Kisah Polwan di Surabaya, Pengabdian Menggunakan Motor dan Pengalaman Balapan Liar

  Minggu, 31 Januari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Foto AKP Farida Aryani saat menunggangi sepeda motor supermoto di postingan akun Instagram pribadinya, Minggu (31/1/2021).

TAMBAKSARI, AYOSURABAYA.COM - Farida Aryani tersipu malu saat menceritakan pengalaman hidupnya bermain motor kepada AyoSurabaya.com. Sesekali, ia menunjukan foto ketika ia tengah mengendarai sepeda motor trail Kawasaki KLX 250cc. 

Perlahan, ia menceritakan awal mula ia mengenal roda dua, hingga akhirnya jatuh cinta dengan sejumlah sepeda motor sport dan offroad yang kini ia miliki. Seolah, sepeda motor adalah bagian dari hidupnya yang tak dapat terpisahkan. 

"Saya mulai mengenal sepeda motor itu dari Sekolah Dasar (SD), waktu saya tinggal di Kalimantan," kata wanita berusia 45 tahun itu kepada AyoSurabaya.com, Minggu (31/1/2021). 

Semakin hari, rasa cintanya terhadap sepeda motor kian bertambah. Seakan, sepeda motor adalah suami keduanya. Farida menuturkan, ia mulai lebih dekat dengan dunia otomotif, terutama sepeda motor ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). 

Saat itu, Farida bersama orangtua hijrah ke Tanjung Perak Surabaya. Di sekitar rumah Farida terdapat jalan yang sering digunakan pembalap liar dan hal inilah yang semakin memotivasinya untuk lebih mengenal sepeda motor. 

"Jadi, suka trek-trekan (balapan) waktu rumah saya pindah di Tanjung Perak, karena saya kan asli Kalimantan. Kebetulan, di Perak itu mayoritas anak balap motor semua, seperti Franky Laurens," sambungnya. 

Polwan berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) itu menegaskan, ketika duduk di kelas 1 SMP, ia mengaku nekat mengikuti beragam balap liar. 

AYO BACA : Panduan Diet GM, Metode Turunkan Berat Badan dengan Cepat dalam 7 Hari

Farida menjelaskan, darisana lah awal mula ia memutuskan untuk lebih mengulik sepeda motor. Ia berupaya bergaul dengan sebayanya yang mayoritas kaum adam dengan harapan bisa membimbingnya ke dunia balapan yang lebih baik. 

"Waktu itu, masih SMP kelas 1 sudah mulai suka trek-trekan. Jadi, sampai sekarang masih suka," bebernya. 

Pengabdian Naik Harley Davidson
Tak berhenti sampai disana, ketika ia mulai mengawali karir sebagai Polwan di Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim), ia menduduki jabatan yang diinginkan yakni Patroli dan Pengawalan (Patwal). Ketika itu, lanjut Farida, ia ditantang atasannya untuk menunggangi motor gede (Moge). Sepeda motor yang dikendarainya kala itu adalah Harley Davidson dengan kapasitas mesin 1000cc. 

"Kebetulan, pada saat saya baru menjadi polisi saya di Patwal Polda Jatim, sempat pegang sepeda motor laki untuk patroli, saat itu Harley Davidson. Pernah juga pegang unit roda 4. Cuma, hebohnya dulu tidak seperti sekarang yang ada atraksi dan lain sebagainya, kalau dulu ya cuma Patwal aja," tandas mantan Kanit Reskrim Polsek Tambaksari Surabaya itu. 

Dalam rutinitas sehari-hari dan menjalani profesinya sebagai polisi, Farida mengaku lebih enjoy mengendarai sepeda motor. Ia menganggap, sepeda motor sangat membantunya untuk berbaur dan bersosialisasi dengan seluruh elemen masyarakat, terutama di kawasan perkampungan yang hanya bisa disambangi dengan roda dua saja. 

"Saya kadang pakai motor trail, kadang naik CBR dan KTM. Tapi kalau untuk sama rekan-rekan (polisi) naik Honda CRF trail. Menggunakan motor saat sosialisasi di pembinaan masyarakat ini sangat membantu banget, terutama untuk masuk ke daerah-daerah tertentu," sebutnya. 

Ketika blusukan ke beberapa perkampungan di Surabaya, Farida sempat mengingat pujian yang dilontarkan warga. Ia merasa bangga lantaran disebut sebagai Girl Track. Menurutnya, sebutan itu masih membekas dihatinya dan semakin bersemangat untuk menyelaraskan tunggangannya dengan pekerjaannya saat ini. 

AYO BACA : Bareskrim Polri Akan Periksa Abu Janda Besok

"Waktu itu, saya pernah jadi Kanit Binmas di Polsek Simokerto, itu kami patroli menggunakan sepeda motor Sabhara untuk masuk-masuk kampung, blusukan cangkrukan, dan sempat dipanggil Mantan Girl Track, sempat jadi pusat perhatian," pungkas wanita yang kini menjabat sebagai Kanit Binmas Polrestabes Surabaya itu. 

Luka Memar Sudah Biasa 
Terkait pengalamannya berkendara, Farida mengungkapkan sering mengalami luka memar. Namun, ia pernah mengalami luka paling fatal adalah retak pada bagian lututnya. 

"Kalau saya Alhamdulillah belum pernah dan tidak meminta sampai parah, misal sampai patah tulang, tapi cuman memar-memar saja. Tapiz pernah juga sih retak di bagian lutut, karena waktu itu sedang cornering pas naik supermoto di awal-awal jadi polisi, waktu masih pangkat Nripda, tahun 1998," akunya. 

Meski demikian, Farida tak mengindahkan rasa sakitnya. Ketika pulih, ia justru ingin melakukan aksi serupa agar lebih khatam dengan medan dan skill yang sebelumnya belum dikuasainya. 

"Yang pasti saya tidak kapok dan tetap bermain motor, karena sudah hobi. Saya sering pakai Safety Riding seperti jersey dan Protector termasuk helm. Setelah jatuh, besok ya main lagi, besoknya juga main lagi sampai sekarang," jelas dia. 

Istri dari Bayu Firmansyah itu semakin mencintai motor trail ketika telah merasakan medan offroad. Hingga kini, ia mengaku sangat terkesan dengan sepeda motor ala kaum adam itu. Bahkan, ia enggan menjual sepeda motor Kawasaki KLX kesayangannya meski pernah ditawar dengan harga selangit, yang enggan ia sebut lebih detil. 

"Saya sampai sekarang yang paling berkesan itu naik motor KLX 250, karena itu motor pertama kali yang saya punya makanya sampai sekarang tidak saya jual," tutupnya. 

 

AYO BACA : Jangan Minum 9 Jenis Obat ini dengan Teh

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar