'Titanic Mini' Jambangan, Alternatif Warga Terabas Kemacetan

  Kamis, 07 Januari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Warga dan sejumlah pengendara sepeda motor menggunakan jasa perahu tambang untuk menyebrangi anak sungai Brantas, Jambangan-Kedurus, Kamis (7/1/2021). (Ayosurabaya.com/Praditya Fauzi Rahman)

JAMBANGAN, AYOSURABAYA.COM -- Tak sedikit warga Surabaya dan sekitarnya yang menggunakan jasa perahu penyeberangan. Lokasinya pun beragam, mulai dari Dinoyo, Kalimas, Pagesangan, Wonokromo, hingga Jambangan. Selain tarif yang murah meriah, yakni Rp 1000 sampai Rp 2000 per orang atau kendaraan, pelayanannya pun tak kalah dengan kapal pesiar Titanic.

Salah satu pelaku jasa itu adalah Rozak (29). Ia nampak sumringah saat membuka pembatas sepeda motor di perahu tambangannya. "Alon-alon nggih (pelan-pelan ya)," pintanya pada setiap pengendara motor yang menggunakan jasa penyebrangan perahu patas di anak sungai Brantas, seraya tersenyum.

Dilepasnya tali pengaman pada border dermaga minimalis berukuran 4x3 meter itu, didorong perlahan ke arah dermaga seberang. Perlahan ia tarik tali tambang kapal. Setibanya di dermaga Jambangan Surabaya, ia meminta upah Rp 1000 dari setiap pengendara. "Maturnuwun, atos-atos (terimakasih, hati-hati)," pesannya.

Arus deras pasca hujan pun tak menyusutkan keberanian Rozak untuk menarik tali tambang yang digenggamnya kendati empat hari terakhir hujan mengguyur setiap malam di wilayah hulu sungai di kawasan Mojokerto, Jawa Timur itu bersama rekannya Sartono. Rozak menjelaskan alangkah entengnya bila menarik tali perahu tambangan pasca hujan.

"Mari udan ngene malah enak, gausah ditarik, mari disurung wes mlaku dewe sampek sebrang. (Setelah hujan begini malah enak, tidak perlu ditarik, setelah didorong sudah melaju sendiri sampai sebrang)," ujarnya kepada AyoSurabaya.com, Kamis (7/1/2021).

AYO BACA : Pemkot Surabaya Akui Keberatan Penerapan PSBB Jawa-Bali

Warga Jambangan gang 10 Surabaya itu menyebut, ketika musim kemarau, justru ia dan beberapa rekannya harus kerja ekstra keras untuk menariknya. "Lek ketigo malah soro, antep narike (kalau kemarau malah susah, berat nariknya)," katanya, lalu tersenyum.

Didampingi rekan sekaligus seniornya, Sartono, Rozak beroperasi menyeberangkan penumpang dari sisi sungai jalan Raya Mastrip di kelurahan Kedurus menuju jalan Jambangan di kelurahan Jambangan. Rozak menegaskan, para penumpangnya adalah loyalis. Menurut dia, para konsumenya adalah para pengendara yang tidak mau melintas jembatan Rolag Karah ataupun jembatan perbatasan di Sepanjang, Sidoarjo yang jaraknya lebih jauh satu kilometer atau sekitar 5 menit lebih lama.

Selain murah meriah, menggunakan jasa perahu tersebut adalah alternatif bagi pengendara, bahkan tak perlu bermacet-macet ria di jembatan yang jaraknya lebih jauh itu

"Gowo sembarang oleh, tarife podo mek sewu. Nak kene sing gak oleh iku mobil (Bawa apapun boleh, tarifnya sama cuma Rp 100p. Disink yang tidak boleh itu cuma mobil)," candanya.

Rozak mengaku tak menerapkan waktu tunggu untuk menyeberang. Baik lengang ataupun penuh, selama kapasitas atau kuota perahu tambang sepanjang 13 meter penuh ia dan rekannya langsung tancap gas. Durasi penyebrangan pun cukup singkat, hanya 3 menit sudah tiba di dermaga seberang.

AYO BACA : 1 Desa di Kabupaten Malang Terisolasi Akibat Jembatan Ambrol

"Gak kebek yo dibudalno kok, lek antri malah sakno (Tak sampai penuh ya diberangkatkan, kalau menunggu sampai antre malah kasihan),"  ungkap pria yang pernah mengenyam pendidikan di SDN Jambangan 2 Surabaya itu.

IMG-20210107-082316-1

Sedangkan, Sartono pun mengatakan pengoperasian kapal berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Untuk operatornya pun, ia dan beberapa rekannya saling berbagi shift. "Onok shift e mas, pegel lek ditandangi ijen sampek bengi (Ada shiftnya mas, capek lah kalau dilakukan sendiri sampai malam)," pungkasnya lalu meminum air mineral 300ml yang digenggamnya.

Pria yang akrab disapa Pak No itu mengaku terbantu dengan adanya "Titanic" itu. Menurutnya, biaya hidup keluarganya sedari dulu telah disokong dari hasil perahu tambang berbahan dasar kerangka besi itu. Ia pun mengaku telah mengoperasikannya selama puluhan tahun. "Lali mas tahun piro ngadek e, sakdurunge tahun 2000 wes onok (Lupa mas berdiri tahun berapa ini, sebelum tahun 2000 sudah ada)," jelas.

Kendati mematok tiket seharga Rp 1.000 untuk sekali jalan, tapi hasil operasional perahu tambang itu cukup menggiurkan. Pak No dan Rozak menyebut, dalam sehari bisa menghasilkan uang hingga Rp 1 juta. Namun, di awal pandemi Covid-19, omsetnya sempat tak stabil. Rozak menyebut, di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) misalnya, pendapatannya sempat menurun lantaran sepi penumpang sedari beroperasi sejak pukul 06.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Diluar pagebluk, Rozak mengaku juga prihatin. Pada hari libur, Rozak mengaku 'Titanic'nya sepi. Kendati demikian, Rozak menegaskan hasil yang diperoleh tak serta merta dibagi semaunya, melainkan disetor kepada pemilik perahu. Namun, ia dan rekannya memperoleh upah yang enggan ia sebutkan lebih detil.

Masyarakat kerap menggunakan perahu tambang sebagai alternatif. Selain menghindari kemacatan, warga pun menyebut durasi perjalanan lebih cepat. Selain di Jambangan-Kedurus, di sepanjang Sungai Kalimas Surabaya, ada belasan perahu tambang. Dari pantauan Ayosurabaya.com dilapangan, khususnya dari arah Mojokerto hingga Sidoarjo, ada beragam jenis dan ukuran perahu yang menyediakan jasa serupa.

Disisi lain, dari data yang diperoleh AyoSurabaya.com dari Dinas Pengairan Jatim, wilayah hilir Sungai Brantas terdapat 70 lokasi perahu tambang yang terdiri dari 65 lokasi tambang di Kali Surabaya, empat lokasi di Kalimas, dan satu lokasi di Kali Wonokromo. Tak heran, masyarakat memanfaatkan perahu tambang alias Titanic mini (gurauan warga sekitar) untuk menyeberangi sungai Kalimas, Surabaya, Jawa Timur itu.

AYO BACA : Diduga Mabuk, Pengendara Motor Tewas pada Kecelakaan di Tuban

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar