Pabrik Tahu Tertua di Surabaya Masih Gunakan Alat dan Cara Tradisional

  Selasa, 09 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Suasana proses produksi pengolahan kedelai menjadi tahu di UD Sumber Kencana, Dinoyo, Surabaya. Selasa (9/2/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

TEGALSARI, AYOSURABAYA.COM -- Kota Surabaya menyimpan banyak sejarah penting. Mulai dari kisah perjuangan arek-arek Suroboyo, tempat bersejarah, hingga para tokoh yang terlibat dalam sejarah.

Terlepas dari itu semua, ada salah satu kisah menarik dari kota pahlawan tersebut yaitu sejarah panjang produsen tahu di Kota Surabaya. 

Berlokasi di Jalan Dinoyo nomor 81–83 Surabaya, bangunan tua Unit Dasar (UD) Sumber Kencana masih berdiri kokoh. 

Kabar yang beredar di sekitar bangunan itu, UD Sumber Kencana mulai membuat tahu sejak 1952.

Riani yang merupakan generasi kedua membenarkan hal itu. 

Istri almarhum Go Sin Hwa, putra pewaris pemilik pabrik tahu UD Sumber Kencana Go Loe Tjiauw, menjelaskan sebelum beroperasi di Surabaya, keluarganya sudah terlebih dulu mendirikan pabrik tahu di Kabupaten Solo.

AYO BACA : Polri Benarkan Ustaz Maheer Meninggal Dunia di Tahanan Senin Malam

Dia menceritakan awal mula pabrik tahu itu mulai berdiri dan beroprasi. 

Sembari mempersiapkan kedelai yang hendak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tahu, Riani mengatakan sepeninggal Go Loe Tjiauw, pabrik tahu Dinoyo Surabaya diteruskan putranya, Go Sin Hwa yang merupakan suaminya. 

Namun, suaminya berpulang pada tahun 2014. 

Riani mengatakan bisnis tahu keluarganya itu tidak mengalami perubahan besar sejak didirikan 68 tahun silam. 

Bangunan lama yang mengelilingi pabrik tahu terlihat masih berupa aslinya. Langit-langitnya terbuat dari anyaman bambu. Begitu juga dengan peralatan produksi yang masih sederhana. Alat itu sudah digunakan sejak generasi pertama.

Sejak didirikan, Riani menyebut sedikitnya ada 20 orang yang bekerja di pabrik tahu milik ayah mertuanya itu. Mereka tinggal di sekitar pabrik. Menurut Riani, ayah mertuanya sengaja membangun hunian itu dengan tujuan untuk memfasilitasi karyawan pabrik yang berasal dari luar kota Surabaya dengan harapan tak kelelahan melakukan perjalanan jauh.

AYO BACA : Polri Jelaskan Penyebab Meninggalnya Ustaz Maher

Ia menambahkan, karyawannya terbilang loyal. Sebab setelah 2 generasi berlalu, jarang ada pergantian karyawan. Tak heran, para karyawan melakukan pekerjaan secara turun temurun kepada anak cucunya.

Wanita yang kerap dipanggil dengan sebutan ‘Mami Tahu’ itu berharap bisnis keluarganya yang berusia hampir 70 tahun itu bisa bertahan dan bersaing dengan pabrik tahu yang menggunakan alat modern.

“Sudah tua, semoga bisa jaya seterusnya,” ungkapnya. 

Dalam sehari, pabriknya bisa membuat hingga 200 kilogram tahu. Proses produksi pabrik dimulai setiap hari sejak pukul 24.00 WIB. Sekali produksi, para karyawan membuat adonan tahu hingga 300 kali masak dan menghasilkan delapan papan tahu. Dia mengatakan tahu buatannya tidak menggunakan bahan pengawet sehingga hanya bisa maksimal empat hari saja. 

Selain tahu, ia juga memanfaatkan ampasnya untuk dijual kepada orang yang membutuhkannya. Dalam sehari, ia mampu menjual dua karung ampas.

Untuk bahan baku yang digunakan, Riani menyebut pernah menggunakan kedelai lokal. Namun, kini kedelai lokal jarang dijumpai lantaran jarang ada petani yang menanamnya. Sampai akhirnya ia beralih menggunakan kedelai impor asal Amerika Serikat. Hal tersebut pun juga menjadi kendala, lantaran saat kurs dolar naik, otomatis harga kedelai mengikuti.

Selain masalah kedelai, ia pun harus pintar-pintar mengelola keuangan untuk mengurus perizinan pabrik yang menurutnya mahal, tarif listrik yang naik, hingga biaya PDAM yang menyedot anggaran tak sedikit.

 

AYO BACA : Indonesian Idol: Fimela Harus Pulang, Melisa dan Fitri Masuk Voting Terendah

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar