Mengenal Histori Klenteng Boen Bio dalam Perayaan Imlek 2572 Kongzi Li

  Jumat, 12 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Warga Kapasan Dalam Surabaya menerima angpao dari pria berkostum Dewa Rejeki atau Cai Sen Ye dalam perayaan tahun baru Imlek 2572 Kongzi Li, Jumat (12/2/2021). (Ayosurabaya.com/Praditya Fauzi Rahman)

SIMOKERTO, AYOSURABAYA.COM – Seorang tokoh di Kampung Pecinan Kapasan Dalam Surabaya, Dony Djhung, mengungkapkan histori panjang tumpah ruahnya warga etnis Tionghoa di kawasannya.

Dony tinggal di Kapasan Dalam usai ayahnya yang merupakan warga Cina asli dan ibunya asal Lamongan hijrah ke sana puluhan tahun lalu. Dia mengaku senang dan bangga bisa bersatu-padu dengan warga lainnya dari beragam suku.

Begitu tinggal di kawasan Kapasan Dalam, dia mengabdikan diri di Klenteng Boen Bio. Dari sana, dia mulai mempelajari adat istiadat budaya dan daerahnya. “Dunia saya di adat istiadat dan sejarah Cina,” kata Dony mengawali obrolan dengan AyoSurabaya.com, Jumat (12/2/2021).

Dony senang dilibatkan dalam kegiatan keagamaan Konghucu di klenteng. Selain itu, dia bisa menimba ilmu dan memperlajari seni Barongsai bersama warga dan sejumlah rekan seprofesinya.

Dia begitu bangga bisa menjadi bagian dari Klenteng Boen Bio. Menurutnya, klenteng tersebut berbeda dari klenteng atau rumah ibadah etnis Tionghoa pada umumnya. Klenteng Boen Bio, hanya ada 3 di dunia. Klenteng yang berada di Jalan Kapasan nomor 131 Surabaya itu berbasis Konfucius yang ada di Indonesia, bahkan se-Asia Tenggara.

Klenteng itu khusus masyarakat yang beragama Khonghucu untuk mempelajari ajaran-ajaran Khonghucu dan budaya Tiongkok yang telah dilupakan mayoritas etnis Tionghoa di kota pahlawan.

Sesuai dengan namanya, yakni Boen (Wen) yang bermakna terpelajar, pujangga, kesusastraan dan Bio (Miao) yang bermakna kuil, dengan arti keseluruhan yaitu kuil para terpelajar, kuil untuk mempelajari sastra, atau kuil kebudayaan.

Kendati demikian, Dony menyebut tak ada larangan bagi siapapun yang ingin berkunjung atau melihat-lihat Boen Bio, baik dari depan maupun dalam ruangan.

Hal yang membedakan Boen Bio dengan klenteng lain adalah tidak ada patung-patung dewa dan Sang Buddha. Yang ada, hanya patung Khonghucu yang dikenal dengan Nabi Khong Cu atau guru besar (Lau Se).

“Kalau klenteng ini sendiri hanya ada 3 di dunia, di sini adanya Lau Se, yang diajarkan di sini adalah 8 kebajikan dan kebijakan tentang melakukan hal-hal baik, itu menjadi pembeda kita,” kata dia.

Lalu, apa sebenarnya makna Kerbau Logam dalam Imlek 2572 Kongzi Li tahun ini?

Kerbau logam tahun Imlek ini cocok untuk orang-orang atau masyarakat yang baru merintis sebagai pengusaha dalam tahap awal. Menurutnya, tahun ini adalah peluang rejeki bagi masyarakat, baik untuk etnis Tionghoa maupun suku lainnya di Indonesia.

Suku Tionghoa semakin hebat dalam menjalankan usahanya, apalagi di pada saat Pandemi Covid-19 seperti saat ini. 

Untuk para pengusaha kelas amatiran atau baru merintis bisnis dalam segala bidang, Dony menegaskan tahun ini merupakan hoki bagi mereka. Bahkan, untuk bibit-bibit pengusaha kian pesat lagi.

“Menjadi besar (sukses), sifat kerbau selalu bekerja dan melangkah kedepan, suku Tionghoa di Indonesia terutama di Surabaya, semakin pesat dan jaya,” tuturnya.

Dony juga sering menjadi rujukan para mahasiswa dalam melakoni proses skripsi. Dia bangga lantaran masih ada anak muda yang ingin mendalami dan mempelajari budaya Tionghoa, seperti klenteng, tradisi, hingga perayaan khas umat Cina tersebut.

“Saya sering didatangi anak-anak mahasiswa yang skripsi, saya punya misi, saya ingin Indonesia punya generasi yang tangguh, misalnya ingin tahu tentang adat istiadat/sejarah tentang klenteng,” katanya.

Senada, Ketua RW 8 Kapasan Dalam, Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya, Djaya Soetjianto mengatakan, warganya yang berasal dari pelbagai suku, selayaknya Bhineka Tunggal Ika. Mulai dari Tionghoa, Jawa, hinga Madura hidup tenteram dan guyub rukun sejak dahulu.

“Di sini, rukun dalam bertetangga dan bermasyarakat, ada yang nikah antara China dengan Madura, Jawa, dan masih banyak lagi,” tuturnya.

Begitu pula dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro kali ini, warganya kian kompak dalam menjaga kesehatan satu sama lain dalam bermasyarakat. Mulai dari menerapkan protokol kesehatan (prokes) sesuai anjuran pemerintah serta saling tolong menolong dalam hal perekonomian.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar