Polisi Surabaya Diminta Kembalikan Barang yang Dirampas dari Pedemo

  Rabu, 14 Oktober 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
[Ilustrasi] demo mahasiswa menolak UU Cipta Kerja (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM — Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya meminta polisi mengembalikan barang yang dirampas saat mengamankan demo UU Cipta pada pekan lalu.

Menurut Koordinator KontraS Surabaya Rahmat Faisal saat ini masih banyak massa aksi yang melaporkan barang-barangnya dirampas aparat kepolisian, yang hingga kini belum dikembalikan.

"Saya harapkan polisi memberikan informasi terkait keberadaan barang rampasan dan cara mengambilnya," ujar Rahmat di Kantor Kontras Surabaya, Rabu (14/10/2020).

Selain barang rampasan yang belum dikembalikan, Rahmat juga mengungkapkan, berbagai tindak kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian selama menangani dan mengawal unjuk rasa. Di mana ditemukan aparat kepolisian yang melakukan penangkapan secara sewenang-wenang kepada beberapa massa aksi yang baru akan melakukan aksi, massa aksi yang tidak terlibat dalam pengrusakan dan penyerangan, serta massa aksi yang tengah dirawat di posko medis.

Selain itu, menurutnya, aparat kepolisian juga melakukan tindak kekerasan kepada massa aksi yang menjadi relawan medis, massa aksi yang tidak bersenjata, dan massa aksi yang tidak melawan saat ditangkap. KontraS juga menemukan, aparat kepolisian yang melakukan penyerangan dan melakukan perusakan terhadap sekretariat PMKRI, yang digunakan untuk posko kesehatan selama aksi.

Ditemukan juga aparat kepolisian yang mengintimidasi dan mengancam masyarakat yang mengikuti aksi dan jurnalis yang berupaya melakukan pendokumentasian kerusuhan selama aksi. Hal itu dilakukan dengan cara merampas alat dokumentasi yang digunakan dan menghapus paksa hasil dokumentasi.

KontraS juga menemukan aparat kepolisian menghalangi akses informasi mengenai data pasti siapa saja dan berapa keseluruhan jumlah massa aksi yang ditangkap, termasuk status penahanannya. Sehingga tim advokasi mengalami kesusahan dalam melakukan bantuan hukum.

"Aparat kepolisian juga melakukan kekerasan dan tindakan tidak manusiawi kepada tersangka anak di bawah umur selama proses penangkapan," ujar Rahmat.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar