai pers-insigne, asal sadja:
  1. bahwa perminta’an idzin itoe dimadjoekan kepada Kepala Negeri dimana itoe Journalist atau Correspondent tinggal;
  2. bahwa boeat Correspondenten soerat-kabar atau persbureau di loear negeri perminta’an idzin itoe dari redactienja, dan Bestuur Journalistenkring atas perminta’annja Kepala Negeri, sebanjak moengkin memberi keterangan tentang orang-orang itoe.
  3. bahwa model (bentoek) dari insigne itoe ditetapkan sendiri oleh Pers dan ongkosnjapoen dipikoel sendiri;
  4. bahwa bentoeknja bagi Journalisten di satoe tempat haroes sama dan satoe dari pada itoe haroes ditaroh pada kantoor Kepala Negeri jang memberikan idzin dipakainja itoe insigne;
  1. Dengan mengetjoealikan apa jang ditetapkan dalam punt 3, pemberian perspenning jang ditetapkan dalam sub 1 itoe bertalian dengan hak dan kewadjiban sebagi dibawah ini:
  1. mareka, jang berhak memakai pers-insigne itoe, pada waktoe ada kebakaran, pesta'an oemoem dan pengganggoean keamanan dan sebaginja, boleh dengan merdeka ada dalam lapangan di sitoe jang djikalau perloe didjaga oleh politic atau kekoeatan militair;
  2. kepada mareka pada waktoe kedjadian terseboet di atas, oleh ambtenaar jang berhak atau pembesar negeri dikasi keterangan jang diminta, ketjoeali djikalau ada keberatan jang lebih penting;
  3. pada mareka diidzinkan pada waktoe ada arak-arakan, peraja’an, toeroet ambil bagian, asal sadja pakai pakaian jang mirip dan goenakan kendara'an jang lajak;
  4. pada mareka seoemoemnja ditanggoeng akan dapat bantoean dari pembesar burger dan militair boeat kasi djalan (toegang) dan diberi keterangan-keterangan
  5. pers-insigne itoe meloeloe oentoek dirinja sendiri (streng persoonlijk) orang jang diberi hak, djadi hanja boleh dipakai oleh mareka jang dapat pemberian idzin memakainja;
  6. pers-insigne itoe haroes dipakai dengan keliatan;
  7. djikalau kenjata’an, bahwa orang telah goenakan pers-insigne boekan selajaknja (misbruik-maken), maka idzinkan itoe bakal boleh ditjaboet.
  1. Kepala-kepala Negeri dapat ambil atoeran menjimpang dari apa jang ditetapkan dalam sub 2 paragraaf, a, b, c dan d, djikalau keada’an daerah memaksakan perloenja berboeat begitoe. Sedapat-dapat akan dilakoekan dengan permoefakatannja wakil-wakil Pers di itoe tempat.
  2. Penjaboetan dari idzinan memakai pers-insigne itoe bisa terdjadi, selainnja menoeroet apa jang ditetapkan dalam sub-2- paragraaf g -djikalau Besttiur dari Journalisten- kring memadjoekan oesoel itoe dan Kepala Negeri jang bersangkoetan dapatkan alasan-alasan tjoekoep oentoek mengaboelkannja.

Biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh lencana pers semacam itu pada tahun 1930-an sebesar 13 Gulden. Perinciannya, untuk harga lencana persnya sendiri 10 Gulden ditambah 1,5 Gulden untuk surat pernyataan di atas segel dan 1,5 Gulden lagi untuk ”plakzegel dalam insigne”.

Ada yang Lebih Penting dari Kartu Pers atau Lencana Pers

Menarik bahwa Saeroen menerangkan bahwa ada yang lebih penting dari kartu dan lencana pers itu. Soalnya kartu dan lencana itu hanya alat untuk mendapatkan berita-berita yang biasa saja yang umumnya bisa diperoleh wartawan.

Untuk mendapatkan informasi yang lebih, tulis Saeroen, wartawan harus punya sopan santun, kecerdasan otak dan ketajaman otak yang dibarengi dengan banyak akal serta ”tabeat actief”. Terkadang justru berita bagus diperoleh dari sikap simpatik yang ditunjukkan oleh wartawannya.

Akhir kata, Saeroen menyimpulkan, bahwa kartu dan lencana pers itu ”kadang-kadang bergoena, ada faedahnja, tetapi keliroe djika orang sangat andelkan itoe sendjata. Tentang pemakainja hanja boeat laga-laga’an tentoe sadja boekan di tempatnja. Dasar-dasar dari journalist jang baik boekan ada didalam penning atau diatas kaart…. Dan diatas semoea ini, ada pada ketjerdasan otaknja. Boeat saja, djikalau saja haroes memilih: ’Kasihkanlah pada saja seorang anak moeda jang berboedi, actief dan sympathiek, sepoeloeh pemoeda berperspenning dan berkartoe boleh toean ambil…?!’”

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar