Siropen, Legenda Produsen Sirup Pertama di Indonesia

  Minggu, 21 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Siropen Cap Bulan Telasih hanya dipasarkan pada hotel dan restoran. (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

BUBUTAN, AYOSURABAYA.COM -- Kisah heroik arek-arek Suroboyo dalam perjuangan nasional telah beredar luas di kancah dunia. Begitu pula dengan sejumlah lokasi yang menjadi saksi bisu tentang masa lalu perang kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang masih berdiri di kota pahlawan.

Salah satunya adalah bangunan kuno peninggalan Belanda di Jalan Mliwis nomor 5 Surabaya ini. Bangunan itu kini menjadi lokasi pembuatan sirup yang kini diakuisisi menjadi anak perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Ketika ayosurabaya.com mengunjungi lokasi itu, bangunan lawas itu masih berdiri kokoh dengan 2 pilar besar dengan diameter sekitar 1 meter di sisi depan. Terpampang jelas papan bertuliskan “Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, PT Pabrik Es Wira Jatim, Pabrik Limun & Sirup Telasih”. Area internal dan eksternal bangunan masih berarsitek klasik khas Eropa zaman kolonial.

Saat memasuki loby utama, seolah membawa pengunjung kembali ke masa kolonial. Mulai dari marmer kuno yang menyelimuti ruangan utama, ada pula lemari lukisan, hingga foto lawas yang dipajang disana. Pada sisi pojok ke arah selatan, ada minibar kecil yang merupakan display produk sejumlah sirup bertuliskan ‘Siropen’.

Begitu pula pada sisi dalam gedung, masih khas bangunan kuno. Begitu juga dengan proses produksi sirup yang masih tradisional nan mengutamakan berkualitas. Masih ada sejumlah ‘kendi’ berukuran jumbo dan teko aluminium yang nampak usang.

DSCF0831

Manager Pabrik Siropen Telasih Laode Muhammad Alfian mengatakan, bangunan tersebut didirikan pada tahun 1923 J.C Van Drongelen dan Hellfach. Sedangkan, nama dari tempatnya bekerja berasal dari nama 2 orang yang berkebangsaan Belanda tersebut. “Kata 'siropen' itu dari bahasa Belanda, sirup atau cairan kental manis. Itulah yang menjadi cikal bakal kata sirup di Indonesia. Pabrik ini juga merupakan pabrik pertama yang memproduksi sirup di Indonesia, bukan pertama di Surabaya,” kata Alfian, Minggu (21/2/2021).

Sembari berbincang, pria yang akrab disapa Pak Ian itu menunjukan beberapa arsip lawas yang dimiliki perusahaan yang masuk dalam PT Pabrik Es Wira Jatim tersebut, seperti botol klasik, foto, hingga lukisan serta produk pertama yang diproduksi kala itu. Tak heran, Surabaya menjadi kota pertama di Indonesia yang mempunyai pabrik sirup dengan nama merek ‘Siropen Telasih’.

Ketika diantar menuju ruangan produksi, terlihat botol-botol kosong siap sebagai wadah masih disiapkan. Ian menyebut pabrik tersebut dijadikan salah satu tempat yang masuk dalam Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya. Seiring berjalannya waktu, pabrik tersebut tak hanya memperoduksi 1 sirup saja, melainkan beberapa varian rasa, mulai dari Siropen Premium, Telasih, dan Gourmet. Malah, ‘kendi’ atau guci yang digunakan untuk wadah sirup pasca dimasak itu pun masih menggunakan guci pada tahun 1923.

Alfian menjelaskan, saat ini rumah produksi pabrik tersebut mempekerjakan 15 orang karyawan saja dengan sistem dan alat yang sangat tradisional. Ketika masuk ke sisi packing (pengemasan), terlihat seorang karyawan menggunakan uap air dari teko yang mendidih untuk merekatkan plastik label dan tutup yang digunakan. Sebelum beroperasi massal dan dapat dinikmati masyarakat seperti saat ini, dulunya sirup ini hanya dapat dikonsumsi oleh elit politik atau bangsawan saja pada zaman dulu. Sebab, hasil produksi dari pabrik saat itu hanya dikhususkan kepada para bangsawan dan serta warga Belanda saja.

Alfian menuturkan, pabrik yang dulunya bernama “Pabrik Limoen J.C. van DRONGELEN & HELLFACH” itu sengaja menerapkan operasional secara tradisional atau tanpa bantuan mesin lantaran mempertahankan keaslian, kualitas, dan histori dari sirup yang dibuat, baik dalam segi kontenporer maupun konvensional.

Kendati masih menggunakan cara manual dan tanpa bahan pengawet, sambung Ian, sirup tersebut bisa bertahan dan bisa dikonsumsi hingga kurun waktu sekitar 3 tahun. “Kita sudah menjadi cagar budaya (di Surabaya), jadi kami mempertahankan,” bebernya.

Mempertahankan Kualitas dan Resep
Sirup yang memiliki nama awal Siropen Cap Bulan Telasih itu dulunya memakan waktu yang sangat lama dalam pengolahannya. Seperti halnya memasukan bahan dasar air dan gula, lalu dimasak dan dicampur warna dan perasa.

“Kami masih pure manual, sistem kami kan pertama di resepi, kedua di treatmen yakni memperlakukan bahan. Maksudnya, semua orang tahu bahan, tapi bagaimana memperlakukan bahan, itu adalah kelebihan Siropen, karena kalau kita cermati di daerah Eropa dalam memperlakukan produk handmadenya itu tidak sekedar di mix,” jelasnya.

DSCF0785

Bahan sirup yang sudah mendidih dan matang, lalu dimasukkan kedalam guci untuk proses pendinginan. Menurut Alfian, hal tersebut juga diyakini pihaknya bahwa rasa yang dihasilkan jauh lebih baik daripada pabrikan yang memasukan sirupnya ke lemari pendingin. Selanjutnya, sirup dikemas dalam botol. Dalam pelabelan pun masih sangat tradisional, yakni menggunakan uap air mendidih dari teko yang dipanaskan dalam tungku. Dalam kurun waktu 2x24 jam, Alfian mengaku mampu memproduksi hingga 1000 botol. 

Strategi Pemasaran dan Pasar
Alfian mengungkapkan, sirup yang diproduksi tak dijual di pasaran secara umum, misalnya di toko kelontong atau swalayan. Namun, hanya dipasarkan pada hotel dan restoran. Disisi lain, ia mengaku juga telah memasarkan dan mengenalkan produk ke sejumlah instansi pemerintahan dan swasta dengan strata menengah keatas.

“Dari dulu, pelanggan Siropen menengah ke atas, rata-rata karena persepsi masyarakat kan kami ini produk mahal. Tapi, menurut kami harga kami tidak terlalu mahal, tapi ya balik lagi ini kan masalah selera ya, kalau dikembangkan lebih besar ya bisa saja tapi menurut saya butuh kemauan semua pihak termasuk stakeholder dan berkomitmen dari semua pihak, dan itu lah kuncinya,” paparnya.

Untuk wilayah pemasaran hanya nasional saja. Di Indonesia sendiri, Siropen telah beredar di kawasan Surabaya dan sekitarnya, Bali, hingga Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Alfian mengaku, jauh sebelum pandemi pihaknya berencana akan mengekspor sirup ke luar negeri. Sayangnya hal itu tak dapat dilanjutkan karena terbentur regulasi dari pemerintah dan kebijakan di luar negeri.

“Kami pernah mau ekspor, tapi terkendala saat itu terbentur regulasi. Kalau dibanding produk lain (swasta) mah kita ya lewat. Kami lebih dikenal di kalangan segmen atas, tapi kami tidak semasif pasar-pasar umum,” tutup lulusan Sekolah Tinggi Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) itu.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar