Berawal Iseng Bersepeda, Bondik Merambah Dunia BMX Freestyle

  Sabtu, 09 Januari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Hendri Setyawan 'Bondik' bersama sepeda BMX Street miliknya.

SEMOLOWARU, AYOSURABAYA.COM--Puluhan piala dan medali terpampang di atas almari ruangtamu sebuah rumah di Jalan Semampir, Semolowaru, Surabaya, Jawa Timur.

Mulai dari ajang lokal, nasional, hingga internasional. Di sampingnya, terdapat foto seorang pria menunggangi sepeda Bicycle Motocross atau yang dikenal dengan BMX.

Seluruhnya, adalah milik Hendri Setyawan. Sang atlet profesional BMX asli Surabaya. Sapa saja Bondik, sebab itu sebutan yang dikenal rekan dan keluarganya.

Sekilas, Bondik nampak seperti lelaki lainnya. Perawakan dempal, kulit sawo matang, dan masih kekanak-kanakan. Namun siapa sangka, di balik keluguan dan kelucuannya, ia adalah sosok yang mengharumkan nama Kota Surabaya hingga kancah Internasional.

Sepak terjang Bondik di dunia BMX Freestyle pun tak diragukan lagi. Beragam medali dan piala jadi bukti sekaligus saksi bisu perjuangannya.

Kepada AyoSurabaya.com, ia mengaku hanya iseng bermain BMX. Bondik menyebut, aksinya di atas Frame (kerangka sepeda) BMX juga tak bisa dilakukan sembarangan orang, terlebih tanpa pengawasan.

Lelaki lulusan SMKN 3 Surabaya itu mengaku mencintai olahraga BMX sejak tahun 2009. Kala itu, Bondik diajak beberapa teman kampung melihat perlombaan dan beragam atraksi anak-anak BMX. "Asyik aja, bisa muter, bisa balik-balik, bisa gaya-gayaan di atas sepeda," ucap alumnusĀ SMK PGRI 1 Surabaya itu kepada AyoSurabaya.com, Sabtu (9/1/2021).

Darisanalah, Bondik dan beberapa rekannya mencoba mempraktikan beragam trik. Mulai dari trik dasar BunnyHoop, Manual, Table Top, hingga Nose Wheel. Jatuh, diakuinya sudah sangat sering. Namun tak menyurutkan niatnya untuk beraksi di atas sepeda.

Beberapa bulan selanjutnya di tahun 2009, Bondik dan beberapa teman se-hobinya memberanikan diri berkawan dengan para rider BMX di Surabaya. Darisana, mereka saling sharing. Hingga akhirnya Bondik memberanikan diri mengikuti perlombaan lokal, Surya Pro di Taman Bungkul Surabaya. Aksi coba-cobanya mengeluarkan beberapa trik dasar membuahkan hasil, dirinya memenangi perlombaan tersebut dalam kategori Beginer atau pemula. Ia berhasil menyabet podium ketiga dan memenangkan hadiah berupa uang tunai, piagam, dan tropi.

Emosinya pun terpacu untuk meningkatkan skillnya. Bondik lantas semakin giat berlatih di Taman Bungkul Surabaya. Beragam trik yang dipelajari dari beberapa rider internasional melalui Youtube ia praktikkan. Jatuh lagi, bangun lagi, gagal lagi, begitu terus hingga ia berhasil melakukan trik yang ia kehendaki. Sampai akhirnya perpustakaan triknya semakin bertambah.

Bondik pun mengaku, hasil jerih payahnya beraksi di atas sepeda juga mengakibatkan beragam jenis luka di tubuhnya. Mulai borokan, lecet, sampai yang teparah yakni patah tulang. "Wah, sadis pokok'e mas. Kaki saya aja pernah lepas ini ligamen'nya. Tapi sekarang udah normal lagi," ujarnya lalu menunjukan bekas patah tulang kakinya.

Aksi Menegangkan

Meski demikian, orangtuanya pun sempat melarangnya. Ibunya pun terus menerus melarangnya. Tapi, Bondik bersikukuh masih berlatih sepeda. Sampai akhirnya ia mengikuti sejumlah perlombaan tingkat nasional dan menyabet beragam gelar bergengsi. Puluhan rider nasional pernah ia taklukan, dengan trik andalannya bacakflip dan doublewhip. "Backflip itu yang paling asyik, bisa muter badan dan sepeda, makin tinggii lompatnya makin asyik," pungkas putra pertama dari Yuheni itu.

Pada tahun 2014, Bondik mendapat endorse berupa uang tunai hingga produk dari beberapa brand terkenal. Ditahun tang sama pula, nasibnya berubah. Ia menjajal mengikuti ajang bergengsi kancah Internasional, yakni Indonesia Open X-Sports Championship. Ia pun menyabet juara lagi pada posisi pertama.

Kabar menggemberikan itu pun beredar ke semua penjuru, termasuk Pemerintah Kota Surabaya. Darisana, ia lantas diikutkan Pemkot Surabaya dalam ajang bergengsi FISE Imperial Series di luar negeri. "Waktu itu diberangkatkan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Surabaya, saya mewakili Surabaya sekaligus Indonesia," papar dia.

Selanjutnya, ia diberangkatkan oleh Pemkot Surabaya dan sponsorrnya untuk berlomba di negeri jiran Malaysia. Sesampainya di sana, Bondik mengaku 'kikuk'. Sebab, sejumlah rivalnya adalah para rider internasional yang kerap ia jumpai di Youtube. "Ya keder mas, biasanya ketemu di Youtube, lah pas nak kono (pas di sana) ketemu langsung, jadi setengah gila saya," guraunya lalu tertawa.

Akan tetapi, ia berusaha percaya diri (PD). Aksinya di atas spot BMX Park membuahkan hasil. Beragam trik saat melintasi bowl, jump box, hingga spin berjalan mulus. Aksinya mendapat poin tertinggi dari para juri BMX Internasional. Bondik pun memenangkan jawara pertama dalam kategori Junior kala itu. "Saya langsung telepon ibu saya, beliau nangis seneng anaknya menang. Saking senengnya, mungkin udah lupa sama marah-marahnya pas saya awal main (BMX) dulu hehehe," akunya.

Sepulangnya di kota pahlawan, ia pun disambut sejumlah rekan dan staf dari Dispora Pemkot Surabaya. Ia mengaku senang sekaligus bangga. Pasalnya, tak hanya mengharumkan nama kota kelahirannya, tapi juga negara Indonesia. "Ya bangga, ya seneng, campur-campur pokoke mas," tutur pria berusia 27 tahun itu. Selanjutnya, ia memamerkan beragam piala dan medali yang dimilikinya.

Ia berharap, para generasi selanjutnya untuk konsisten dalam berlatih. Ia ingin ada penerusnya dalam melakoni olahraga ekstrem itu hingga ke kancah internasional. "Ya pesan saya tetap semangat berlatih dan selalu hati-hati. Jangan lupa pakai safety (pengaman) dan selalu didampingi profesional rider saat latihan," tutupnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar