Cerita Pengrajin Topeng Barongsai Kala Pagebluk

  Minggu, 07 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Dwi Setyawan pengrajin Barongsai dan Reog Ponorogo. (Ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

GUBENG, AYOSURABAYA.COM -- Dwi Setyawan begitu sumringah saat AyoSurabaya.com mengunjungi lapak tempatnya menjajakan aneka topeng Barongsai dan Reog Ponorogo. “Monggo mas pinarak, bade ningali ingkang pundi niki (Silahkan duduk mas, mau lihat yang mana ini),” kata Dwi lalu mengambil topeng Barongsai berukuran mini, Minggu (7/2/2021).

Setelah bersenda gurau sekitar 5 menit, lalu Dwi mengkisahkan bagaimana awal mula ia mulai berjualan pernak pernik khas Imlek tersebut kepada AyoSurabaya.com.

Kulo sadean Barongsai milai tahun 2006, Mas. Pas niko kulo namung iseng ndamelaken yugo kulo (Saya berjualan Barongsai mulai tahun 2006, Mas. Waktu itu saya Cuma iseng saja membuatkan anak saya),” papar Dwi saat dijumpai di lapaknya yang berada di Jalan Kertajaya Gang 5 Raya atau Gang Reog Surabaya.

Ia mengaku sangat beruntung kala itu, lantaran hasil karya iseng-isengnya dapat mendulang pundi-pundi rupiah. Istrinya pun mengusulkan agar Dwi tak hanya sekedar berkarya, tapi juga mengkomersilkannya dengan cara berdagang dan memperbanyak pembuatan topeng Barongsai.

Dwi mengamini perkataan istrinya. 

Ia lantas memperbanyak jumlah topeng reog dan barongsai yang ia buat. Seiring berjalannya waktu, jumlah kerajinan topeng yang dibuatnya kian banyak. Istrinya yang begitu bersemangat kala itu membantu suaminya untuk menjajakan aneka topeng dengan bahan dasar kertas daur ulang itu ke sejumlah kampung di sejumlah daerah di Kota Surabaya.

Pertama niku, kulo ndamelaken topeng Reog, sanjange garwo kulo ndamel sing katah mawon mangke disade melih. Pas sampun katah, garwo kulo sadean ider kampung-kampung (Pertama itu, saya membuatkan topeng Reog, kata istri saya buat yang banyak saja nanti dijual lagi. Pas sudah jadi banyak, istri saya menjualnya keliling kampung),” sambungnya lalu tersenyum.

4 tahun kemudian, jerih payahnya membuahkan hasil. Topeng buatannya dilirik para pecinta kesenian Barongsai. Bahkan, permintaan kian membeludak saat perayaan Imlek datang di tahun 2010 silam.

Menawi Barongsai niki, pas tahun 2010 milai katah ingkang pesen, tahun niku nggih pas rame-ramene pesenan (Kalau Barongsai ini pas tahun 2010 mulai banyak permintaan, tahun itu juga pas rame-ramenya pesenan),” beber pria yang memiliki 3 buah hati itu.

AYO BACA : Imlek di Kampung Pecinan Tambak Bayan Akan Sepi

Dwi menyebut, menjelang perayaan Imlek dagangannya bak kacang goreng yang laris manis. Ketika ia mampu membuat 5 hingga 10 biji perhari langsung ludes. Selama perayaan Imlek, ia mampu menjual 150 hingga 200 biji.

Untuk mayoritas pembeli dari segala daerah. Di kawasan Jatim, Dwi mengaku sering mendapat pesanan dari Kediri, Lumajang, Lamongan, Malang, dan tuan rumah, Kota Surabaya. Sedangkan, dari luar kota dan luar pulau, berasal dari Semarang, Papua, Bali, Kalimantan. Bahkan, buatannya juga pernah diborong Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Hongkong.

Menawi (kalau) pelanggan-pelanggan setia saking (dari) Pakuwon City, dan dari Pasar Atom, Surabaya,” jelasnya.

Selain topeng Reog dan Barongsai, Dwi mengaku juga kerap memperoleh orderan berupa Leang-Leong (Kesenian Naga khas China). Bahkan, ia juga pernah memperoleh orderan Barongsai berukuran jumbo.

Dari mancanegara nggih pernah, misalnya dari Hongkong pernah juga, sama Leang-Leong ndamel (menggunakan) bambu,"katanya.

Harga yang dipatok Dwi pun cukup terjangkau. Untuk setiap topeng Barongsai untuk anak-anak, dibandrol Rp 50.000,00 hingga Rp 350.000,00. Sedangkan, semakin besar ukuran dan bahan yang diminta, maka semakin mahal pula harga yang disematkan.

“Tergantung motif dan ukuran, yang paling mahal niku kulo paringi kedip mripat kaleh lampu (saya kasih kedip mata dan lampu),” pungkas pemain Reog Ponorogo itu.

Dwi mengaku, ia juga melayani orderan sesuai kehendak pelanggan alias pre order. Ketika ia memperoleh pesanan tahun 2014 misalnya, yang meminta bahan dari bambu seperti bentuk dan bahan seperti asli, Dwi pun meladeninya.

Namun, saat disinggung terkait persaingan kerajinan serupa di tempat perbelanjaan modern, Dwi mengaku enggan membeber barang dagangannya mall atau pun departemen store. Dwi mengaku minder lantaran hasil karyanya masih jauh dari kata sempurna. Terlebih, dengan era seperti saat ini.

Menawi nitip ten mall nggih kirang pajeng mas, soale katah ingkang sae kados asline. Misale, ten pasar Kodam niku tasih pajeng, menawi ten mall nggih pajeng tapi mbote katah. No po melih menawi ten mall kinging AC nggih mboten saget, dadose lembek, mboten saget awet (Kalau titip di mall itu saya rasa kurang laku, karena ada yang lebih bagus, seperti yang asli. Misalnya, kalau di pasar tradisional seperti Kodam itu masih laku, kalau ditaruh di mall ya laku sih tapi tidak banyak. Lagian punya saya ini kalau kena AC bisa menjadi lembek, tidak tahan lama),” tutup dia lalu menunjukan proses pembuatan topeng Barongsai.

AYO BACA : Kampung Pecinan Tambak Bayan Saksi Sejarah Perjalanan Etnis Tionghoa Surabaya

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar