Kasus Kekerasan di Jatim Sebagian Besar Dipicu Perekonomian

  Jumat, 01 Januari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Ilustrasi kasus kekerasan seksual.(pixabay)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM - Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak masih kerap terjadi di tahun 2020.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Jatim mencatat, kekerasan terjadi di beragam tempat, baik di fasilitas umum (fasum), rumah tangga, hingga tempat kerja. 

Kepala DP3AK Jatim Andriyanto menjelaskan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi di rumah.

Andriyanto menyebut, kekerasan rumah tangga mendominasi, sebanyak 1.140 kasus atau 60,41 persen. 

Pada posisi kedua paling banyak kekerasan terjadi di fasum, yaitu 228 kasus atau 12,08 persen. 

Di tempat yang semestinya menjadi ruang pembinaan bagi peserta didik, yang notabene memberikan rasa nyaman pun memberikan sumbangsih negatif.

Dalam lingkungan sekolah, ada 66 kasus atau 3,50 persen. Yang terakhir adalah tempat kerja, sebanyak 28 kasus atau setara 1,48 persen. Sedangkan, tempat lainnya mencapai 421 kasus atau 22,31 persen. 

Andriyanto menduga, peningkatan kasus kekerasan pada perempuan dan anak selama tahun 2020 dipicu faktor ekonomi. Salah satunya adalah menurunnya angka pendapatan di tahun 2020 akibat Pandemi Covid-19. 

"Akibatnya ekonomi keluarga menurun tajam, dan ini sebagai pemicu terjadinya kekerasan di rumah tangga," jelas Andriyanto, Jumat (1/1/2021). 

Pasalnya, pagebluk tak hanya sekadar menyerang kesehatan manusia. Sejumlah karyawan turut terdampak, baik pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun dirumahkan sementara. Begitupula dengan tempat usaha berskala mikro yang juga terimbas.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar