Dokter Waszklewicz dan Sistem Sirkuler Cacar

  Kamis, 24 Desember 2020   Adi Ginanjar Maulana
Formulir isian “Daftar Kampong District Tjatjar …”. Sumber: Bijblad op het Staatsblad van Nederlandsch-Indie Deel XXVIII (1894)

AYOSURABAYA.COM--Den Haag, Sabtu, 19 Januari 1901, koran-koran secara serempak mengabarkan kematian sesosok perwira kesehatan yang pernah berdinas di Hindia Belanda: Dr. A.E. Waszklewicz (1812-1901). Di antara harian yang mengabarkannya adalah Haagsche courant, Dagblad van Zuidholland en ‘s Gravenhage, Arhemsche Courant, dan De Tijd. Baru sebulan kemudian, kabar tersebut dimuat di Hindia Belanda. Antara lain kita mendapatinya dalam De Preanger-Bode edisi 21 Februari 1901.

    Informasi kematian Waszklewicz ada yang sedikit, ada pula yang agak banyak, sehingga kita mendapatkan latar belakang kehidupannya. Menurut Haagsche courant yang disalin lagi secara persis oleh De Preanger-Bode, Waszklewicz meninggal dunia dalam usia 88 tahun. Saat menjadi menjadi mahasiswa dia turut dalam Revolusi Polandia atau yang saya dapati dalam bahasa Inggrisnya sebagai The November Uprising (1830-1831), Polish-Russian War 1830-1833, atau the Cadet Revolution, saat Polandia yang dipecah belah melakukan pemberontakan kepada Kekaisaran Russia.

    Setelah pasukan Polandia kalah, Waszklewicz melarikan diri ke Prancis. Di sana dia kuliah di Universitas Montpellier untuk melanjutkan studinya. Setelah mendapatkan gelar dokter, dia pergi dan menetap sebentar di Manila (Filipina), sebelum masuk ke Hindia Belanda. Di Tanah Jawa, dia masuk ke dalam dinas kesehatan militer. Setelah hampir tiga dasawarsa mengabdi di Hindia, Waszklewicz pensiun pada tahun 1870 dengan pangkat kolonel dan pernah menjabat sebagai kepala jawatan kesehatan antara tahun 1864 hingga 1870. Dia kemudian tinggal di Den Haag hingga ajal menjemputnya.

    Yang tidak disajikan di dalam berita-berita di atas adalah prestasi yang dia torehkan saat memerangi wabah cacar yang sering terjadi terutama di Pulau Jawa, atau Hindia Belanda umumnya. Dia telah berjasa dengan menerapkan sistem sirkuler, sistem radial, centraal-kringenstelsel atau straalsysteem dalam bahasa Belanda pada tahun 1850. Saat itu dia sedang menjabat sebagai inspektur cacar (hoofdinspekteur der vaccine) yakni antara 1850-1854. 

Beberapa pustaka yang membahas mengenai sistem ini antara lain De geneeskunde in Nederlandsch-Indië gedurende de negentiende eeuw (1936) karya D. Schoute; “Dari Mantri hingga Dokter Jawa: Studi Kebijakan Pemerintah Kolonial dalam Penanganan Penyakit Cacar di Jawa Abad XIX-XX” (2006) karya Baha‘ Uddin; Nusa Jawa Silang Budaya (Bagian I) (2008) karya Denys Lombard; Healers on the colonial market: Native doctors and midwives in the Dutch East Indies (2011) karya Liesbeth Hesselink; dan Gelanggang Riset Kedokteran di Bumi Indonesia: Jurnal Kedokteran Hindia-Belanda, 1852-1942 (2019) yang disunting Leo van Bergen, dkk. 

    Bila saya ringkaskan lagi, sistem pemberantasan cacar ini hendak menjangkau segala lapisan masyarakat hingga pelosok Jawa dan Madura. Kedua pulau tersebut dibagi menjadi 166 distrik atau rayon vaksinasi yang batas-batasnya tumpang tindih. Oleh karena itu, dalam sebuah karesidenan, distrik-distrik vaksinasi tersebut bisa saja seluas kabupaten. Namun, bila padat penduduknya, distriknya tersebut ditambah lagi. Setiap distrik dibagi menjadi 3 lingkaran konsentris dalam 3 wilayah. Pada setiap lingkaran didirikan pusat vaksinasi, yaitu tempat tinggal dokter Jawa atau mantri cacar yang merangkap sebagai pengawas (opziener). Setiap penduduk menempuh jarak tidak lebih dari 5 pal (sekitar 7,5 km) untuk sampai ke salah satu pusat vaksinasi (“Nergens mocht de bevolking gedwongen worden grooter afstand te moeten afleggen ter bereiking vaneen centrum van inenting dan 5 paal”).

Sasarannya adalah anak-anak berumur 7-9 tahun. Sistem ini biasanya mulai dilakukan pada hari Senin di lingkaran dalam, hari Selasa di lingkaran tengah, dan hari Rabu di lingkaran luar. Pada lingkaran tengah dan luar pos yang diaktifkan biasanya dipilih mengikuti putaran arah jam. Setiap pusat harus mencakup desa-desa sekitarnya dengan jarak tidak lebih dari 9 pal. Pada hari Kamis, dokter Jawa atau mantri cacar harus memilih pusat berikutnya dan sekaligus mempersiapkan desa-desa di sekitarnya. Selain itu, mantri cacar juga harus memilih bibit cacar dari anak-anak (kinderen) dari putaran vaksinasi yang telah dilakukan sebagai bibit baru. Itu sebabnya, dalam sistem ini tenaga kerja dokter Jawa dan mantri cacar kian dapat diefisienkan, meskipun beban kerjanya jadi bertambah berat. 

Akibatnya, menurut D. Schoute (1936), pengenalan sistem ini mendapatkan tantangan dan penolakan dari para pemuka pribumi sekaligus para pegawai negeri berbangsa Eropa. Selain harus banyak mengurangi mantri cacar, sistem ini menjadi semacam beban bagi kalangan pribumi yang jauh dari pusat vaksinasi. Misalnya, kaum ibu yang membawa anak-anaknya untuk divaksinasi, saat pulangnya yang lumayan jauh tidak ditemani, padahal harus menghadapi sungai yang tengah meluap banjir. Demikian pula banyak di antaranya yang takut pada binatang buas, seperti harimau, yang akan datang menyerang saat mereka pulang. Oleh karena itu, untuk menjawab pelbagai tantangan tersebut, Waszklewicz sering hadir dalam proses pencacaran di pusat vaksinasi. Dengan sabar, dia mengamati pelaksanaan sistem baru tersebut serta menjawab pelbagai permasalahan yang mungkin timbul dengan pemerkenalan sistem tersebut.

Aturan dan pelaksanaan sistem sirkuler cacar tersebut antara lain saya dapati dalam surat edaran dan keputusan seperti De circulaire van den Chef over den geneeskundigen dienst dd. 15 Mei 1856 No. 515, besluit dd. 30 Januari 1875 No. 14 (Staatsblad No. 41), dan diperbarui dengan De circulaire van den Chef over den geneeskundigen dienst dd. 10den April 1893 No. 4216. Sebagaimana yang saya baca dalam Bijblad op het Staatsblad van Nederlandsch-Indie Deel XXVIII (1894),  di situ ada formulir isian bertajuk “Daftar Kampong District Tjatjar …” dalam bahasa Melayu yang tentu harus digunakan sebagai pedoman oleh para dokter Jawa atau mantri cacar pribumi, saat harus berkeliling kampung melaksanakan sistem sirkuler.

Namun, selain penerapan sistem sirkuler, sejak 1840 dan 1850 upaya revaksinasi dilakukan terhadap penerima cacar sebelumnya. Dengan dua upaya ini, lambat laun anak-anak atau orang yang menerima vaksinasi di Pulau Jawa bertambah. Dalam statistik yang disajikan di dalam buku D. Schoute (1936) terlihat pertambahannya dari antara tahun 1860 hingga tahun 1875. Pada 1860, jumlah yang divaksinasi di Jawa dan Madura sebanyak 479.768 orang dan yang direvaksinasi sebanyak 211.051 orang; tahun 1871, yang divaksinasi dan direvaksinasinya sebanyak 524.553 dan 209.479 orang; dan tahun 1875 ada 570.652 orang yang divaksinasi dan 360.201 yang direvaksinasi.

Di sisi lain, dengan meninggalnya Kepala Jawatan Kesehatan Dr. Wassink pada tahun 1864, Waszklewicz terpilih untuk menggantikannya. Dalam kapasitasnya sebagai kepala jawatan kesehatan yang baru, ia mengusulkan beberapa hal terkait dengan nasib dokter Jawa sebagaimana yang telah saya tulis sebelumnya. Bahkan setahun sebelum pensiun, pada 30 April 1869, ia juga mengusulkan aturan baru untuk jawatan kesehatan sipil, yang terpisah dari militer. Usulan tersebut antara lain berisi butir-butir berikut ini:

Pertama, sekitar 20 tahun telah berlalu sejak dokter sipil maupun militer mengemukakan perlunya regulasi yang lebih terbaru tentang Jawatan Kesehatan Sipil; Kedua, isu pemisahan akan selesai dengan pertanyaan apakah negara mampu menyediakan dana yang dibutuhkan, yang jumlahnya besar; sehingga pemisahan itu tidak akan dapat dilakukan; dan ketiga, Jawatan Kesehatan Sipil akan memiliki departemen dan kepalanya sendiri (“Administrasi Medis: Bagaimana Layanan Kesehatan Kolonial Dikelola” oleh Geert M. van Etten dalam Leo van Bergen, dkk, 2019).

Dengan demikian, menurut D. Schoute (1936), pengenalan sistem sirkuler berikut penataan organisasi jawatan kesehatan secara menyeluruh, ditambah dengan didirikannya Parc Vaccinogene di Hindia Belanda, menjadi dasar bagi pemberantasan penyakit yang kerap melanda para penduduk pribumi di tanah jajahan. Oleh karena itu, setelah tulisan ini saya akan menyambungnya dengan bahasan mengenai Parc Vaccinogene dan perkembangannya untuk tulisan mendatang.

Dan tentang kematian Waszklewicz itu, saya mendapatkan lagi sambungan kabarnya. Konon, menurut Dagblad van Zuidholland en ‘s Gravenhage, raga Waszklewicz akan dikremasi di Hamburg, Jerman, pada Selasa pagi, 22 Januari 1901, di bawah pimpinan G. M Kansen, direktur Begrafenie-onderneming Hansen, yang berkantor di Denneweg 45, Den Haag.


Atep Kurnia

*Peminat literasi

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar