Kisah Siropen yang Bertahan Dihantam Kemajuan Zaman dan Pagebluk

  Minggu, 21 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Seorang pegawai menunjukan hasil akhir Siropen Telasih di halaman rumah produksi, Minggu (21/2/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

BUBUTAN, AYOSURABAYA.COM – Dampak pandemi Covid-19 juga dirasakan PT Pabrik Siropen Telasih Surabaya. Sebab, dalam sehari, mereka mampu membuat 1000 botol dan dikirimkan ke sejumlah loyalis mereka di Indonesia. Namun, hal tersebut tak dilakukan lagi selama pandemi. Sebab, permintaan kian menurun dan kini memangkasnya dengan memproduksi sebanyak 1000 botol dalam 2 hari.

Manager Pabrik Siropen Telasih Laode Muhammad Alfian mengatakan, disisi lain pihaknya beruntung lantaran tak terpaku dengan target penjualan seperti halnya pabrik sirup swasta lainnya. Mengingat, sirup milik perusahaan sirup milik PT Pabrik Es Wira Jatim itu hanya memasarkan produknya di hotel, rumah makan, dan sejumlah loyalis mereka yang didominasi kalangan menengah ke atas.

“Pasti berdampak (pandemi) ya, agak sedikit turun (permintaan), karena terbatasnya aktifitas ya, terutama awal tahun 2020 biasanya kan kita cukup banyak dan sekarang berkurang, ya karena ada pembatasan dan lain sebagainya, jadi ya terdampak,” jelas Alfian saat melihat hasil produksi Siropen di Jalan Mliwis nomor 5 Surabaya, Jatim, Minggu (21/2/2021).

Kendati demikian, Siropen tak memberlakukan pengurangan atau merumahkan sebagian karyawan selama pagebluk. 

AYO BACA : Siropen, Legenda Produsen Sirup Pertama di Indonesia

“Tapi, secara keseluruhan, mau tidak mau harus tetap jalan (produksi dan pemasaran). Tapi sejauh ini tidak ada efisiensi karyawan karena kami kan hanya 15 orang,” lanjut pria lulusan Sekolah Tinggi Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) itu.

Lalu, saat ditanya perihal efisiensi atau alternatif harga serta kuantiti, Alfian mengaku tidak ada masalah pula. Bahkan, ia mengaku enggan mengikuti tren atau kondisi saat ini lantaran masih mengutamakan kualitas kepada para loyalisnya. Menurutnya, sirupnya tetap dibanderol dengan harga yang tetap, yakni mulai Rp22.00o sampai Rp95.000 perbotolnya lengkap dengan lima varian rasa.

Tapi, sambung Alfian, pihaknya hanya terkendala dengan kuantitas produksi. Mengingat, Siropen hanya memiliki 15 karyawan dan sudah memenuhi permintaan pelanggan yang sebagian besar telah menjadi rekanan.

“Namun, 1 hal yang pasti, treatmentnya (memperlakukan dan mengolah) tidak berubah, kalau pun kami mengembangkan, itu hanya mengikuti tren saat ini, tapi yang menghasilkan taste atau rasa pasti kami mengikuti perkembangan, tapi semua basisnya adalah kita mengerjakan itu secara sama dari dulu hanya saja beberapa jenis yang kami perlakukan berbeda, tuntutannya untuk menghasilkan produk yang sesuai. Apalagi kami ini kan skopnya kecil sih, jadi tidak bisa produksi masal, karena resikonya kan kualitas, nah kami produksinya itu ya standar sekitar 1000 botol per 2 hari,” katanya.

“2 hal yang berbeda ketika kita melihat bisnis, kalau kita mengacu pada pabrikasi yang otomatis mesin itu konteksnya beda, sedangkan kita kan pure manual. Dengan manual memang tidak bisa besar volumenya, tapi disisi lain faktornya kalo ada permintaan-permintaan besar, susah melayani. Karena kita belum menggunakan mesin untuk mempercepat dan efektif proses dan biaya,” tutupnya.
 

AYO BACA : Pabrik Sirup Tertua di Indonesia Pernah Jadi Tempat Persembunyian Tentara Pelajar

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar