Pengrajin Mebel Asal Surabaya Banjir Orderan Peti Jenazah selama Pandemi Covid-19

  Kamis, 28 Januari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Sutrisno, seorang pengusaha mebel yang beralih menjadi pembuat peti mati di Surabaya. (Praditya Fauzi Rahman/ayosurabaya.com)

GUBENG, AYOSURABAYA.COM -- Antara perasaan senang dan sedih berkecamuk di hati Sutrisno, seorang pengusahan mebel yang beralih menjadi pembuat peti mati di Surabaya. 

Kepada AyoSurabaya.com, pengrajin mebel yang membuka usahanya di Jalan Raya Menur nomor 117 itu mengaku merasa karena memperoleh order yang membuatnya pontang panting saking banyaknya. Namun, disisi lain ia merasa sedih lantaran jumlah korban meninggal akibat Covid-19 kian bertambah. 

Sutrisno menceritakan selama pandemi usaha mebel yang digelutinya bersama para pekerjanya itu sepi pesanan. Namun di pertengahan tahun 2020, tepatnya bulan Mei, ia memutuskan untuk melayani pembuatan peti jenazah bersama delapan karyawannya. 

"Pas puasaan tahun kemarin kita melayani ini (peti jenazah)," ujarnya saat dijumpai di diler mebel miliknya, Kamis (28/1/2021). 

Sampai kini, Sutrisno masih menerima pesanan peti jenazah. Menurutnya, jumlahnya pun masih terbilang tinggi. 

Ketika dikunjungi di tempat kerjanya, ia tampak sibuk mengecek hasil peti jenazah yang telah dikerjakan para pekerjanya. Kendati menjadi pemilik, Sutrisno tak segan turun gunung, ia turut menghaluskan,  memotong, hingga melakukan proses akhir terhadap kayu yang hendak digunakan untuk peti jenazah. 

Meski rampung, Sutrisno tak mau ada kekurangan pada produknya. Ia lantas mengecek proses finishing pada peti kayu itu. 

AYO BACA : 10 Nama Desa Unik di Jawa Timur, Bermakna Seram dan Vulgar

Sutrisno mengungkapkan, bentuk dan model harus sesuai konstruksi. Dengan harapan, tak ada pelanggan yang kembali hanya untuk komplain, melainkan menjadi pelanggan setia. 

“Ya harus sesuai konstruksi, mulai dari kekuatan atau kapasitasnya, itu kita pertimbangkan," sambungnya. 

Pria asal Lamongan, Jawa Timur (Jatim) itu lantas menunjukan bagian-bagian vital dalam pengerjaan peti mati. Seperti perekat yang digunakan untuk menggabungkan kayu satu sama lain yang menurutnya harus menggunakan paku yang sesuai serta tenaga ekstra. 

"Ini (paku yang digunakan), nggak boleh pakai paku tembak, harus tenaga manusia," tandasnya. 

Sutrisno menjelaskan, bersama karyawannya ia bisa merampungkan belasan peti jenazah dalam waktu sehari saja. “Setiap harinya, kadang 15 peti jenazah. Bisa kurang, bisa lebih," lanjut dia. 

Dalam sepekan, sambung Sutrisno, ia bisa menyelesaikan puluhan peti jenazah bersama para karyawan loyalisnya. Seluruh peti bukan hanya untuk memenuhi pihak pemesan, tapi juga persediaan ketika ada pesanan mendadak. 

"Kadang bisa sampai 30 peti seminggunya," singkatnya. 

AYO BACA : Pesan Gubernur Jatim untuk Kapolri Baru

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar