Tips & Trik Ketua RW Asem Jajar agar Wilayahnya Terus Zona Hijau Selama PPKM Mikro

  Selasa, 16 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
[Ilustrasi] Pelukis asal Kota Bandung, Andi Sopiandi melukis dinding rumah warga di Rw 05, Jalan Bapa Ampi, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Kamis (29/10/2020). Mural tersebut berisikan kampanye edukasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan selalu tetap menjalankan program 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak) untuk memutus matarantai penularan Covid-19. Selain itu, juga kampanye tentang pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) kepada masyarakat. (Ay

BUBUTAN, AYOSURABAYA.COM – Ketua RW 3, Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya Taufiq Rahmanu membagikan tips dan trik mempertahankan zona hijau dalam pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

Taufiq mengatakan, status zona hijau atau steril Covid-19 di kampungnya dinilainya merupakan hasil kerja sama epik antara pengurus kampung dan warganya. Dia mengaku rela melakukan kerja sosial agar keluarga dan warganya terbebas dari Covid-19.

“Untuk mempertahankan supaya tetap zona hijau adalah kita melakukan langkah-langkah tertentu, mulai dari preemtif, preventif, dan persuasif,” kata Taufiq saat berjumpa dengan AyoSurabaya.com, Selasa (16/2/2021).

Taufiq menambahkan, ketika PPKM Mikro, cara tersebut sangat efektif untuk meminimalisasi penularan Covid-19 di kampungnya. Kinerja warga juga kian ringan lantaran bersinergi dengan beberapa instansi terkait dari pihak Polsek, Koramil, hingga Linmas dan Satpol PP Kecamatan Bubutan Surabaya.

Maka dari itu, ia menekankan perlunya sosialisasi dari para tokoh agama dan tokoh masyarakat. Sebab, dengan sosialisasi protokol kesehatan (prokes) melalui imbauan, dirasa paling efektif untuk menyadarkan dan mengedukasi masyarakat perihal bahaya virus asal Wuhan itu.

“Pas PPKM Mikro, kami menempuh cara ini dengan cara kerja sama dan memanfaatkan tokoh-tokoh masyarakat dan agama, karena apabila beliau-beliau yang matur (menyampaikan), maka masyarakat akan nurut dengan sosialisasi disiplin prokes saat PPKM mikro,” tuturnya.

Taufiq menjelaskan, status zona hijau tak serta merta instan diperoleh kampungnya. Sebab, sekitar 10 bulan lalu, ada warga kampung Asem Jajar Surabaya yang terjangkit virus SARS CoV-2. Berdasarkan pengakuan Taufiq, ada belasan warganya yang saat itu pernah terjangkit dan telah menjalani perawatan atau isolasi mandiri maupun karantina.

“Sebelumnya, bulan Mei sampai Desember 2020, ada yang terkonfirmasi, totalnya ada sekitar 15 orang di 1 RW. Pada bulan November 2020 itu ada 2 klaster keluarga di RT 9 dan RT 12, dari langkah itu kami bangkit kembali untuk melakukan langkah-langkah pencegahan,” kata pria yang juga merangkap sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 RW 3 Asem Jajar, Kecamatan Bubutan, Surabaya itu.

Seiring berjalannya waktu, lanjut Taufiq, selain memanfaatkan tokoh masyarakat dan agama dalam menyosialisasikan prokes dan imbauan kesehatan lain perihal Covid-19, dia dan warganya juga berinisiatif menggunakan beberapa pengeras suara yang ada di masjid dan musala. Sosialiasasi juga disisipkan pada sejumlah kegiatan warganya dengan prokes ketat.

“Wajib prokes, setiap RT saya wajibkan untuk aktif menyemprot disenfektan rutin yang bahannya ada di posko. Ya alhamdulillah sekarang udah zero atau zona hijau,” tuturnya.

Dalam melaksanakan prokes dan imbauan hingga memperoleh status zona hijau atau kampung bebas Covid-19, jalan yang dilalui tentu tidak mulus. Pada awal-awal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kala itu, dia dan warganya pernah mengalami kendala terkait biaya.

Dana yang diperoleh saat itu merupakan iuran warga. Selanjutnya, uang yang terkumpul dibelanjakan hand sanitizer, alat cuci tangan, hingga alat penunjang kesehatan lain untuk posko. Saat itu belum ada bantuan dari pihak manapun. Hingga akhirnya dia dan warga memperoleh dana hibah dari pemerintah yang dapat digunakan untuk membeli kebutuhan prokes beserta penunjangnya untuk meminimalisasi penyebaran virus.

“Kendalanya ya masalah dana, karena mulai maret itu sudah mandiri dan dana hibah kemarin sudah dapat, lalu kami manfaatkan untuk desinfektan, seragam, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, warga kooperatif dan tidak ada yang ngeyel,” tuturnya.

Untuk mempermudah berkoordinasi dan komunikasi selama pandemi sembari menerapkan prokes yang ketat, Taufiq menginisiasi langkah penggunaan aplikasi yang disediakan pemerintah untuk mengontrol setiap kampung yang ada di kota maupun kabupaten.

“Ada di playstore, namanya pedulilindungi, kita posisinya di situ kan zona hijau, nah aplikasi ini wajib terutama RT. Karena posisi kita dikelilingi zona merah, seperti Alun-Alun Contong, Banyuurip, Bubutan, Sawahan itu zona merah. Makannya masing-masing Ketua RT saya wajibkan instal, ketika ada orang baru datang kami juga wajib lakukan pendataan, wajib menunjukkan swab antigen, bila belum memiliki kami sarankan ke Labkesda, selama belum bisa menunjukkan mohon maaf tidak boleh masuk,” kata Taufiq.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar