Manajemen Waktu dengan Experiental Learning

  Jumat, 30 Oktober 2020   Adi Ginanjar Maulana
Manajemen Waktu dengan Experiental Learning

AYOSURABAYA.COM--Salah satu masalah umum yang terjadi pada diri pelajar adalah kemampuan membagi waktu atau manajemen waktu mereka yang terkesan amburadul.

“Selain karena hasil need assessment siswa, manajemen waktu ini harus didapatkan siswa sedari awal masuk sekolah. Terutama masuk sekolah baru, biar mereka tidak tergagap-gagap dengan situasi yang serba baru,” kata Septya Muti Fadhila, guru BK SMAN 2 Sidoarjo.

Untuk itulah, Septya memberikan materi Manajemen Waktu kepada kelas X dalam layanan bimbingan klasikal. Saat pemberian layanan ini Septya menggunakan metode experiental learning. “Intinya guru BK dituntut mampu mengimplementasikan metode yang biasa guru mapel lakukan agar lebih inovatif jadi tidak hanya metode ceramah, tanya jawab atau diskusi saja,” lanjut Septya.

Metode experiental learning dengan cara materi diberikan terlebih dahulu, melalui media lain, kemudian di sesi tatap muka bisa kita diskusikan dan penugasan berdasarkan pengalaman mereka. Lebih jelasnya model pembelajaraan experiential learning merupakan model pembelajaraan yang memperhatikan dan menitikberatkan pada pengalaman yang akan dialami dan dipelajari oleh peserta didik. Dengan terlibatnya langsung dalam proses belajar dan menkontruksikan sendiri pengalaman-pengalaman yang didapat sehingga menjadi suatu pengetahuan. Experiential learning adalah suatu pendekatan yang dipusatkan pada siswa yang dimulai dengan landasan pemikiran bahwa orang-orang belajar yang terbaik itu adalah dari pengalaman.

“Ini salah satu dari metode colaborative learning dan biasanya guru mapel yang menggunakan metode ini. Nah, sudah saatnya guru BK dituntut mampu berinovasi dengan metode ini agar lebih menarik layanannya, terlebih masa pandemi ini,” urai Septya. 

“Awalnya, di google classroom saya kasih materi yaitu video menerangkan ppt yang dibuat dan diunggah ke YouTube. Kemudian pertemuan tatap maya. Saya lakukan diskusi dan melakukan aktivitas mengatur waktu yang dibuat anak-anak berdasarkan pengalaman mereka. Disana kita diskusi keefektifan dan ketidak efektifan dari jadwal yang mereka buat,” rinci Septya. 

Seru dan mengasyikkan, diskusi via daring. Apalagi tentang pengalaman mereka mengatur waktu yang efektif ataupun tidak efektif ala siswa. Karena metode ini biasanya dipakai guru mapel maka penerapannya di BK harus jeli menyesuaikan, termasuk tema manajemen waktu ataupun tema-tema sosial lainnya.

Siswa tidak akan jemu, bosan dengan layanan daring BK bila dilakukan dengan menggunakan metode yang bervariatif, semisal experiential learning ini. Ya, guru BK itu memang keren lagi mengasyikkan. Semoga.

Yupiter Sulifan, Guru BK SMA Negeri 1 Taman Sidoarjo dan penulis buku Jadi Guru BK itu Asyik.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar