Kisah Slamet Widodo, Pria Dewasa Bertubuh Mungil yang Tinggal di Gubug

  Selasa, 23 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Slamet Widodo terbaring lemas di pangkuan ibunya, Fatimah saat dikunjungi AyoSurabaya.com, Selasa (23/2/2021). (Ayosurabaya.com/Praditya Fauzi Rahman)

SUKOMANUNGGAL, AYOSURABAYA.COM -- Slamet Widodo tampak tak berdaya ketika AyoSurabaya.com mengunjungi kediamannya. Slamet hanya memandangi sembari mengedipkan mata saat berada di pangkuan ibundanya, Fatimah.

Dengan lirih, Fatimah pasrah dengan kondisi putra pertamanya itu. Kondisi Slamet sudah sedemikian rupa sedari lahir prematur.

"Kulo mboten semerap, Mas, gerahe yugo kulo niki nopo. Pas babaran ten Karangmnejangan prematur, ngantos sakmeniko nggeh ngoten mboten saget nopo-nopo, soale milai lahir nggih ngoten niki kondisine (Saya tidak tahu sakitnya apa. Pas lahiran di Karangmenjangan/RSUD Dr. Soetomo dulu prematur, sampai sekarang tidak bisa apa-apa, karena lahirnya memang sudah kecil seperti ini kondisinya)," kata Fatimah kepada AyoSurabaya.com sembari mengusap bedak di wajah putranya, Selasa (23/2/2021).

Hingga putranya berusia 21 tahun, Fatimah tak mengerti dengan informasi yang disampaikan dokter soal penyakit anaknya. Sebelum pasrah dengan keadaan Slamet seperti saat ini, Fatimah melakukan beragam upaya.

Sekitar 8 tahun lalu, Fatimah dan suaminya Jito pernah membawa Slamet berobat. Sayangnya, hal tersebut tak menuai kesembuhan. Fatimah pun membawa Slamet untuk menjalani pengobatan alternatif. Namun, hasil tak sesuai harapan.

"Kulo mboten semerap sanjange dokter. Tapi sakderenge nate kulo obataken pas umure 8 tahun, sanjange dokter nggih sampun mboten saget nopo-nopo, bendinten nggih ngoten niki, namung tilem-tilem mawon ten kasur, mboten saget nopo-nopo milai lahir ngantos sakmeniko (Saya tidak tahu apa saja keterangan dari dokter. Tapi sebelumnya pernah saya obatkan sekitar umur 8 tahun, kata dokter juga memang sudah tidak bisa diobati, sehari-hari memang terbaring di kasur dan tidak bisa apa-apa sejak lahir sampai sekarang)," keluh wanita berusia 50 tahun itu.

Sehari-hari, ibu rumah tangga itu tabah menyuapi Slamet di tempat tidur. Makanan dan minuman itu tak jarang dari uluran tangan tetangga, kelurahan, dan kecamatan setempat.

"Kalau makan ya saya suap, sehari 3 kali. Saya tidak bekerja, ngemong (mengasuh) saja, sehari-hari dapat sumbangan dan makanan dari kelurahan, itu sudah lama," ujar ibu 2 anak itu.

Biaya hidup keluarganya ditopang dari upah Jito yang kerja serabutan. Hasilnya tak menentu, per hari maksimal bisa menerima Rp100.000.

Saat ini, Jito merantau menjadi kuli bangunan ke luar pulau bersama putra keduanya.

"Bapaknya kerja kuli. Sekarang kerja, merantau kemarin Minggu (21/2/2021) diajak bosnya. Bapak dapatnya uang Rp75.000 sampai Rp100.000 per hari, tapi ya tidak menentu," tuturnya.

Sebelum tinggal di Jalan Sukomanunggal Baru PJKA, RT 03 RW 05, Kelurahan Sukomanunggal, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya, dia tinggal di kampung sebelah dan sempat 'nyambi' serabutan.

Fatimah berharap Slamet sembuh saat dikhitan beberapa waktu lalu. Dia tak putus doa, semoga ada keajaiban untuk Slamet. "Barusan dikhitankan ini," katanya.

Menghela napas panjang sesaat, Fatimah mencurahkan isi hatinya kembali. Slamet kerap dia mandikan di ruangan yang menyatu dengan ruang tidur, makan, dan mandi.

"Setiap hari ya mandi di sini pakai ember. Airnya minta ke tetangga. Kadang ya mandi ikut tetangga. Soalnya kan nggak punya jeding (kamar mandi), makan dan tidur ya di sini," katanya, kemudian menunjuk seisi rumahnya berupa ruangan 4x3 meter.

slamet-2

Kondisi rumah yang dihuni Slamet Widodo dan Fatimah di Jalan Sukomanunggal Baru PJKA RT 03 RW 05, Kelurahan Sukomanunggal, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya. Selasa (23/2/2021). (Ayosurabaya.com/Praditya Fauzi Rahman)

Rumah itu berupa gubuk tak layak huni. Setengah lantainya adalah tanah, setengah lagi rawa-rawa dipenuhi tumbuhan liar enceng gondok. Perabotannya semrawut, air berserakan di ubin utama yang dipijaknya. Atapnya beralaskan lembaran seng yang mulai berkarat.

Ketua RT 03 Yati menegaskan, Slamet dan keluarga memang kerap memperoleh bantuan dari tetangga, kelurahan, dan kecamatan setempat. Menurutnya, beragam bantuan pernah dia peroleh sejak 5 tahun lalu.

"Selalu dapat bantuan dari Pak Camat dan Pak Lurah, sekitar 5 tahun yang lalu sudah dapat," katanya, Selasa (23/2/2021). Bantuan berupa sembako dan PKH uang tunai, itupun sebulan sekali.

Rumah itu, kata Yati, dibeli Fatimah dengan perjanjian Rp20 juta. Namun, baru terbayar sekitar Rp8 juta.

"Kalau masalah tanah memang dijual pemiliknya. Dulunya kan ngontrak, yang punya lansia, nah ini disuruh membeli Rp20 juta, sudah dibayar Rp8 juta. Nah yang punya tanah ini tinggalnya di Jombang, yang punya kasihan sama ibu Fatimah ini," kata wanita berusia 44 tahun itu.

Untuk upaya penyembuhan terhadap Slamet,

Yati mengatakan, Jito kerap menolak bantuan untuk upaya penyembuhan Slamet. Begitu juga dengan bantuan pembangunan rumahnya.

"Dulu, pak camat kan sudah bilang mau diperbaiki (rumah Slamet), tapi yang punya rumah tidak boleh, ya bapaknya. Alasannya, harus dilunasi dulu Rp20 juta," kata dia.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar