Ayo, Kenali Lebih Dekat Wisata Favorit di Bali Ini

  Jumat, 27 November 2020   Icheiko Ramadhanty
Ulun Danu Beratan Temple Bali / Icheiko Ramadhanty

BALI, AYOSURABAYA.COM--Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling terdampak akibat adanya pandemi Covid-19, tidak hanya di Indonesia namun juga seluruh dunia. Berbagai kota wisata terkenal seperti Bali menjadi imbas dari sepinya wisatawan lokal dan mancanegara.

Namun, sejak Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan Kenormalan Baru, berbagai sektor kehidupan seperti pariwisata mulai dibuka secara perlahan dengan aturan baru, mengikuti panduan kebijakan Kenormalan Baru. Panduan tersebut diantaranya 3M yaitu mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak.

Tidak hanya itu, pengelola tempat wisata juga harus wajib mematuhi protokol kesehatan dan menerapkan aturan sesuai dengan kebijakan Kenormalan Baru. Aturan-aturan tersebut yaitu menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun di depan area wisata dan di dalam tempat wisata, melakukan penyemprotan secara berkala, membatasi pengunjung menjadi 50% dari total kapasitas, dan protokol lainnya yang dapat mencegah penularan Covid-19.

Pada beberapa waktu yang lalu, Ayojakarta sempat mengunjungi beberapa tempat wisata dan edukasi di Bali bersama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Dengan membawa slogan #DiIndonesiaAja, diharapkan bagi masyarakat yang mulai melakukan perjalanan wisatanya, untuk dapat membantu pariwisata domestik dan tetap wajib menaati protokol kesehatan yang berlaku.

Berikut daftar tempat wisata yang sempat dikunjungi oleh team Ayojakarta bersama Kemenparekraf, yang menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan sangat ketat:

1. Turtle Conservation and Education Center (TCEC)

Wisatawan Bali yang ingin melihat konservasi jenis-jenis penyu dari berbagai ukuran, tempat ini dapat menjadi rekomendasi wisata dan edukasi. Tempat ini merupakan bagian dari strategi komprehensif untuk memberantas perdagangan penyu ilegal di Bali.

Berdiri di atas lahan seluas 2,4 ha, TCEC berupaya untuk mendukung masyarakat dan mencari alternatif dari bisnis penyu ilegal. Tempat ini menyediakan pendidikan, pariwisata, konservasi, dan penelitian dengan bisnis untuk melindungi dan memberi penyu kesempatan untuk bertahan hidup.

TCEC didukung oleh WWF, Gubernur Bali, Walikota Denpasar, Pemerintah Kota, Badan Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi dan masyarakat setempat.

Sebagai informasi, penyu sudah lama menjadi sebuah sarana untuk upacara adat di Bali bernama Bedawang Yadram. Ritual Bedawang Yadram merupakan upacara ritual penyucian, dengan tujuan memohon keselamatan, kerahayuan, dan keajegan jagat Bali. Ritual Bedawang Yadram yang dilaksanakan di 18 titik pantai seluruh Bali ini sudah menjadi bagian dari program Suksma Bali.

Ketua Pengelola TCEC, I Made Sukanta, mengatakan saat ini sudah terbentuk regulasi yang jelas terkait penyu. Dia menuturkan, saat ini masyarakat yang membutuhkan penyu tidak bisa semena-mena mengambil penyu dari alamnya.

“Kita menyediakan penyu disini dari hasil pengentasan. Misal ada 100 penyu yang menetas, kita lepas (ke laut) jadi 95 ekor. 5 ekornya akan kita jaga untuk persediaan upacara,” kata dia ketika ditemui, Selasa (17/11/2020).

“Jadi kegiatan konservasi itu tetap berjalan dan budaya tetap berjalan. Jadi tidak ada kecaman, aman-aman saja,” lanjutnya.

TCEC menerapkan protokol kesehatan dengan jaga jarak antar pengunjung dan mencuci tangan ketika ingin memasuki wilayah konservasi. Baik pengelola maupun pengunjung, seluruhnya diwajibkan untuk tetap memakai masker. 

2. Mangrove Conservation Bali

Mangrove Conservation Bali mulai didirikan pada awal tahun 1961 yang merupakan hasil kerjasama dengan Pemerintah Jepang. Tujuan awal dibentuknya mangrove ini adalah untuk penelitian tentang tanah dan hutan bakau.

“Karena di sini dianggap tanah Indonesia di Bali sama dengan tanah di jepang, makanya dibuat mangrove ini dan nanti kalau berhasil akan dibuat di Jepang,” ujar salah satu pengelola, Bagus, ketika ditemui oleh team Ayojakarta, Kamis (19/11/2020).

Wilayah Mangrove Conservation mulai dibuatkan tracking untuk para pengunjung pada 2003, yang sekaligus diresmikan oleh Megawati Soekarnoputri yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden di tahun 2003.

“Sampai sekarang ini hutan mangrove ini sudah menjadi penuh. Kalau dulu awalnya memang di sini kosong,” tutur Bagus.

Bagi pengunjung yang tertarik mengunjungi Mangrove Conservation Bali tidak perlu khawatir, pasalnya kondisi air disini dalam keadaan surut. Jika air sampai atas, tidak sampai melebihi jalanan tracking.

“Tapi kebetulan 3 hari terakhir ini terjadi rob jadi sebagian ada yang sampai ke tracking ini. Tapi rob pun terjadinya cuma malam di sini. Kalau siang hari tidak setinggi pasang malam,” ucapnya.

Untuk binatang, di tempat ini yang paling banyak dijumpai adalah kepiting. Selain itu, biawak dan ular juga kerap ditemui, namun kedua binatang ini tidak akan muncul jika ada manusia di sekitarnya.

Mangrove Conservation Bali juga menerapkan protokol kesehatan dengan mengecek suhu tubuh pengunjung, wajib cuci tangan di tempat yang sudah disediakan, dan memakai masker.

3. Kebun Raya Bali

Kebun Raya Bali didirikan oleh putra bangsa Indonesia, yaitu Prof. Dr. Yudi Wiryo, pada 15 Juli 1959. Saat ini, Kebun Raya Bali sudah berumur 61 tahun dengan luas 157.5 hektar.
 
Kebun Raya Bali memiliki berbagai macam jenis koleksi tumbuhan, yaitu taman anggrek, kaktus, palem, bambu, dan segala macam tumbuhan yang di dapat dari hasil eksplorasi.

Menurut salah satu Tour Guide Pengunjung, Ni Wayan Sumiasih, tumbuhan di dapat dari kawasan Indonesia Timur. Dia mengatakan, selama musim pandemi Covid-19 ini, Kebun Raya Bali sangat menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat. Bahkan, selain menyediakan tempat cuci tangan di berbagai titik, pihaknya juga menyediakan hand sanitizer.

Hal serupa juga disampaikan oleh General Manager Kebun Raya Bali, Tito Triputra. Tito menuturkan dikarenakan luas area kebun raya cukup luas, sangat memungkinkan untuk diterapkannya protokol kesehatan jaga jarak antar pengunjung.

“Kita batasin 1.500 orang dalam satu waktu. Memang ada penurunan pengunjung selama pandemi ini jadi turun 60%. Tapi saat weekend, dalam satu hari kita bisa dapat 3 ribu hingga 4 ribu pengunjung,” kata Tito saat ditemui, Rabu (18/11/2020).

Tito membeberkan sementara ini, pihaknya kebanyakan menerima pengunjung domestik, khususnya mereka yang memang berdomisili di Bali. Untuk jam operasional, Kebun Raya Bali dibuka mulai pukul 07.00 WITA – 17.00 WITA pada waktu weekend. Lalu pada hari biasa, kebun raya mulai dibuka pada 07.30 WITA – 17.00 WITA.

Untuk harga tiket, Kebun Raya Bali mematok harga Rp 9.000 per orang untuk wisatawan domestik dan Rp 17.000 untuk wisatawan mancanegara. Namun, bagi pengunjung yang ingin berkeliling masuk menggunakan kendaraan pribadi harga per mobilnya yaitu Rp 11.000. Untuk tempat parkir mobil dipatok Rp 6.000.

Beberapa tempat di atas merupakan sebagian dari banyaknya tempat wisata di Bali yang telah menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Dimanapun kalian berada, tetap jaga kesehatan ya! Jangan lupa pakai masker.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar