Ini Berbagai Penyebab Harga Cabai di Jatim Semakin 'Pedas'

  Kamis, 25 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
[Ilustrasi] Meroketnya harga cabai di Jatim disebabkan sejumlah faktor. Mulai dari cuaca, jumlah panen, hingga bencana alam seperti letusan gunung Merapi beberapa waktu lalu. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

GENTENG, AYOSURABAYA.COM -- Meroketnya harga cabai di Jatim disebabkan sejumlah faktor. Mulai dari cuaca, jumlah panen, hingga bencana alam seperti letusan gunung Merapi beberapa waktu lalu.

Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim Nanang Triatmoko menjelaskan, salah satu faktor penyebab pedasnya harga cabai rawit di pasaran akhir-akhir merupakan hukum pasar, seperti rendahnya suplai dari petani kendati permintaan normal maupun tinggi.

Nanang menyebut, pasokan cabai rawit ketika Desember 2021 lalu sangat sedikit. Sekitar 30% dari seluruh petani cabai enggan menanam lantaran terus merugi.

“Kehabisan modal dan rugi, akibat produksinya tidak terserap pasar, harganya jauh di bawah Break Even Point (BEP),” kata Nanang, Kamis (25/2/2021).

Curah hujan yang tinggi di sejumlah sentra produksi cabai rawit pun diamini Nanang. Menurutnya, hujan dengan intensitas tinggi seperti Gresik, Tuban, Banyuwangi, Blitar, Kediri, hingga Lamongan, yang memiliki jenis tanah tadah hujan, mengakibatkan cabai yang seharusnya dipanen menjadi mati.

"Contoh di Banyuwangi. Biasanya, cabai yang keluar untuk kirim 100 ton per hari, ini hanya 70 ton. Namun, harga cabai rawit diperkirakan akan turun bertahap, sejalan dengan masuknya panen raya dan harga akan kembali normal pada bulan ke-3 (Maret 2021). Karena penyakit layu. Sehingga, produksi berkurang 30%," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur (Jatim) Hadi Sulistyo menuturkan, harga cabai yang semakin 'pedas' disebabkan luas panen yang relatif rendah pada Januari 2021. Menurutnya, hal seperti ini diperkirakan bertahan hingga Maret 2021 sebelum masa puncak panen yang diprediksi terjadi pada April atau Mei 2021.

Hadi menyebut, meningkatnya harga cabai juga dipicu masa tanam. Menurutnya, masa tanam yang mundur pada periode 2020/2021 karena petani mempertimbangkan musim penghujan yang masih mengguyur sejumlah wilayah di Jatim.

La Nina juga menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti banjir. Sehingga, berpotensi mengancam sektor pertanian. Hadi pun mewanti-wanti masyarakat agar lebih waspada terhadap Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT). Karena, musim hujan memiliki kelembaban tinggi untuk pertumbuhan OPT.

“Peningkatan monitoring perkembangan cuaca. Melalui koordinasi, dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” katanya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, harga cabai di Jatim mulai naik sejak awal 2021. Sesuai data dari Sistem Informasi Ketersediaan Perkembangan Bahan Pokok Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Siskaperbapo Disperindag) Jatim, harga cabai rawit mencapai Rp72.104 per kilogram, cabai merah besar keriting Rp48.528 per kilogram, dan cabai merah besar biasa Rp32.953 per kilogram.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar