Jika Masih Ada Penolakan Warga, RS Rujukan Covid-19 di Cito Tidak Akan Dibuka

  Jumat, 05 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Penolakan para pedagang dan penghuni City of Tomorrow (Cito) dengan pihak manajemen Rumah Sakit (RS) Siloam Surabaya telah terjadi pada Rabu (3/2/2021)

GENTENG, AYOSURABAYA.COM -- Silang pendapat antara penolakan para pedagang dan penghuni City of Tomorrow (Cito) dengan pihak manajemen Rumah Sakit (RS) Siloam Surabaya telah terjadi pada Rabu (3/2/2021) lalu. Bahkan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya pun turun ke lokasi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dalam rencana proses pembangunan dan operasional RS rujukan Covid-19 itu.

Terkait hal itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya masih mengevaluasi tentang rencana RS Siloam membuka RS Darurat Covid-19 yang berada di Mall Cito itu. Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Surabaya, Whisnu Sakti Buana pun angkat bicara dalam kasus tersebut.

"Kemarin kan sempat ada demo dan saya juga sudah kontak ke Siloam,” terang Whisnu kepada awak media, Jumat (5/2/2021).

Whisnu menambahkan, pihaknya juga tak akan mengizinkan pembangunan dan operasionalisasi RS Darurat Covid-19 itu bila ada penolakan dari warga. “Kalau sampai ada penolakan warga, kita tidak akan izinkan," sambungnya.

Whisnu menegaskan, sebelum RS Darurat Covid-19 dioperasikan, pengelola harus mematuhi seluruh persyaratan sampai terpenuhi. Contohnya, lanjut Whisnu, mulai dari adanya batas tegas dengan mall sampai menyediakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sesuai peraturan.

Menurutnya, tak ada dispensasi untuk persyaratan dan harus sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI).

Kata Whisnu, regulasi tersebut menjadi hal penting demi keselamatan warga sekitar area RS Darurat Covid-19 itu.

"Bicara keselamatan warga, itu adalah hukum tertinggi bagi kami. Untuk IPAL, mereka siap membangun sendiri,” papar dia.

“Karena, itu sebagai salah satu standar utama menyangkut limbah. Jadi, kita terus lakukan pendampingan," timpal Whisnu melanjutkan.

Kata Whisnu, saat ini RS rujukan Covid-19 masih dibutuhkan di kota pahlawan. Kendati menurut dia jumlah pasien di RS mengalami penurunan. Namun, Whisnu tetap memperhatikan masukan dari masyarakat, begitu juga pengelola tenant atau stand yang ada sampai para penghuni yang tinggal di apartemen dan mall yang berada di kawasan perbatasan Surabaya dengan Sidoarjo itu.

"Walaupun, sudah kita persuasif, tapi warga tetap tidak mau. Berarti, harus kita tunda dulu (pembukaan RS),” ujar dia.

Dengan demikian, Whisnu mengungkapkan pihaknya bisa melanjutkan sembari mensosialisasikan di kelurahan beserta tokoh masyarakat terkait.

Whisnu menegaskan, Pemkot Surabaya akan terus berkonsentrasi dalam menambah kapasitas Bed Occupancy Rate (BOR) di RS sesuai Surat Edaran (SE) dari Kementerian Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Lanjutnya, Pemkot Surabaya sampai saat ini juga terus memantau pihak RS Siloam yang tengah mempersiapkan itu semua.

Mantan Wawali Kota Surabaya itu berharap, tak ada lagi lonjakan kasus positif Covid-19 di Surabaya dan situasi buruk seperti saat ini segera usai. Berharap tidak ada lonjakan lagi, tapi tetap kita persiapkan segala sesuatunya lebih matang," tandasnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, para penghuni apartemen dan pemilik tenant menolak pembangunan RS rujukan Covid-19 yang dibesut Siloam pada Rabu (3/2/2021) lalu. Selang sehari kemudian, Komisi A DPRD Kota Surabaya yang mendengar adanya penolakan itu langsung sidak ke lokasi. Selanjutnya, Komisi A DPRD Kota Surabaya meminta pihak manajemen RS Siloam untuk membatalkan rencana pembukaan dan pengoperasionalan RS rujukan Covid-19 tersebut. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar