Etika Mengirim Pesan kepada Guru atau Dosen

  Kamis, 11 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Ilustrasi. Pelajar dan mahasiswa wajib menyertakan etika saat melakukan komunikasi dengan guru atau dosen. (Jess Foami dari Pixabay )

GUBENG, AYOSURABAYA.COM -- Dampak pandemi Covid-19 dirasakan seluruh elemen masyarakat. Begitu halnya dengan sektor pendidikan. Terpaksa, para murid dan mahasiswa harus melakukan kegiatan belajar mengajar via daring. 

Namun, apakah para murid atau mahasiswa sudah mengetahui bagaimana tata cara dan etika yang seharusnya dilakukan bila ingin berkomunikasi guru atau dosen menggunakan aplikasi media sosial?

Perihal tersebut, Dosen Psikolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dewi Suminar menjelaskan, untuk mahasiswa, wajib menyertakan etika saat melakukan komunikasi dengan dosen. Baik secara online lewat chat maupun Video Call. Ia menyebut, mahasiswa harus mengucakan salam dan menggunakan kata baku yang selaras, seperti tidak memperbolehkan menggunakan 'Aku', tapi 'Saya', atau 'Kita', tapi 'Kami'.

“Menggunakan bahasa yang baku. Tidak boleh menyebutkan ‘aku’, harus ‘saya’ menyampaikan pesan kepada dosen,” kata Dewi, Kamis (11/2/2021). 

AYO BACA : KNKT Ungkap Rekaman Detik-detik Terakhir Sriwijaya Air SJ182 Sebelum Jatuh

Dewi menambahkan, mahasiswa juga harus bisa menyeleksi waktu yang sesuai saat hendak mengirimkan pesan. Misalnya, sambung Dewi, pada pagi hari, adalah waktu yang tepat untuk menjalin komunikasi denhan dosen via daring. 

Menurut Dewi, pagi hari adalah merupakan waktu luang dosen atau guru yang sesuai sebelum sibuk dengan urusan kantor atau kegiatan belajar mengajar (KBM).

“Biasanya, pagi itu pikiran masih bersih. Ada energi positif dalam diri," sambungnya.

"Contoh, habis sholat Subuh, langsung mengirimkan pesan pagi. Karena, sebelum dosen bekerja, akan membuka pesan pagi itu, saat belum disibukkan dengan pekerjaan (lainnya),” timpalnya.

AYO BACA : Mengintip Persiapan Imlek di Kapasan Dalam

Dewi menegaskan, mahasiswa atau murid harus berpikir positif bilamana dosen 'slow respon', seperti membalas pada malam hari atau keesokannya. Menurut dia, komunikasi via daring cenderung berbeda dibanding berkomunikasi secara langsung atau tatap muka. 

Apabila dosen menjawab singkat nan padat, Dewi menjelaskan hal itu bukan berarti enggan diganggu, tetapi sedang ada aktivitas lain yang sedang dikerjakan atau menanti dosen tersebut.

Atau mungkin, sambung Dewi, tak segera direspon atau dijawab, bisa saja dosen atau guru tersebut baru saja membaca, namun ada pekerjaan mendadak yang lebih 'urgent'.  

“Tidak perlu tersinggung, bahasa komunikasi tertulis itu bisa jadi ketika dibalas dengan 'oke' atau ‘ya’, bukan berarti marah," pungkasnya.

Begitu halnya, saat menyelesaikan pesan yang dikirim, tak perlu bertele-tele. Dewi menegaskan, cukup kata atau kalimat yang penting saja. Misalnya, 'Terima kasih atas ketersediaan meluangkan waktu' yang dirasa sudah cukup.

"Bayangkan, kalau bertemu langsung, jawaban ‘ya’ dan ‘oke’, dapat bermakna menjawab ‘oh begitu ya’, ‘oke kalau gitu’, dan lain sebagainya,” tutupnya.

AYO BACA : Warga Tionghoa di Kapasan Dalam Surabaya Tanggapi Aturan Imlek saat Pandemi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar