Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Diduga Jatuh Akibat Kehilangan Daya Angkut

  Selasa, 12 Januari 2021   Adi Ginanjar Maulana
Grafis pesawat Sriwijaya Air SJ 182

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM -- Kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di wilayah perairan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021), diduga akibat kehilangan daya angkut.

Ahli fisika Prof Budi Santoso menganalisis penyebab pesawat jatuh karena kehilangan daya angkat dan berbelok terlalu miring demi menghindari cuaca buruk.

"Biasanya, kalau kemiringan kebablasan akan dikoreksi oleh sistem kontrol. Namun, kalau ada turbulensi sistem kendali tak berdaya mengoreksi," ucap Budi, Selasa (12/2/2021).

Budi menyebut, pesawat Sriwijaya Air jatuh bebas hingga menukik. Dia menduga, pilot mencoba menghindari cuaca buruk secara tiba-tiba dengan posisi pesawat miring. Kondisi itulah yang menyebabkan pesawat Boeing tersebut tidak memiliki daya angkat.

"Ketika pesawat jatuh bebas, tiba-tiba saja orang kehilangan kesadaran, apalagi menukik. Pesawat menghantam permukaan laut dengan kecepatan tinggi, dalam keadaan mesin hidup. Pasti tangki bahan bakar pecah dan ditelan api mesin jet, hingga meledak," kata sekretaris jenderal Dewan Ketahanan Nasional (sesjen Wantannas) periode 2003-2005 itu.

Karena itu, Budi memprediksi, pesawat bukan meledak ketika berada di udara. Karena kalau meledak di udara, sambung dia, sebaran pecahan bodi pesawat luas. "Ini tersebar pula, cuma di dalam air. Itu tanda ledakan menjadi berkeping, bahkan tubuh pun berkeping," ujar Budi yang mengaku banyak mengamati jatuhnya pesawat yang kehilangan daya angkat karena posisinya yang miring.

Tidak Meledak Sebelum Membentur Air

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan, ada kemungkinan pesawat tidak meledak sebelum membentur air. 

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, hal tersebut dimungkinkan sesuai dari data lapangan yang didapat KNKT dari KRI Rigel.

Dia mengatakan, dari data KRI Rigel, sebaran wreckage memiliki besaran dengan lebar 100 meter dan panjang 300 sampai 400 meter. 

"Luas sebaran ini konsisten dengan dugaan bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air," kata Soerjanto.

KNKT juga telah mengumpulkan data radar (ADS-B) dari Airnav Indonesia. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, dari terekamnya data hingga pesawat berada di ketinggian 250 kaki mengindikasikan sistem pesawat masih berfungsi dan mampu mengirim data.

Dia merinci, dari data Airnav Indonesia, tercatat pesawat mengudara pada pukul 14.36 WIB. Selanjutnya, pesawat terbang menuju arah barat laut pada pukul 14.40 WIB hingga mencapai ketinggian 10.900 kaki.

"Tercatat, pesawat mulai turun dan data terakhir pesawat pada ketinggian 250 kaki," ujar Soerjanto.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar