Keluh dan Asa Paguyuban Barongsai di Surabaya Hadapi Imlek saat Pagebluk

  Rabu, 10 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Ketua Barongsai Boen Bio Surabaya Dony Djhung menunjukkan foto saat dirinya beraksi pada Imlek tahun 2020 lalu kepada AyoSurabaya.com di Kawasan Kapasan Dalam, Rabu (10/2/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

SIMOKERTO, AYOSURABAYA.COM -- Dampak pandemi Covid-19 dirasakan para seniman Barongsai di Surabaya. Selain sepi tanggapan, mereka juga tak bisa merayakan Imlek dengan semarak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Barongsai Boen Bio Surabaya, Dony Djhung, membenarkan hal itu. 

Ia mengatakan dalam Imlek pertama di kala pagebluk ini, kelompoknya tak bisa beraksi lagi. Bahkan, nihil atau tidak ada sama sekali.

Lalu, bagaimana keseharian para punggawa Barongsai Boen Bio saat tidak ada orderan? 

AYO BACA : Daftar Makanan Berkalori Rendah untuk Turunkan Berat Badan

Dony menceritakan ia dan 20 rekannya melakukan rutinitas harian sesuai kapasitasnya masing-masing.

Dony menegaskan, seluruh anggotanya berasal dari berbagai kalangan yang tersebar di sejumlah wilayah di Surabaya. Ada yang bekerja sebagai pegawai, mahasiswa, pengusaha, hingga masih kanak-kanak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

"Total ada 20 orang di Barongsai saya. Teman-teman tidak melulu mengandalkan job Barongsai, ada yang juga bekerja, ada yang mahasiswa, ada juga yang masih SD, jadi mereka kesehariannya bekerja sesuai pekerjaan masing-masing,” jelas Dony sembari menunjukan salah satu foto saat ia beraksi di balik busana Barongsai, Rabu (10/2/2021).

Perihal Imlek di masa pandemi seperti saat ini, Dony mengungkapkan kegusarannya. Sebab, selain tak bisa merayakan ibadah dan perayaan, tapi juga terkendala perizinan dari pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk manggung.

AYO BACA : 7 Cara Menahan Nafsu Makan demi Menurunkan Berat Badan

Dony mengaku, ia dan 20 rekannya hanya pasrah dan tetap mematuhi regulasi yang dikeluarkan oleh pihak terkait.

“Bagaimanapun, kita izin dulu dengan Pemkot, diizinkan atau tidak, walaupun hanya ngetiam (memberi syarat) untuk kampung saja. Kalaupun diizinkan, itu juga hanya formalitas, agar kampung ini lebih damai dan banyak rezeki,” papar dia.

“Tapi, khususnya teman-teman Barongsai, mereka mengeluh, biasanya banyak latihan dan main, nah ini sering banyak dirumah jadi kurang sehat,” timpal pria asal Lamongan itu.

Untuk menjaga kesehatannya ia melakukan kegiatan senam dan Kung Fu.

“Seperti saya ini, biasanya jungkir balik di Barongsai, lalu diam saja dirumah. Itu tidak enak, tapi setiap pagi saya senam Taichi untuk jaga kesehatan,” tutupnya, lalu menunjukan fotonya lagi.

 

AYO BACA : PPKM Mikro Kota Surabaya Terbagi dalam 3 Zona

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar