Suasana Perayaan Tahun Baru Imlek 2572 Kongzi Li di Kampung Pecinan Kapasan Dalam Surabaya

  Jumat, 12 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Warga menggunakan kostum Dewa rejeki atau Cai Sen Ye berkeliling kampung Kapasan Dalam Surabaya dalam Tahun Baru Imlek 2572 Kongi Li, Jumat (12/2/2021). Dalam kegiatan tersebut, seluruhnya menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan dilarang ada kerumunan. (Ayosurabaya.com/Praditya Fauzi Rahman)

PABEAN CANTIAN, AYOSURABAYA.COM – Perayaan tahun baru Imlek 2572 Kongzi Li kampung Pecinan, Kapasan Dalam Surabaya terlihat sepi. Pemerintah Kota Surabaya mengeluarkan Surat Edaran terkait pelarangan atraksi Barogsai maupun pembatasan kapasitas sembahyangan dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

Namun, kaum Tionghoa enggan kehilangan momen Imlek di tahun Kerbau Logam ini. Pada Jumat (12/2/2021) siang, warga Jalan Kapasan Dalam Surabaya tampak kompak menghias ornamen khas Tionghoa dan mengecat rumah masing-masing. Tujuannya, agar tradisi dan momen kemeriahan Imlek tetap ada kendati pagebluk.

Ketua RW 8 Kapasan Dalam, Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto Djaya Soetjianto menuturkan, seluruh kawasan di 6 gang dipenuhi ornamen khas Tionghaoa, seperti lampion, mural, hingga sejumlah pernak pernik penyemaraknya.

Djaya menegaskan, dia beserta warganya tetap menghormati Perwali 67 tahun 2020 terkait pencegahan Covid-19 selama merayakan Imlek. Oleh karena itu, tak ada perayaan meriah seperti tahun sebelumnya. Kendati demikian, warga berinisiatif memberikan mural di dinding rumah masing-masing dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat tanpa ada paksaan atau imbauan sebelumnya.

"Ini (mural dan ornamen Imlek) inisiatif kami sendiri, kami menggelar lomba menghias rumah masing-masing dan membatasi pengunjung sesuai prokes," kata Djaya saat dijumpai AyoSurabaya.com di Kapasan Dalam Surabaya, Jumat (12/2/2021).

P hari pertama di tahun baru Imlek sebelumnya, kata dia, kerap diadakan Barongsai keliling. Tujuannya untuk mengusir setan maupun aura negatif di kawasan yang berada di balik Pasar Kapasan Surabaya itu.

Namun, akibat pandemi Covid-19, ia menyayangkan atraksi Barongsai tak dapat digelar pada perayaan tahun ini.

Di sisi lain, ada perwakilan warga Tionghoa yang berinisiatif untuk menggunakan kostum Dewa Uang atau Dewa rejeki yang kerap disebut dengan Cai Sen Ye berkeliling ke beberapa rumah warga. Menurut dia, hal itu hanya sebagai syarat saja agar perayaan Imlek tahun ini diberkahi dan dalam lindungan.

"Ada Dewa Rejeki saja, tadi keliling ke rumah warga. Pastinya menerapkan prokes dan kami juga tak membuka open house seperti tahun-tahun sebelumnya, kami mengurangi kerumunan," kata pria asli Surabaya itu.

Djaya mengaku, dia dan warga tak ada keberatan perihal Perwali 67 tahun 2020 itu. Kampung Kapasan Dalam Surabaya sendiri dinilainya menjadi salah satu Kampung Tangguh yang sangat baik lantaran zero Covid-19 atau tak ada kasus positif Corona.

"(Warga) kami pernah (kena Covid-19), waktu itu 4 orang. Sekarang selesai (sembuh), sekarang sudah nol kasus," kata dia.

Djaya berharap agar kampung pecinan Kapasan Dalam Surabaya tetap merawat tradisi dari nenek moyang hingga keturunan berikutnya. Bahkan, dapat dikenal secara luas, baik nasional maupun internasional. Dengan begitu, kesejahteraan perekonomian warga juga bisa meningkat.

"Tradisi kami harus tetap dijaga, harapannya ya kampung kami bisa mendapat perhatian, baik dari swasta maupun pemerintah," tuturnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar