Curhat Pelakon Taksi Laut Tanjung Perak di Tengah Hujaman Pandemi Covid-19

  Selasa, 12 Januari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Sejumlah taksi laut di Dermaga Ro-Ro, Tanjung Perak Surabaya. Selasa (12/1/2021). (Ayosurabaya.com/Praditya)

TANJUNG PERAK, AYOSURABAYA.COM -- Amin Asmuni terlihat begitu mahir mengemudikan taksi laut. Saat merapatkan dan menjalankan Dermaga Roro, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur terlihat tak ada kendala. Maklum, Asmuni telah melakoni pekerjaannya selama 43 tahun sedari 1977.

Di Surabaya, Jawa Timur, jasa transportasi perairan, seperti taksi laut ada di Pelabuhan Tanjung Perak berbeda dengan jasa perahu tambang. Sebab, taksi laut hanya mengantar para Anak Buah Kapal (ABK) menuju kapal yang sedang lego jangkar di tengah laut dan sebaliknya.

Begitu pula untuk mengangkut bahan atau material untuk memperbaiki kapal mulai plat baja hingga perbekalan serta kebutuhan kapal. Asmuni menyebut, armadanya mempunyai kapasitas angkut maksimal 13 ton.

AYO BACA : Kapal Perang Ini Bakal Derek Puing Pesawat, Benarkah Ada Penumpang Selamat Sriwijaya Air?

Asmuni mengaku sudah lupa berapa total penumpang yang pernah menggunaka! jasanya bolak-balik ke tengah laut. Menurutnya, mayoritas pelanggannya merupakan karyawan perusahaan yang beroperasi di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak dan ABK.

Sekali jalan, Asmuni menegaskan armadanya armadanya dapat mengangkut hingga 10 penumpang. Termasuk dengan sejumlah barang bawaannya.

Asmuni menjelaskan, sedari ia melakoni pekerjaan itu, ada kesenangan tersendiri yang dirasakan. Sebelum menjalani pekerjaannya sekarang, Asmuni mengaku pernah menjadi pengemudi angkutan umum.

AYO BACA : Harimau Berkeliaran di Hutan Pinus Gunung Wilis Tulungagung

“Dulu, saya pernah bekerja sopir, jamannya oplet. Terus pindah kapal,” aku Asmuni kepada Ayosurabaya.com, Selasa (12/1/2021).

Selain Asmuni, ada pula rekannya yakni Yusuf. Selama Pandemi, Yusuf mengatakan juga mengalami penurunan pendapatan. Kendati tak terlalu parah, tapi cukup membuat perekonomiannya terkoyak.

"Dulu, sehari saja saya bisa melayani enam orang. Sekarang agak sepi," aku pria berusia 45 tahun itu. Karena tidak ada permintaan untuk mengantar ABK, Yusuf hanya pasrah dan telah memarkirkan kapalnya di tepi dermaga. 

"Bukan hanya saya. Yang lain juga merasakan (sepi penumpang)," sambungnya.

Yusuf menerangkan, sepinya penumpang tak hanya disebabkan Pandemi Covid-19 saja, melainkan sejumlah hal. Menurutnya, bukan akibat banyaknya kapal penumpang yang ada, tapi juga larangan ABK kapal asing turun ke darat. Ia menyebut, selama ini Yusuf dan rekan-rekannya bergantung pada pelanggan yang didominasi ABK, dimana mereka sering ke darat hanya untuk istirahat dan mencari makan.

Yusuf menjelaskan, bisnis taksi laut sempat subur. Tak sedikit angkutan yang digunakan para saudagar kaya raya guna mengarungi perairan antarpulau. Sebut saja dari Jawa hingga Madura. Kini, sebagian taksi lauy masih bertahan dan para drivernya tergabung dalam sebuah paguyuban.

AYO BACA : Jangan Keluar Rumah Sendiri Saat PPKM!

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar