Pelukis Embongan di Basuki Rachmat Surabaya, Antara Hobi dan Memenuhi Kebutuhan Hidup

  Selasa, 23 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Imam Buchori dan sejumlah hasil lukisannya di kawasan Basuki Rachmat Surabaya, Minggu (21/2/2021). (ayosurabaya/Praidtya Fauzi Rahman)

TEGAL SARI, AYOSURABAYA.COM -- Imam Buchori nampak sedang asyik mengayunkan kuasnya di atas selembar kanvas jenis linen. Satu, dua, hingga tiga warna ia padukan satu persatu, perlahan, namun elok. 

Sejumlah hasil karya lukisnya lainnya yang sudah selesai terpampang rapi di lapaknya yang terletak di deretan ruko yang kini menjadi cagar budaya, tepatnya di samping jalur putar balik Jalan Basuki Rachmat menuju Gubernur Suryo Surabaya. 

Sembari melukis, Imam mengatakan sudah puluhan tahun menjalani profesinya sebagai pelukis jalanan. 

"Sekitar 23 tahun saya melukis, kalau tidak salah saya disini (lapaknya) sejak 2001," jelas Imam saat ditemuia ayosurabaya.com, Minggu (21/2/2021). 

Imam menerangkan, ia kerap menggunakan kertas linen sebagai dasar lukisannya. Alasannya, linen memiliki tekstur yang unik. Sebab, bahan pewarna yang digunakannya dapat menempel sempurna. 

Menurut Imam, kertas linen memiliki karakteristik yang tidak dimiliki kertas lukis lain. Terlebih, tingkat kesulitan untuk menggambar di secarik kertas linen menjadi tantangan tersendiri bagi Imam. Terutama, untuk memadukan warna dan detil gambar yang dilukisnya. 

Lalu, untuk pewarnanya, Imam menggunakan serbuk konte. Sayangnya, serbuk konte yang dipasarkan di kota pahlawan kini berkualitas kurang sempurna. Menurutnya, untuk mencari serbuk dengan bahan dasar dari pensil itu, sangat sulit ditemukan di Kota Surabaya. Maka dari itu, ia mengimpornya dari beberapa kota lain. 

"Sayangnya mulai langka disini (Surabaya). Informasinya, di Jogja masih ada. Apalagi, bahan yang saya punya sekarang tinggak sedikit," pungkasnya. 

Hampir seluruh obyek lukisannya adalah rupa seseorang. Mulai rakyat biasa hingga tokoh. Sejumlah tokoh seperti Nurcholish Madjid, mantan wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf alias Gus Ipul. Bahkan, ada pula sosok dunia, mulai dari Ratu Inggris Elizabeth hingga pelatih Liverpool Jurgen Klopp. 

Sekalipun tak mendapat orderan, Imam mengaku tetap melukis. Selain kegemarannya, hal itu dirasa dia mampu menjadi alat untuk merepresentasikan emosi jiwanya. 

"Kalau tak ada orderan pun, saya tetap melukis," katanya. 

Imam mengaku beruntung pernah memperoleh pesanan dari beberapa tokoh politik di Jatim. Sebut daja mantan Gubernur Jatim Sukarwo dan Imam Utomo. Namun, saat itu pesanan disampaikan melalui pesuruhnya. 

Suka dan suka menjadi pelukis selama 23 tahun ia jalani. 

Imam menceritakan, beberapa kendala yang pernah dihadapinya seperti ketersediaan bahan hingga terganggu oleh aksi demonstrasi. Ketika demo, lanjut Imam, ia terpaksa menggulung dagangannya dan memilih untuk pulang. 

"Pas demo, ya libur, mau nggak mau harus libur. Karena kan banyak polisi, banyak pendemo juga, jadi nggak bisa ngelukis," beber dia lalu menunjuk ke arah Grahadi. 

Harga lukisannya berisar antara Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Untuk ukurannya, mulai ukuran 50x70cm.

Imam mengatakan mayoritas konsumennya kerap memesan lukisan vintage dengan warna hitam putih. 

"Banyak pesanan warna hitam-putih. Ya mungkin  mengejar klasikan," jelas warga Mulyorejo Surabaya itu. 

Imam mengungkapkan bagi yang hendak melihat atau berminat dengan hasil lukisannya, dapat mendatanginya langsung ke selasar Apotek Simpang Surabaya. Atau mengunjungi Warung Kopi Transnet Reborn, yang lokasinya juga tak jauh dari lapak melukisnya. 

"Kalau di situ (Warkop Transnet) sebagian dititipkan," tutup dia. 

 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar