Gauffre Membawa Vaksin Cacar ke Jawa

  Selasa, 24 November 2020   Adi Ginanjar Maulana
Peta Prancis tahun 1791 yang menggambarkan Mauritius yang disebut juga Isle de France. Sumber: Wikipedia

Suatu ketika, pada tahun 1892, opsir kesehatan kelas satu J. M. H. Van Dorssen penasaran dengan pernyataan yang dibikin oleh C. D. Schuckink Kool. Direktur Het Parc-vaccinogene itu menulis dalam Geneesk. Tijdschrift voor Ned. Indië (GTvNI Deel 52, 1892) perihal asal-usul vaksin cacar di Pulau Jawa.  

Dalam tulisan untuk memperingati setahun lembaga penelitian vaksin di Weltevreden itu (“Eerste jaarverslag van het parc-vaccinogene te Weltevreden”), Kool antara lain menyatakan bahwa menurut dokumen lama dan berkaitan dengan vaksinasi pada tahun 1819 dokter bedah Godefroy di Makassar digaji 50 gulden sebulan atas kerjanya sebagai vaksinator di tempat tersebut, sehingga membuktikan bahwa vaksin sudah menyebar bahkan di luar Pulau Jawa.

Van Dorssen juga membaca lagi tulisan lama. Ia membaca dan mengutip tulisan J. Idsinga, “Eenige Mededeelingen over de koepokinenting op Java en Madura” (dalam GTvNI, Deel 23, 1884). Dari tulisan karya Inspecteur van den burgerlijken geneeskundigen dienst voor Java en Madura itu, Van Dorssen antara lain memperoleh keterangan demikian: “Meski titimangsa diperkenalkannya vaksin cacar ke Hindia tidak diketahui secara tepat, aturan mengenai praktiknya sudah ada di Hindia Belanda.”

Setelah membuka-buka dokumen lama dan bertanya kepada arsiparis Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen Mr. J. A. Van der Chijs, Van Dorssen menemukan fakta baru dari Realia (Register op de generale resolutiën van het kasteel Batavia) bahwa resolusi untuk memperkenalkan vaksinasi cacar ke Jawa itu bertitimangsa 12 Januari 1804, yang diputuskan atas pertimbangan komisaris dan pengurus rumah sakit Kompeni (Commissaris en Buitenregenten van 's Compagnie's Hospitalen).

Namun, di balik resolusi tersebut ternyata prosesnya berjalan sebelumnya. Prosesnya berkaitan dengan usulan pemerkenalannya. Inisiatif pertamanya datang dari Jan Kloprogge, praktisi di Binnenregent van het Buiten Hospitaal di Batavia pada tahun 1803. Ia mengajukannya kepada komisaris rumah sakit Kompeni dan anggota dewan istimewa (Raad Extra-ordinair) Wouter Hendrik van Ijsseldijk. Agar lebih kuat, Kloprogge menyertakan hasil kerja vaksinasi di Isle de France oleh La Borde dan La Peyre. Usulan Kloprogge didiskusikan dan disetujui pada rapat Commissaris en Buitenregenten van 's Compagnie's Hospitalen pada 27 Desember 1803 sehingga akhirnya terbit resolusi pada 12 Januari 1804.

Dengan contoh di Isle de France, akhirnya diputuskan pula untuk mengundang tim dari pulau tersebut. Isle de France adalah pulau yang berada di timur Madagaskar di Lautan Hindia, yang antara tahun 1598-1715 menjadi koloni VOC dan dinamakan Mauritius. Pada 1715 Prancis yang menguasai pulau ini dan menggantinya dengan nama Isle de France. Nah, saat tim yang akan membawa vaksinasi cacar ke Jawa berasal dari pasukan Prancis yang masih ada di pulau tersebut.

Orang yang akan membawanya adalah dokter bedah berpangkat mayor pada batalion ke-12 Republik Prancis, Maurice Raphael Gauffre. Untuk menjemput Gauffre disediakan kapal Harmonie dan uang sebesar 5.000 dollar Spanyol (Rds) sebagai biaya ekspedisinya. Kapalnya sendiri diberangkatkan pada 17 Januari 1804 dan konon membutuhkan waktu lima minggu dari Mauritius. Penggunaan kapal tersebut juga karena alasan akan juga membawa sejumlah 10-12 anak-anak berusia 6-12 tahun yang divaksinasi dan akan diambil lagi untuk memvaksinasi anak-anak di Jawa. 

Van Dorssen tidak mengetahui lebih jauh keadaan Guffre di Batavia. Tapi katanya, dari pengumuman tanggal 2 Mei 1804 akhirnya upaya tersebut berhasil. Ia berhasil memvaksinasi 15 orang anak-anak, yang terdiri atas 9 orang anak Jawa merdeka dan 6 orang anak budak belian. Dengan catatan, anak-anak yang dibawa dari Isle de France yang sudah divaksinasi terlebih dahulu itu dipindahkan ke kapal swasta milik orang Belanda, Elizabeth.

Laporan vaksinasi tersebut kemudian dipresentasikan di hadapan Commissaris en Buitenregenten der Hospitalen oleh Jassoij, Assmus, Jan Kloprogge dan Gauffre pada Jumat, 10 September 1804. Dengan demikian, keluar pula regulasi pertama yang mengatur vaksinasi cacar di Hindia Belanda. Di antaranya menyatakan bahwa yang dipraktikkan Guffre itu betul dan alami, agen pembawa (vaksin) harus tetap diawasi dan ditangani selama 12 bulan pertama, memerintahkan kepada komisaris urusan pribumi Pieter Engelhard untuk menyediakan pelbagai hal yang perlu untuk mempertahankan vaksinasi di rumah-rumah sakit yang ada dalam kewenangan bupati-bupati di luar Batavia. 

Selain itu, pada 12 Februari 1805, pemerintah di Batavia menerima dua surat dari Gubernur Inggris di Bengkulu Walter Ewer dan dokter Charles Kampbell, yang mengetengahkan botol dan instruksi vaksinasi serta hasil kerja vaksinasi di Bengkulu. Kemudian karena dirasa perawatan 12 bulan di Buiten Hospitaal dianggap tidak efektif, maka pada 28 Februari 1805 diputuskan untuk memvaksinasi anak-anak di desa-desa yang dihuni oleh pribumi di seputar Batavia, termasuk Meester-Cornelis oleh mayor dokter Pieter van Zaamen.

Selanjutnya pada Mei 1805, Gubernur Jawa Nicolaas Engelhard diperintahkan untuk mengirimkan dokter dan semua keperluan untuk menyebarkan vaksinasi berikut pengetahuannya ke Makassar. Dalam kerangka penyebaran vaksinasi, kepala dokter bedah F.C.H. Assmus menyampaikan keluhan kurangnya dokter yang cocok untuk mempraktikkannya.

Seakan hendak menyambung yang tertulis pada tahun yang diungkapkan di atas (“Eerste invoering der vaccine op Java en in Indie” dalam GTvNI, Deel 32, 1893), Van Dorssen menulis lagi lanjutan tulisannya: “De vaccine op Java en in den Oost-Indischen Archipel van 1804 tot 1820” (dalam GTvNI, Deel 34, 1894). Dalam tulisan ini, Van Dorssen mengulangi beberapa paragraf akhir pada tulisan pertama dan melanjutkan penyelidikan tentang upaya vaksinasi di Jawa dan kepulauan Hindia bagian timur hingga tahun 1820. 

Pada awal tulisannya, ia mengemukakan bahwa setelah diperkenalkan Gauffre, vaksinasi cacar terus menyebar ke seantero Jawa pada tahun 1807. Pada Februari 1807, Gauffre menyatakan permohonan persen dan kompensasi untuk membawa vaksin dari Mauritius serta mengajarkan vaksinasi. Ia juga mengajukan usul agar ada orang yang dapat diberi tanggung jawab untuk budidaya dan pelestarian vaksin sekaligus ia sendiri menawarkan jasa untuk posisi tersebut. Usul tersebut tidak diterima. Tapi Mei 1807, Gauffre diberi bonus 500 Rds dalam bentuk uang kertas yang setara dengan 250 Rds logam perak. Menurut Van Dorssen, bonus tersebut sangat rendah bila dibandingkan dengan jasa yang diberikan Gauffre.

Desember 1807, pemerintah kolonial di Batavia menyesal tidak mengamini usul Gauffre untuk mengadakan posisi pengawas vaksin cacar. Sebab kemudian ada laporan bahwa di rumah sakit-rumah sakit di Batavia disebutkan bahwa vaksin itu hilang atau musnah dan usul Nilcolaas Engelhard untuk mendatangkan dari Semarang juga dianggap tidak praktis, bahkan bisa dihilang selama di perjalanan, atau barangkali di Surabaya masih ada.

Dalam gelisah, akhirnya pemerintah kembali menghubungi Gauffre. Tetapi Gauffre mengajukan syarat-syarat terlebih dahulu. Dengan demikian, terbitlah resolusi tanggal 15 Desember 1807. Di situ disebutkan, sang mayor mau ke Surabaya asalkan dengan menggunakan kapal Prancis L’Union dan menemukan vaksin yang ada pada tubuh anak-anak di sana, dia akan segera mundur lagi ke Semarang dan Batavia. Bila tidak menemukan lagi vaksin yang hidup di Jawa bagian timur, Gauffre akan ke Isle de France lagi, yang berarti Frederik Jacob Rothenbuhler harus menyerahkan 24 anak untuk dibawa lagi ke Batavia.

Dalam keadaan demikian, Gauffre diberi gaji 10 Rds uang logam perak per hari dari berangkat hingga kembalinya, dengan permintaan dibayar di muka selama empat bulan. Sedangkan bila pergi-kembali ke dan dari Isle de France dibutuhkan paling tidak enam bulan atau dari timur Hindia hanya empat bulan. 

Mengenai keberhasilan dan kegagalan projek kedua kali Gauffre diungkapkan oleh Gubernur Jenderal H.W. Daendels kepada Letnan Gubernur Jenderal Buijskes, bertitimangsa Semarang, 18 Juni 1808. Ringkasnya dalam pemberitahuan tersebut dinyatakan bahwa Gauffre gagal menunaikan tugasnya. Di situ antara lain disebutkan Gubernur Jenderal Wiese telah mengeluarkan uang 500 Rds untuk perjalanan Gauffre ke Isle de France, dan untuk perjalanan ke bagian timur Jawa baru ada kesepakatan antara Gauffre dengan direktur jenderal. Oleh karena itu, Daendels menyarankan untuk menolak langkah lebih jauh Gauffre.

Menurut Van Dorssen, dengan berlandaskan kepada buku Levijssohn Norman (De Britsche Heerschappij over Java, 1811-1816), kekuasaan Inggris di Jawa sangat tidak memperhatikan kesehatan, kecuali vaksinasi. Saat itu, dokter yang menjadi pengawas vaksin cacar Wllliam Hunter mengadakan inspeksi ke Jawa Timur pada Desember 1811 dan Januari-Februari 1812. Ia melihat yang dikerjakan Mr. Severing di Surabaya, dokter bedah Loftie di Surabaya, dokter Kortz di Gresik, Reisner di Pasuruan, dan dokter bedah Meurs di Sumenep.

Kemudian pada tahun 1812, G. O. Jacob diangkat menjadi pengawas (superintendent) vaksinasi cacar untuk Batavia dan sekitarnya (termasuk Banten), W. S. Welsh untuk Semarang dan untuk Surabaya adalah P. Mathew. Hingga 27 Mei 1815, vaksinasi di Batavia dan sekitarnya berjalan lambat. Untuk wilayah Priangan (Bogor, Cianjur, Bandung, Limbangan dan Sumedang), Andries de Wilde membuat laporan hasil vaksinasinya kepada Residen Priangan Mc Quoid pada 1814. Selanjutnya, pada 1815, vaksinasi diselenggarakan lagi di Semarang, Tegal, Pekalongan, Jepara, Kedu, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Gresik, Rembang, Pasuruan, Probolinggo, Besuki, Banyuwangi, Sumenep, dan Bangkalan. Tahun itu juga, persisnya 2 Desember 1815, ada aturan pemerintah mengenai penyerahan laporan bulanan vaksinasi yang harus dikumpulkan di Batavia.

Di ujung tulisan keduanya, Van Dorssen menyimpulkan bahwa antara 1816 hingga 1820 tidak ada kontribusi untuk sejarah vaksin di Hindia Belanda. Ia hanya antara lain mencatat adanya lembaran negara (staatsblad) no 10, 6 Februari 1818, yang berisi tentang penghapusan pajak sebesar 12 stuiver di Priangan demi perluasan vaksinasi cacar. Dan pada awal 1820-an, dalam lembaran negara no 17, aturan praktik vaksinasi cacar di Hindia Belanda sudah terbentuk secara mantap.

Tapi dengan demikian, masih ada kepenasaran tersisa, yang dalam uraian Van Dorssen tidak saya temukan jawabannya. Bagaimana bisa orang Eropa di Hindia tahu mengenai vaksin yang ditemukan Edward Jenner? Barangkali akan saya cari dalam tulisan selanjutnya. Mudah-mudahan.

Atep Kurnia

*Peminat literasi

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar