Refreshing Course ala PP Mambaul Ulum Waru

  Senin, 28 Desember 2020   Adi Ginanjar Maulana
Refreshing Course ala PP Mambaul Ulum Waru

AYOSURABAYA.COM--Menyiapkan Santri Milenial Menuju Indonesia Maju adalah tema besar kegiatan Refreshing Course yang diadakan Pondok Pesantren (PP) Mambaul Ulum Panjunan Waru Sidoarjo. Acara rutin di tiap akhir tahun ini dilaksanakan 19 – 21 Desember 2020 bertempat di aula pondok yang juga madrasah diniyah. Diikuti sekira 75 santriwan santriwati, refreshing course dibuka oleh pengasuh PP Mambaul Ulum, ustad H. Muhammad Anshor.

Dalam sambutan pembukaan acara, ustad Anshor mengatakan kalau refreshing course ini merupakan tambahan pengetahuan umum bagi santri selain ilmu agama yang setiap hari didapatkan dari pengasuh pondok. “Kegiatan ini merupakan upaya pengasuh untuk membekali santri ilmu pengetahuan umum selain ilmu agama sebagai tambahan bekal bagi mereka kelak dikemudian hari,” ujar ustad Anshor.

Acara yang dikemas dalam suasana lesehan, santai tapi serius ini mengusung beberapa materi dari nara sumber yang kompeten di bidangnya. Aswaja dan ke-NU-an oleh ustadzah Umi Nahdliyah, M.Pd., (Aswaja Centre Sidoarjo), Peran Pesantren dalam Pembangunan Bangsa dan Negara oleh ustad H. Muhammad Anshor (pengasuh PP Mambaul Ulum), Bincang Santai Jurnalistik oleh Yupiter Sulifan, M.Psi., (penulis Sidoarjo), Ke IPNU-IPPNU-an oleh PAC IPNU-IPPNU Waru, Adabul Quran oleh ustadzah Miftachul Fuadah, Leadership oleh ustad Abdullah Musyafa, M.Pd.I., serta materi Eksistensi Santri ditengah Kehidupan Masyarakat oleh ustad Ainur Rofiq, M.Ag.

Pemahaman Islam yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah ‘ala NU dikalangan santri sangat dibutuhkan sebagai upaya membentengi mereka dari gerakan radikal maupun Islam garis keras. “Kita tidak boleh lengah dalam menangkal gerakan-gerakan intoleransi yang dapat memecah belah bangsa. Ahlussunnah Wal Jama’ah tidak mengajarkan seperti itu. Maka disinilah kita harus belajar tentang agama Islam dan membentengi akidah kita sedini mungkin,” terang Umi Nahdliyah dari Aswaja Centre Sidoarjo.

Santri memiliki peranan penting dalam membangun dan memajukan bangsa, karena saat di pesantren mereka diajarkan sisi kemandirian, jiwa sosial, dan menyelesaikan permasalahan antar teman. “Para santri untuk lebih sadar dalam beragama, sadar dalam bernegara, sadar berbangsa dan bermasyarakat. Santri harus berpartispasi dalam mewujudkan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur," urai ustad H. Muhammad Anshor, pengasuh PP Mambaul Ulum saat menyampaikan materinya.

Mempelajari ilmu jurnalistik bukan sekedar nantinya paham dan bisa menulis berita dengan baik namun lebih dari itu, bila ditekuni akan bisa membawa banyak manfaat. “Selain kita bisa mencurahkan isi hati, keinginan ataupun menceritakan kejadian yang ada di sekitar kita juga dengan ilmu jurnalistik kita bisa mendapatkan keuntungan finansial,” kata Yupiter Sulifan saat berbincang santai tentang manfaat mempelajari jurnalistik.

Setidaknya ada sembilan adab untuk belajar, diantaranya menyucikan hati dari unsur buruk, memperbaiki niat, bersegera, kanaah, bisa membagi dan memanfaatkan waktu, menyedikitkan makan dan minum, menjaga diri dari yang merusak, mengurangi tidur, serta tidak tenggelam dalam pergaulan. Ini diantara materi Adabul Quran.

Kalangan santri merupakan cikal bakal pemimpin yang memang diharapkan bangsa saat ini. Sebabnya ada banyak bekal dalam dunia kepemimpinan yang sudah dimiliki santri. Itupun, papar ustad Abdullah Musyafa, M.Pd.I., sudah dibidik sejak dini. "Santri adalah cikal bakal pemimpin bangsa yang handal. Ketangguhan mental, kecerdasan berpikir dan kekuatan spiritual santri tidak perlu diragukan lagi, ini terbukti semua aspek itu dimiliki oleh santri," ujarnya.

Semangat kesantrian dibangun sejak masa anak-anak, remaja hingga dewasa, dimana pada saat yang bersamaan seorang “Santri” dihadapkan pula dengan berbagai kebutuhan dan dinamika yang terkait dengan individu dan keluarga, tentu diiringi dengan sederetan tantangan dan hambatan yang cukup berarti. “Karena itulah, dipandang penting membangun wadah-wadah yang dapat memupuk semangat kesantrian tersebut, agar tetap mampu berjalan seiring dengan percepatan dinamika sosial yang terjadi. Santri bisa menjawab tantangan jaman dan dinamikanya bangsa,” ujar ustad Ainur Rofiq, M.Ag.

Selain wawasan umum yang diberikan ke santri di akhir tahun, ini sebagai bentuk refleksi diri santri guna menapaki tahun 2021. “Bisa mawas diri agar lebih baik dari tahun sebelumnya. Juga adanya penugasan khusus bagi santri yang akan menjalani liburan di rumah dan tugas-tugas ini akan dikumpulkan ketika santri kembali ke pondok. Diantaranya, santri diwajibkan membuat cerita selama liburannya di rumah, ini menggiatkan budaya literasi menulis pengalaman dikalangan santri,” kata ustad Anshor.

Yupiter Sulifan, Guru BK SMA Negeri 1 Taman Sidoarjo.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar