Harga Cabai di Jatim Meningkat, Musim Penghujan Dituding Penyebabnya

  Selasa, 12 Januari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Ilustrasi cabai

PABEAN CANTIAN, AYOSURABAYA.COM - Selain kedelai, harga cabai juga turut mengalami peningkatan. Hal tersebut berlaku pada sejumlah jenis cabai, seperti cabe merah keriting, cabai rawit, sampai cabai merah besar. Kenaikan itu teerjadi di beberapa pasar tradisional Jawa Timur, terutama di Surabaya. 

Informasi yang diperoleh AyoSurabaya.com menyebutkan, penyebab berkurangnya jumlah pasokan akibat turunnya produksi yang dikarenakan musim penghujan. 

Hal tersebut dibenarkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo. 

"Kenaikan harga cabai ini dipengaruhi beberapa hal, yang pertama menurunnya produksi di musim hujan," kata Hadi, Selasa (12/1/2021).

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Bahan Pokok (Siskaperbapo) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim pada Senin (11/1/2021) kemarin, harga rata-rata untuk  cabe merah besar biasa Rp 32.953 per kilogram, cabai merah besar keriting rata-rata Rp 48.528 per kilogram, dan cabai rawit Rp 72.104 per kilogramnya.

"Selain itu, pengaruh dari distribusi yang terhambat akibat adanya antisipasi pandemi covid 19," sambung Hadi.

Hadi menambahkan, cabai rawit adalah komoditas hortikultura di Jatim. Menurutnya, selama ini cabai berkontribusi sebesar 39% terhadap nasional. Ia menegaskan dibutuhkan teknologi yang efektif dan efisien dari pasca panen hingga distribusi agar jumlah produksi ini tak menurun seperti saat ini.

"Untuk itu, pemerintah memiliki program pendampingan produk hortikultura, dan mendorong hilirisasi terutama saat panen melimpah," tandasnya. 

Data dari Dinas Pertanian Jatim menyebutkan, tingkat konsumsi cabai di Jatim mencapai 67.008 ton per tahun. Namun, produksi cabai rawit tahun 2020 mencapai 612.978 ton dari luas panen 58.563 hektar. Sehingga, Jatim surplus 545.970 ton yang biasanya digunakan untuk menyuplai ke daerah lain

Potensi produksi cabai di Jatim tahun 2021, lanjut Hadi, untuk ketersediaan cabai rawit, potensi luas panen komoditi cabai rawit pada semester I, tepatnya pada Januari sampai Juni sebesar 22.853 hektar dengan produksi sebesar 286.923 ton.

Sedangkan, pada prediksi luas panen bulan Januari 2021 yakni 1.788 hektar, antara lain di Jember 205 hektar, Bondowoso 236 hektar, Kediri 33 hektar, Kabupaten Blitar 468 hektar, dan Malang 179 hektar. 

Namun, untuk prediksi produksi pada bulan Januari 2021 sebesar 17.493 ton dengan sebaran terbesar di Kabupaten Situbondo 1.075 ton, Banyuwangi 844 ton dan kediri 626 ha, Blitar 4.475 ton, dan Malang 1.385 ton.

Selain itu, potensi luas panen komoditi Cabai Rawit pada semester II, sekitar Juli hingga Desember sebesar 39.547 hektar yang berasal dari Kabupaten Sampang 6.647 hektar, Tuban 5.367 hektar, Blitar 8.212 hektar, Kediri 3.386 hektar, hingga Malang 3.018 hektar. 

Sedangkan, untuk potensi produksi pada semester II sejak Juli sampai Desember sebesar 366.742 ton, utamanya di Kabupaten Probolinggo 21.631 ton, Tuban 20.763 ton, Blitar 103.289 ton, Kediri 29.040 ton, dan Malang 40.185 ton.

Disisi lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Dadang Hardiwan menyebutkan komoditas cabai rawit pada Desember 2020 sudah menjadi penyumbang inflasi. Ia menuturkan, cabai menyumbang inflasi dengan tren kenaikan harga mencapai 51,58 persen. 

"Namun, NTP ini memang masih di bawah 100 yang berarti pengeluar petani lebih besar dibandingkan pendapatannya," tutur Dadang.

Dadang menilai, kondisi itu berdampak pada kinerja Nilai Tukar Petani (NTP) untuk subsektor hortikultura yang naik 2,22 persen yakni menjadi 97,82 pada Desember dibandingkan NTP November 95,70.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar