Cerita Warung Nasi Bu Eha di Bandung, Langganan Keluarga Soekarno

  Jumat, 16 Oktober 2020   Nur Khansa Ranawati
Bu Eha sedang menjaga warung nasinya.(Ayobandung.com/Nur Khansa)

BANDUNG, AYOSURABAYA.COM---Di pojok salah satu gang Pasar Cihapit, Kota Bandung, terdapat sebuah kios yang menjajakan aneka olahan masakan Sunda. Di depan kios tersebut berjajar deretan meja dan bangku untuk melayani pelanggan, sebagaimana warung makan pada umumnya.

Bentuk warungnya sederhana, dengan menu makanan dan disajikan dengan gaya prasmanan. Ada macam-macam olahan pepes, telur bumbu rendang, gepuk, tahu-tempe, ayam goreng, dan sebagainya. Di balik dapur, tiga orang pekerja tengah sibuk memasak, melayani perut pelanggan.

Namun, terdapat hal yang cukup mengundang rasa tanya di salah satu dindingnya. Di sana terpajang foto Presiden Soekarno, Ridwan Kamil, dan guntingan artikel koran yang isinya memuat kisah sang warung.

Di dalam rak kaca yang terletak dekat area kasir pun terdapat foto salah satu isteri Soekarno, Hartini, dibingkai kayu. Di sebelahnya terdapat foto anak bungsu Soekarno, Guruh Soekarnoputra bersama seorang wanita yang diketahui merupakan pemilik warung.

"Warung nasi ini sudah berdiri sejak 1947, dari jaman Agresi Militer Belanda pertama. Tapi tempat sebelah-sebelahnya belum jadi pasar, masih berupa lapangan," ungkap wanita tersebut, Eha, yang sehari-harinya rutin mengawasi dan menjaga kasir warung.

Ayobandung.com menayambangi Warung Nasi Bu Eha pada Jumat (16/10/2020) siang. Kala itu, suasana masih cukup sepi mengingat waktu berdekatan dengan ibadah Salat Jumat.

Meski sudah berusia 89 tahun, Eha nampak masih senang berbagi cerita dengan para pengunjung warungnya. Suaranya masih sangat lantang, bahkan sempat berteriak menegur anak-anak kecil yang ribut berlarian di sekitar lorong pasar.

Eha mengatakan, warung tersebut didirikan ibunya pada 1947. Kala itu, dirinya masih berada di Jogjakarta. Menu masakan yang dijual di warung kala itu tak jauh berbeda dengan yang dijual sekarang. Bedanya, terdapat sejumlah menu western yang digemari para warga Belanda.

"Dari dulu masakannya mirip seperti ini, tapi belum ada pais-pais (pepes). Adanya bistik, setup, dan sop. Masih ada orang Belanda yang makan," ungkapnya.

Wanita kelahiran 1931 tersebut baru tinggal di Kota Bandung setelah Belanda melancarkan Agresi Militer kedua pada akhir 1948 di Jogjakarta, tempatnya bermukim. Pada 1949, Eha mulai ikut mengurus warung.

Tahun demi tahun Eha lalui dengan berdagang masakan khas Sunda di warung tersebut. Perlahan sekitarnya mulai berubah menjadi pasar tradisional. Warung nasinya kala itu merupakan salah satu tempat makan andalan warga Kota Bandung; mulai dari mahasiswa hingga keluarga sejumlah tokoh negara.

"Dulu banyak mahasiswa yang makan di sini, tahun 1960-an sampai 1987. Kebanyakan mahasiswa-mahasiswa ITB, Unpad, ITT (sekarang STT Tekstil),Unpar. Kalau makan siang sering di sini. Bawa map, bawa ransel, pakai sendal jepit," tuturnya.

Anak sulung Soekarno dari Fatmawati, Guntur Soekarnoputra, adalah satu pelanggan mahasiswa yang kerap mengisi perut di warungnya. Guntur mengenyam bangku kuliah di ITB dan lulus pada 1966.

"Guruh dulu sering makan di sini dengan teman-temannya waktu kuliah," ungkapnya.

Bahkan, sang adik, Guruh Soekarnoputra pun sempat beberapa kali menyambangi warungnya. Eha menyebut Guruh menggemari sajian jengkol olahannya.

Selain kedua anak Soekarno tersebut, memori yang paling dikenang Eha tentang pelanggannya adalah sosok Hartini. Eha mengatakan selepas Soekarno meninggal dunia, istri Soekarno setelah Fatawati tersebut sempat tinggal di Jalan Anggrek dan kerap memesan makanan di warungnya.

"Kesukannya Bu Hartini itu otak sama udang, dia pasti pesan itu kalau ke sini," terang Eha. Ia juga menyebut bahwa anak-anak dari Ibrahim Adjie, Letjen TNI pempimpin pasukan Siliwangi, sering memesan makanan Sunda yang dijajakan di warungnya.

Di sela perbincangan, Eha beberapa kali sempat menayakan cerita soal pelanggan-pelanggannya tersebut kepada karyawannya. Para pekerja di warungnya kebayakan telah bekerja sejak lama dan sempat melayani keluarga petinggi-petinggi negara tersebut.

Salah satu yang paling diingat para karyawannya adalah masakan kesukaan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kami. Kang Emil, sapaan Ridwan Kami, disebut sudah menjadi pelanggan Warung Nasi Bu Eha sejak lama, termasuk ketika ia masih menjabat sebagai Wali Kota Bandung.

"Waktu masih jadi wali kota, Kang Emil suka ke sini kalau habis salat Jumat. Kesukaannya itu macam-macam pepes, peda dan nasi merah," ungkap Eha.

"Malah dia mah suka ngambil minum sendiri ke dapur. Sudah biasa makan di sini," jelasnya.

Saat ini, Eha mengakui warung nasinya tidak seramai dulu. Tidak banyak mahasiswa yang datang untuk santap siang di sini. Selama Ayobandung.com berada di warung tersebut, kebanyakan pelanggan yang datang adalah mereka yang berusia 40 tahun ke atas.

"Sudah jarang mahasiswa ke sini, sekarang sepi. Paling hanya 1/4 dari jumlah pengunjung waktu dulu. Walaupun langganan ibu dulu yang sekarang sudah kerja masih sering ke sini," ungkapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar