Menelusuri Legenda Sarip Tambak Oso

  Sabtu, 14 November 2020   Adi Ginanjar Maulana
Sebelah kiri kliping koran, foto tengah keberadaan makam Sarip di Lemahputro Sidoarjo dan sosok Sarip dalam lukisan dengan bantuan mata batin. (foto: Yupiter Sulifan)

AYOSURABAYA.COM--“Dibagian hilir sungai Buntung, Ibunda Sarip "Mbok e Sarip" tengah mencuci pakaian, entah kenapa pikirannya gundah gulana memikirkan anak keduanya itu.

Dia berhenti mencuci karena ada warna merah darah yang mengalir di sungai itu, dia berjalan mencari sumber darah tersebut, alangkah terkejutnya dia ketika didapatinya sumber warna merah tersebut adalah mayat anaknya. Spontanitas dia menjerit seraya berteriak "Sariiip durung wayahe Nak....." (Sarip, belum waktunya, Nak).

Anehnya Sarip bangkit dari kematiannya dan segera berlari menemui ibunya, kemudian menanyakan kepada ibunya tentang hal apa yang terjadi pada dirinya dan kenapa dia tidur di tepian sungai.”

Ini sebagian adegan dalam sebuah pementasan seni ludruk yang berjudul Sarip Tambak Oso. Ya Sarip Tambak Oso adalah sebuah legenda populer dari daerah Waru Sidoarjo Jawa Timur yang sering dipentaskan dalam pertunjukan ludruk, terutama di daerah Surabaya, Sidoarjo dan sekitarnya. Kisahnya tentang seorang pencuri budiman bernama Sarip yang berani menentang pemerintahan kolonial Hindia Belanda di daerahnya.

Selama ini cerita kepahlawan Sarip hanya bersumber dari cerita sesepuh desa atau cerita verbal yang sudah melegenda di masyarakat Jawa Timur. Selama ini penulis beranggapan bahwa Sarip adalah cerita rakyat yang gunanya untuk membangkitkan rasa nasionalisme untuk melawan penjajah Belanda.

Tapi, anggapan ini mulai berubah tatkala akun Bony Suwandi di grup public Fb, SIDOARJO MASA KUNO, 10 November 2020 pukul 14.35 mengunggah sebuah kliping dari koran berbahasa Belanda, Het Vaderland edisi 4 Maret 1912 dengan judul De Dood Van Sarip (terjemah bebasnya Matinya Sarip). Kliping koran dengan berita satu kolom ini intinya memuat berita tentang kematian Sarip. Berikut terjemahan bebasnya :

KEMATIAN SARIP

Kami telah melaporkan bahwa perampok Sarip yang bersangkutan ditembak mati oleh polisi yang mengejarnya.

Sur. Hbl. menceritakan tentang cara dia meninggal dan keadaan di mana dia dibunuh. Setelah Sarip kabur dari Surabaya, polisi di perbatasan menduduki pos polisi dari Gedangan dan Wonokromo. Bagi Sarip sering tinggal di desa Tambak-reso, di rumah saudaranya Maroop, dan berkeliaran di desa tetangga Tambaksari. Tambakrane, Soemur, Gedong asri, Roenkut, Menangal dan Roenkut-tengah. Di desa terakhir adalah kediaman salah satu teman Sharip.

Di sekeliling desa terdapat rawah dan kali mengalir di antara dua kompleks desa.

Pada 30 Januari lalu, wedono menerima laporan mata-mata dari Gedangan bahwa Sarip berada di rumah saudaranya Maroop di desa Tambak-reso. Polisi tidak keluar malam itu, tetapi keesokan paginya pada jam 6 pagi, keledai Poeloengan dan Tebel pergi bersama anggota polisi yang diperlukan ke desa Tambak-reso. Polisi Gedangan mengamankan bantuan pantat Sedati. Wedono. Pukul 8 pagi seluruh pasukan polisi tiba di Sa Tambakreso dan mendatangi rumah Maroop dengan maksud mencari di sana. dan untuk menangkap Sharip. Maroop, bagaimanapun, menentang pencarian rumah. Namun perlawanan tersebut hanya berlangsung sebentar dan ketika polisi masuk ke dalam rumah tersebut, Sarip tidak dapat ditemukan. Penjaga pertama ditempatkan (tentu saja rumah itu seharusnya sudah dikepung oleh polisi sebelumnya).

Seorang petugas polisi sekarang menemukan di belakang rumah sebuah jalan setapak baru menuju ke keris: Sarip telah melarikan diri dari desa Tambah redjo dan berjalan melalui rawah. Polisi menggeledah pekarangan sampai dia mendekati kali yang disebutkan di atas. Sarip tidak menggunakan proa yang tergeletak di sana.

Pukul 11 pagi polisi tiba di desa Tambag redjo. Di sana para penjaga tiba-tiba melihat di halaman Sarip, bersenjatakan pisau panjang melengkung, sebenarnya semacam pedang (telangkas), yang dengannya dia mengayunkannya dengan panik dan menuju ke arah seorang petugas polisi. Penjaga tersebut kabur dan berjalan sedemikian rupa hingga ia bertemu dengan putra wedono yang bersenjatakan seorang prajurit Beaumont. Yang terakhir mundur, membidik Sharip, dan menembakkan senapannya 25 meter darinya. Sarip terluka di sisi kanan dada. Polisi yang mengejar tidak melihat Sarip jatuh, sehingga pantat Tebel.-Wedono merasa disarankan untuk menembak juga pada jarak 25 meter. Sarip sekarang tertembak di dada kiri dan jatuh ke tanah. Mayat itu dibawa ke wedono Gedangan, di mana segera seluruh penduduk asli dari desa-desa tetangga mengerumuni penguasa teror yang terbunuh itu. Nanti jenazah dibawa ke Sidoardjo, supaya bupati bisa melihat kematian subjek berbahaya ini.

Keberadaan kliping ini menunjukkan bukti kalau cerita Sarip bukan sekedar legenda atau cerita rakyat yang diturunkan dari mulut ke mulut tetapi benar adanya. Hanya saja di kliping berita itu tidak disebutkan tempat Sarip dimakamkan. Penemuan makam Sarip menjadi hal yang sangat krusial. Penemuan makam itu sekaligus bisa menjadi bukti penguat bahwa Sarip bukanlah tokoh yang hanya ada dalam legenda. 

 

Masih bersumber dari sejarah bertutur, makam Sarip dan ibunya ada di komplek makam Mbah Zainal Abidin Tambak Sumur Waru. Tapi ada bukti lain kalau di makam Islam RW 01 lingkungan Kwadengan kelurahan Lemahputro Sidoarjo juga disemayamkan jasad Sarip (postingan Sudi Harjanto di grup public Fb SIDOARJO MASA KUNO, 21 Agustus 2017). Hanya saja yang di Lemahputro ini dipercaya kepala Sarip dan yang dimakamkan di Tambak Sumur adalah tubuh Sarip. 

Kenapa kok dimutilasi jasad Sarip? Konon, Sarip ini bila meninggal dunia dan ibunya memanggil namanya maka dia akan hidup lagi. Dan dari masukan mata-mata Belanda, tubuh Sarip harus dimutilasi dan dimakamkan dibeda daerah maka dia tidak akan bisa hidup lagi juga ibunya harus dibunuh terlebih dahulu.

Untuk mengetahui sosok Sarip, salah seorang anggota dewan Sidoarjo, almarhun Aminulloh Hasan, SH., pernah minta tolong melukis diri Sarip dengan bantuan mata batin seorang pelukis (foto lukisan ada di foto ilustrasi tulisan ini). Sosok pria muda yang badannya tegap, kulit bersih dengan selempang sarung khas pemuda kala itu.

Berbagai usaha telah dilakukan untuk menguak legenda Sarip dan ini tidak menutup kemungkinan akan ditemukan bukti-bukti baru tentang kebenaran dan keberadaan Sarip yang dipercaya sebagian besar warga Sidoarjo sebagai pahlawan penentang penjajah Belanda. Bagaimana pendapat Anda? 

Yupiter Sulifan, Guru BK SMA Negeri 1 Taman Sidoarjo dan penulis buku Guru BK itu Asyik

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar