Radio Di Masa Corona dan ‘Revolusi’ Program

  Sabtu, 05 Desember 2020   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi siaran radio.(Dok Indriyo Margono)

AYOSURABAYA.COM--Akhir Oktober para pendengar radio dihebohkan dengan cuitan ekonom Rizal Ramli yang memposting screenshot status salah satu executive producer radio network terkemuka. Dalam cuitan tersebut Rizal Ramli ikut prihatin atas efisiensi besar-besaran radio berjaringan tersebut, yang disebabkan oleh defisit imbas pandemi Covid19 yang berkepanjangan. Penulis, yang berada di ‘dalam,’ merasakan bagaimana perjuangan selama pandemi Covid19, dimana iklan, terutama di jaringan daerah sangat sulit didapatkan, sehingga jangankan untuk menghidupi karyawan, untuk operasional listrik dan air pun harus tambal sulam, sampai akhirnya manajemen memutuskan untuk melakukan efisiensi. 

Ternyata, radio network yang dihebohkan karena efisiensinya tersebut tidaklah sendiri. Saat membantu  recording podcast untuk tugas sejumlah mahasiswa di Bandung, penulis berkesempatan berkomunikasi dengan sejumlah sesepuh radio. Disela-sela obrolan soal podcast, kami sempat saling berkabar soal kondisi radio di Bandung.  Hampir sama dengan radio network tempat saya bernaung sebelumnya, kondisi pandemi saat ini menyebabkan sejumlah radio harus berjibaku mengatur cash flow mereka. Beberapa radio juga, ikut mengurangi jumlah personilnya. Malah ada radio yang justru menawarkan jam siar untuk siapapun yang ingin mengisi dengan syarat membeli jam siar pada waktu tertentu yang disepakati. Beruntung sampai saat ini, masih belum terdengar radio yang terpaksa harus berhenti bersiaran.

Bukan Cuma Karena Corona

Menilik setahun ke belakang, sesaat sebelum Corona mewabah, sebetulnya radio sudah berada di ambang masa sulit. Teknologi dan media sosial menjadi  salah satu penyebab beralihnya pendengar radio. Betapa tidak, Ketika dulu orang ingin mendengar lagu favoritnya harus request di radio, saat ini dengan perkembangan teknologi, penggemar musik tidak perlu harus meminta lagu ke radio atau membeli kasetnya, mereka bisa langsung klik di sejumlah platform music digital, atau menikmati video klipnya melalui channel Youtube. Begitu pula bila ingin mendengarkan wawancara dengan bahasan tertentu, pendengar sudah bisa menyimak kapanpun melalui podcast yang mulai bertebaran di dunia maya pada saat ini.

Tidak cukup sampai di situ, pendengar yang dulu menjadi ‘selebritas radio’ karena sering muncul di udara saat namanya disebut dalam berbagai program, saat tergantikan posisinya dengan selebgram yang tentu saja ketenarannya lebih luas ketimbang ‘selebritas radio.’ Ya, medsos mejadi salah satu yang ikut menggerus popularitas radio, karena informasi apapun bisa lebih cepat diakses. Meski demikian, medsos pun menjadi lada utama hoax karena siapapun bisa memberikan informasi tanpa filter, kecuali pribadi si pemosting info tersebut.

Revolusi Program

Perbaikan program menjadi salah satu kunci mengembalikan radio di hati pendengarnya. Suka atau tidak suka, saat ini masyarakat lebih mengandalkan medis sosial ketimbang radio, saat membutuhkan informasi apapun. Tentu ini menjadi tantangan, bagaimana radio bisa Kembali mengambil peran yang dibutuhkan masyarakat.

Penataan program yang utama adalah mengembalikan marwah radio sebagai teman, sebagai sahabat. Artinya, sebagai teman radio harus tahu apa yang dibutuhkan pendengarnya. Informasi dengan proximity yang sesuai dengan positioning dan segmen radio tersebutlah yang harus berulang kali diingatkan pada crew radio sebagai bahan materi program untuk disiarkan. Ini penulis garis bawahi, karena saat ini sejumlah radio sudah tidak menjadikan hal tersbut sebagai pijakan. Informasi yang bagus sekalipun, bila tidak  memperhitungkan proximity tadi, tentu tidak akan memberikan efek pada pendengarnya.

Tidak perlu jauh-jauh, di masa pandemi Covid19 ini misalnya, apa sih yang menjadi kesulitan terbesar masyarakat pendengar? Bila sudah didapat jawabannya, maka hadirkanlah ‘ruang’ itu di dalam program siarannya.  Dengan cara ini, setidaknya program program  tersebut dapat mengembalikan dulu pendengar, karena mereka merasa menemukan apa yang dicari selama ini.

Konvergensi Media Dan Iklan

Jauh sebelum Instagram dan Tik Tok menjadi teman setia warga dunia maya, saat Facebook masih menjadi bagian utama masyarakat dalam bermedsos, sahabat penulis, Ganang Partho, jurnalis radio dan penyiar senior di Bandung sudah mengatakan bahwa di era kemajuan teknologi saat ini konvergensi media sangat dibutuhkan. Tahun 2008, Ganang sudah memadukan siaran di udara dengan interaksi melalui facebook dan twitter. Tidak hanya itu, acara-acara off air yang digagasnya ditulis pula dalam web radio dan siarkan terpisah melalui radio streaming komunitas.

Selain Ganang Partho, senior radio di Bandung yang lain, Vidya Imbar pernah berdiskusi dengan penulis pada tahun 2009 bahwa produk siaran tidak melulu hanya disiarkan secara live melalui pemancar atau via streaming yang sejak awal tahun 2000 an sudah dilakukan sejumlah radio di tanah air. Menurut Imbar, rekaman siaran yang bagus dan diminati bisa ‘dijual’ terpisah dalam bentuk podcast. Apa yang disampaikan Imbar 11 tahun lalu ternyata terbukti saat ini, podcast sangat cepat perkembangannya dan menjadi  salah satu yang diminati warga net.

Melihat hal tersebut, belum terlambat bagi radio untuk kembali mengejar ketinggalnya dalam mengaplikasikan konvergensi media. Artinya sebuah siaran harus terintegrasi pula dengan streaming baik audio ataupun visual dan memanfaatkan media sosial sebagai bagian dari produk siaran yang bisa dikemas sesuai dengan kebutuhan pendengarnya.

Dengan konvergensi media ini, peluang iklan akan semakin besar, karena tayangan iklan tidak hanya melalui audio saat siaran radio tersebut, namun bisa juga dibuat visualnya yang menarik, untuk ditayangkan di medsos dan youtube channel.

Sandiwara radio yang di beberapa daerah masih memiliki tempat, bisa pula menjadi materi ‘jualan’ dalam bentuk podcast. Bahkan animo penggemar musik yang tidak pernah surut, bisa dijadikan program ala idol, dengan memutar lagu-lagu karya band lokal dan yang terbaik dengan penilaian pendengar serta juri dibuatkan video klip untuk ditayangkan di youtube channel radio tersebut. Bukankah berawal dari youtube, sejumlah musisi kemudian terkenal?

Semua memang butuh effort yang tidak kecil, hanya saja penulis yakin repositioning, resegmenting dan mengembalikan radio sebagai teman pendengar yang bisa memenuhi kebutuhannya sebagai sahabat, maka radio bisa kembali berjaya.  (Penulis adalah senior radio broadcaster di Bandung yang juga trainer public speaking)

'Morgen' Indriyo Margono
Senior Radio Broadcaster di Bandung, public speaking trainer

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar