Sejarah Gunung Sunda

  Jumat, 13 November 2020   Adi Ginanjar Maulana
Kaldera Gunung Sunda

Dari puncak Gunung Burangrang, kaldera Gunung Sunda yang berada di sebelah utaranya terlihat jelas dengan dindingnya yang melingkar.

Di dasar kaldera sisi utara terdapat Situ Lembang. Kaldera itu kawah yang garis tengahnya sama atau lebih dari 2 km, dan kaldera Gunung Sunda ukurannya 6,5 x 7,5 km.

Gunung yang tingginya + 4.000 m. dpl ini, kemudian meletus berkali-kali. Menurut Mochamad Nugraha Kartadinita (2005), letusan-letuan Gunung Sunda terjadi dalam rentang waktu antara 128.000-105.000 tahun yang lalu.

Letusan mahadahsyat Gunung Sunda pada masa prasejarah itu digolongkan ke dalam tipe letusan plinian, letusan dengan tekanan gas yang sangat kuat, menyebabkan material dari dalam tubuh gunung disemburkan ke angkasa, kemudian menyebar ke berbagai wilayah di kawasan seluas 200 km2. Material letusannya yang meluncur di lereng selatan, dengan seketika membendung Ci Tarum di utara Padalarang.

Kartadinata membagi letusan Gunung Sunda menjadi tiga fase letusan. Pertama fase plinian yang melontarkan material letusan sebanyak 1,96 km3. Material vulkaniknya mendapat tekanan yang sangat tinggi, sehingga mampu dilontarkan ke angkasa, membentuk tiang letusan setinggi 20 km, dengan payungnya 17,5 km x 7 km.

Belum terhitung debu yang melayang-layang mengelilingi angkasa dan jatuh di belahan bumi yang sangat jauh, yang volumenya mencapai 40 persen dari total material letusan yang dilontarkan. Kedua fase freatomagmatik yang melontarkan material letusan sebanyak 1,71 km3. Dan ketiga adalah fase ignimbrite, terjadi antara 210.000-105.000 tahun yang lalu, menurut Rudy Dalimin Hadisantono (1988), jumlah yang dihamburkannya sebanyak 66 km3 mengarah ke baratlaut, selatan, dan timurlaut dari pusat letusan, menutupi kawasan seluas 200 km2 dengan rata-rata ketebalan 40 meter.  

Karena banyaknya material dari dalam tubuh gunung yang dihamburkan, maka terjadi kekosongan di dalam tubuh gunung, menyebabkan bagian atasnya tidak kuat lagi menyangga beban, lalu ambruk membentuk kaldera Gunung Sunda.

H Tsuya menggolongkan derajat kehebatan letusan gunungapi ke dalam 9 tingkatan, mulai dari derajat satu, yang hanya menghembuskan fumarola hingga derajat 9 yang melontarkan material letusan gunungapi lebih dari 100 km3. Bila gunungapi melontarkan material dari dalam tubuhnya antara 10-100 km3, dapat digolongkan ke dalam derajat kehebatan delapan.

Gunung Sunda termasuk kategori ini karena pada fase pertama dalam pembentukan kaldera telah melontarkan material letusan sebanyak 66 km3. Jumlah ini hanyalah 60 persennya, sebab tidak menghitung yang menghilang diterbangkan angin ke berbagai penjuru dunia. Bila yang 40 persen lagi dihitung, maka jumlahnya akan mencapai 110 km3.

Letusan Gunung Sunda yang terjadi 210.000-105.000 tahun yang lalu itulah yang material letusannya dapat membendung Ci Tarum Purba di utara Padalarang dengan seketika.

Dengan terbendungnya Ci Tarum, maka secara bertahap tergenanglah dasar Cekungan Bandung menjadi Danau Bandung purba, terbentang antara Cicalengka di sebelah timur hingga Rajamandala di sebelah barat. Di utara, pantai danau berada di sekitar perempatan Jl Ir H Djuanda dengan Jl Merdeka - Jl LL RE Martadinata, mengikuti garis ketinggian 725 m dpl. Di selatan sampai Ciparay, Majalaya, Banjaran, dan Soreang.

Dari kaldera Gunung Sunda lahir Gunung Tangkubanparahu. Menurut Nugraha, letusan Gunung Tangkubanparahu Tua terjadi mulai 90.000 tahun yang lalu, sedangkan letusan Gunung Tangkubanparahu muda terjadi mulai 10.000 tahun yang lalu.

Paras tertinggi Danau Bandung purba mencapai kontur 725 m dpl terjadi 36.000 tahun yang lalu. Kemudian Danau Bandung timur bobol 16.000 tahun yang lalu di Curug Jompong (MAC Dam, 1996), dan Danau Bandung barat bobol di antara Puncak Larang dan Pasir Kiara. Danau ini kemudian berangsur-angsur surut, menyisakan lahan basah yang luas yang disebut situ dan ranca.

Danau Bandung Purba tergenang selama 100.000 tahun. Dalam rentang waktu itulah terjadi pengendapan di dasar danau yang bersumber dari material letusan gunungapi, baik di utara maupun di selatan, serta material lainnya, yang menjadi lumpur danau yang sangat tebal. Karena ada faktor air danau, maka endapan itu menjadi relatif rata dengan permukaan air. Inilah yang menyebabkan permukaan Dasar Cekungan Bandung menjadi datar. 

Di permukaan dataran yang kini bervariasi ketinggian perukaannya antara 665-725 m dpl, sudah dibangun pemukiman, sekolah, tempat peribadatan, pabrik, toko, gedung-gedung, apartemen, dan jalan raya. Di sanalah warga Cekungan Bandung bermasyarakat, di atas bekas endapan Danau Bandung Purba yang dikeringkan, diurug. 

Warga Cekungan Bandung membangun rumahnya di atas endapan danau purba. Air baku menjadi masalah utama bagi warga yang memanfaatkan air tanah dangkal, karena airnya tidak jernih, bahkan airnya ada yang mengandung cipeureu, banyak kandungan zat besi, sehingga selain menimbulkan aroma yang agak bau, juga warna airnya kuning kemerahan.

Akan sangat terasa bila mencuci baju putih. Hal lainnya yang harus diperhatikan dalam membangun di dasar Cekungan Bandung, sebab, bila terjadi gempabumi dengan kekuatan besar disertai waktu yang lama, maka lumpur yang jenuh air di bawah dasar Cekungan Bandung itu akan digoyang, sehingga di akan terjadi penguatan goyangannya.

Oleh T Bachtiar

Anggota kelompok Riset Cekungan Bandung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar