Warga Tuban Beli 3 Mobil Sekaligus, di Kediri Pasangan Renta Jual Balon untuk Obati Cucu Lumpuh

  Jumat, 26 Februari 2021   Andres Fatubun
Trimo, Monah, dan Dinda. (beritajatim)

KEDIRI, AYOSURABAYA.COM -- Seorang filsuf Yunani, Plutarkhos, mengatakan ketimpangan antara yang kaya dan miskin adalah penyakit paling tua di semua republik.

Begitulah adanya.

Siapa yang menyangka warga di kampung Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban mendadak jadi miliarder secara massal dalam tempo yang singkat.

Mereka kejatuhan rejeki nomplok karena tanahnya terkena lahan pembebasan proyek pembangunan kilang baru Pertamina yang dikenal dengan New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban. Dari pembebasan lahan itu, rata-rata warga mendapatkan uang pengganti rugi sebesar Rp8 miliar. Terbanyak mencapai Rp26 miliar. 

Dengan uang itu, warga desa ramai-ramai membeli mobil meski ada kesan memaksa karena banyak yang belum bisa menyetir. Tidak cukup satu mobil, ada warga yang membeli tiga sekaligus.

Bupati Tuban, H Fathul Huda, mengatakan membeli mobil sah-sah saja, itu merupakan wujud syukur warga atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Ya rezeki mau besar atau kecil wajib disyukuri.

Laon Hidup Trimo dan Monah
Di tempat lain di Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri pasangan renta harus berjualan balon untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tak cuma untuk makan dan minum, penghasilan mereka yang tidak seberapa dan menentu itu sebagiannya harus disisikahkan untuk mengobati cucu yang mengalami kelumpuhan. 

Lakon hidup itu dijalani pasangan Trimo (75) dan istrinya Monah (69), serta cucunya Dinda (11) yang ditinggal cerai oleh kedua orang tuanya.

Ditemui di lapak jualannya, Mbah Trimo tampak berpanas-panasan menata dagangannya. Sedangkan sang istri tengah menyuapi cucunya Dinda yang divonis lumpuh sejak kecil. 

“Sejak kecil Dinda kami asuh. Orang tuanya telah bercerai. Saat kecil anak ini normal, bisa jalan. Tetapi kemudian diasuh oleh ibunya. Jadi begini,” kata Monah, Kamis (25/2/2021).

Kedua orang tua Dinda bercerai saat sang bocah berumur 3 tahun. Ia lantas dititipkan sang ayah yang merantau ke luar pulau kepada kakek dan neneknya. Sejak saat itulah, Trimo dan Monah terus merawat Dinda sang cucu dengan segala keterbatasan ekonomi yang dialaminya.

Sebelum pandemi, Trimo bekerja sebagai buruh serabutan. Namun, akibat pandemi ia kehilangan pekerjaannya. 

“Kalau dulu ya ada saja yang membutuhkan tenaga saja. Tetapi setahun terakhir ini menganggur. Akhirnya saya jualan ini,” kata Trimo.

“Sehari hari ya ada saja orang yang beli. Keuntungannya paling ya Rp 10-20 ribu. Untuk makan sehari hari,” lanjut dia. 

Tidak hanya itu, bangunan rumah yang dihuni Trimo dan Monah merupakan milik desa. Mereka terpaksa menumpang di tanah desa, setelah rumah mereka dijual oleh sang anak yang pergi.

Terhadap penderitaan kakek-nenek ini, pihak Desa Sukoanyar terus berupaya memberikan bantuan. Mulai dari BPNT, PKH hingga pemberian izin guna lahan untuk didirikan rumah bagi Trimo dan cucunya.

“Kami selalu mengusahakan warga yang kesulitan termasuk Mbah Trimo. Kami upayakan berbagai bantuan baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Bahkan, kita persilahkan untuk menempati lahan milik desa untuk dihuni,” ujar Mulyani, Kepala Desa Sukoanyar.

Diakui Mulyani bangunan rumah Mbah Trimo jauh dari kata kayak. Sementara pihaknya tidak bisa mengupayakan renovasi pembangunan karena bukan lahan milik pribadi.

“Untuk bantuan rumah tidak layak huni satu syarat utamanya adalah lahan tersebut milik pribadi. Sedangkan ini lahan milik desa. Tetapi terlepas dari itu, kami tetap membantu Mbah Trimo,” jelasnya.

Di tengah segala keterbatasan ekonomi itu, Trimo tetap bersyukur, karena masih diberikan kesehatan oleh Tuhan. Sehingga ia masih sanggup untuk mencari nafkah bagi istrinya dan sang cucu yang lumpuh.

Bagi Trimo, sang cucu Dinda merupakan titipan Tuhan yang harus ia jaga dan rawat dengan segenap kasih sayang. Ia juga terus menabung, demi biaya berobat sang cucu tercinta.

Kondisi Mbah Trimo dengan istri dan cucunya ini membuat semuanya iba, tak terkecuali para tetangga. Tak heran apabila warga sekitar kerap memberi uluran tangan kepada mereka.

“Setelah mereka berjualan balon di tepi jalan itu, banyak warga akhirnya berhenti. Mereka iba melihat anaknya yang disabilitas itu. Kemudian memberi bantuan. Selain itu, tetangga sekitar juga banyak yang memberi,” kata Karti, warga sekitar.  

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar