Warga Tionghoa di Kapasan Dalam Surabaya Tanggapi Aturan Imlek saat Pandemi

  Kamis, 11 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Suasana jelang imlek di Kapasan Dalam Surabaya. (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

SIMOKERTO, AYOSURABAYA.COM -- Pemerintah Kota Surabaya mengeluarkan Surat Edaran tentang Aturan Pelaksanaan Tahun Baru Imlek di Masa Pandemi, Rabu (10/2/2021).

Dalam edaran itu, ada sejumlah poin yang wajib dipatuhi warga Tionghoa dalam perayaan Imlek pada tahun Kerbau Emas ini.

Mulai dari tidak boleh mengadakan pawai, lomba, pertunjukan atau atraksi, membatasi kapasitas rumah ibadah, hingga mengirim angpao dan silaturahmi via daring.

Lantas, bagaimana tanggapan dari warga Tionghoa?

Bendahara Rukun Warga (RW) 8 Kapasan Dalam, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya, Cyandra menegaskan akan tetap mematuhi segala peraturan yang dikeluarkan pemerintah dalam perayaan Imlek dalam masa Pandemi Covid-19 kali ini.

"Kita tetap ikut peraturan atau imbauan dari pemerintah, kita tidak mengadakan acara ramai-ramai, kita tidak mengumpulkan orang banyak," terang Cyandra saat dijumpai AyoSurabaya.com, Kamis (11/1/2021).

AYO BACA : Pemkot Surabaya Edarkan Aturan Pelaksanaan Tahun Baru Imlek di Masa Pandemi

Namun, Cyandra mengaku tak bisa melarang atau membatasi pengunjung yang hendak berkunjung ke kampungnya. Asalkan semuanya mematuhi protocol Kesehatan.

Dia mempersilakan siapapun dan kapanpun untuk berkunjung serta melakukan foto pada dinding grafiti bahkan patung naga miliknya.

"Tapi, kalau ada orang mau lihat untuk berkunjung ya silahkan, misalnya ada pegowes (pesepeda) pengen foto-foto, ya silahkan," sambungnya.

Pebisnis konveksi itu hanya bisa berharap agar pandemi Covid-19 segera usai. Lantaran, tak sedikit warganya yang kehilangan pekerjaan dan melemahkan perekonomian warga Kapasan Dalam Surabaya selama hampir setahun.

"Kita berharap, agar cepat pulih ya seperti dulu, jadi masyarakat bisa beraktivitas lebih baik lagi. Ekonomi juga jalan, karena masyarakat disini kan kerjaannya tidak menentu kalo keadaannya kayak gini," harap Cyandra.

Senada dengan Cyandra, sesepuh atau tokoh Kampung Pecinan (Tionghoa) Kapasan Dalam Surabaya, Dony Djhung pun demikian.

AYO BACA : Cara Melangsingkan Tubuh untuk Usia 30-an, 40, dan 50

Ia merasa Imlek tahun 2021 sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Dony menyebut perayaan Imlek tahun sebelumnya dilalui semarak dengan atraksi Barongsai, silaturahmi antar warga, hingga pelbagai perlombaan di kampung.

"Sebetulnya, kalau Imlek disini pada tahun sebelumnya sangat meriah, sesama tetangga atau saudara saling guyub dan berkumpul untuk sembayang bersama kepada leluhur, seperti ada Barongsai dan Leang-Leong, ada Dewa Rejeki juga yang turun," paparnya.

Pria asal Lamongan itu mengaku akan tunduk dengan regulasi pemerintah terkait perayaan Imlek selama PPKM Mikro di masa Pandemi Covid-19. Oleh karena itu, ia menyatakan hanya melakukan persembayangan di rumah, begitu juga dengan warga lainnya.

"Memang tidak ada ramai-ramai, karena mengikuti regulasi dari pemerintah, tapi kami ssbagai suku Tionghoa ya mengadakan sembayangan di rumah masing-masing," ungkapnya.

Kendati demikian, Dony ingin melakukan atraksi Barongsai. Ia beranggapan, Barongsai yang hendak dilakukan hanya sebagai formalitas belaka dan menjamin tidak akan ada keramaian.

"Meskipun demikian, kita tetap mengadakan Barongsai, tapi hanya sebagai formalitas, hanya menyarati saja, hanya berkeliling saja memberi 'Ci Suak', artinya menyarati setiap kampung di kapasan dalam agar masyarakat sini bisa lebih bahagia, damai, dan saling menyatu. Biasanya ada Barongsai, tapi nanti bagaimana kami masih menunggu regulasi dari pemerintah, karena ada kebijakan untuk masyarakat juga," tegasnya sambil menunjukan foto Barongsai yang ia kenakan saat manggung.

Untuk persembayangan di Klenteng Boen Bio, Dony mengatakan sudah melakukan persiapan. Ia telah memasang sejumlah ornamen Imlek bersama warga dan para pengurus klenteng yang letaknya berada di kawasan Pasar Kapasan Surabaya itu.

"Kalau di klenteng Boen Bio ada bunga sedap malam, ada lampion, dan disini ada 'Lause' (guru besar), karena memiliki aturan yang berbeda dengan klenteng lain. Kalau disini (Boen Bio) ada 8 kebijakan yang lebih mementingkan menjalani hidup sehari-hari, itu demi kebaikan dan demi orang lain, saling menolong, jadi besok kami lebih ke berdoa atau saling mendoakan," tutupnya.

AYO BACA : Daftar 10 HP Murah Mulai Rp1 Jutaan, RAM 3 GB-6 GB Februari 2021

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar