Panjebar Semangat, Media Legenda Asal Surabaya Warisan Dr Soetomo

  Minggu, 28 Februari 2021   Praditya Fauzi Rahman
Celine Anjanette menunjukan hasil jadi majalah Panjebar Semangat di depan kantornya, Minggu (28/2/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

BUBUTAN, AYOSURABAYA.COM -- Media lokal asal Kota Surabaya satu ini terbilang unik, asyik, nan 'klenik'. Panjebar Semangat namanya. Seperti namanya, media lawas besutan pahlawan nasional Dr. Soetomo ini telah berdikari sebelum kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Penanggungjawab Media Sosial dan Event Panjebar Semangat, Celine Anjanette mengatakan Panjebar Semangat terbit pertama kali pada 2 September 1933. Hal itu tak lepas dari andil sang pahlawan nasional Dr. Soetomo. Dia bersama sejumlah rekan seperjuangannya berupaya menyebarkan semangat kemerdekaan kepada arek-arek Suroboyo dengan memberitakan pelbagai hal dengan cara yang unik.

"Dulu itu yang mendirikan salah satunya adalah Dr. Sutomo. Waktu itu, berita perjuangan meraih kemerdekaan itu perlu disebarkan ke sebanyak-banyaknya orang. Sedangkan, orang yang mengerti soal politik, hukum, dan berita-berita umum lainnya itu biasanya cuma orang-orang terpelajar saja," terang wanita yang akrab disapa Anette itu kepada AyoSurabaya.com, Minggu (28/2/2021).

Anette menambahkan, kala itu Dr.Soetomo tengah membutuhkan platform berupa media. Dari sanalah, mulai terbentuk media Panjebar Semangat.

Seiring berjalannya waktu, media tersebut terus menerus menyebarkan berita positif dan membakar semangat para pemuda pemudi. Dalam pendekatannya, Panjebar Semangat menggunakan bahasa Jawa agar mudah dipahami khalayak, terutama masyarakat dengan tingkat perekonomian dan pendidikan yang rendah.

"Orang-orang terpelajar ini (Dr.Soetomo dan kawan-kawan) perlu media juga untuk menyebarkan berita perjuangan ini. Nah, kebetulan masyarakat umum, bahasa yang dimengerti waktu itu belum Bahasa Indonesia, apalagi Belanda, kebanyakan tahu bahasa Jawa. Lalu, dibuatlah media ini berbahasa Jawa," sambung wanita pecinta seni tari itu.

Sejak berdiri, Panjebar Semangat yang berbentuk tabloid terbit setiap pekan saja.

Menurut Anette, ketika awal terbit Panjebar Semangat hanya berisi beberapa lembar saja. Seiring umur, jumlah isinya bertambah. Penambahan halaman pertama kali dilakukan pada tahun 1935.

"Karena, dulu awalnya itu tabloid yang tayangnya mingguan, 4 lembar saja. Lalu, tahun berikutnya sekitar 1935 mulai banyak pembacanya, dibuat majalah yang berdiri sampai sekarang," jelas dia.

Begitu juga dari awak redaksi. Ketika awal meramaikan dunia media massa Tanag Air, Panjebar Semangat hanya digawangi oleh Dr.Soetomo, Imam Soepardi sebagai Pimpinan Redaksi (Pimred), serta beberapa nama yang masih belum diketahui pasti identitasnya.

"SDM-nya sangat terbatas, dulu beliau markasnya ya di gedung Nasional Indonesia ini. Dulu Pimrednya Bapak Imam Soepardi, temannya Dr. Soetomo yang merupakan mantan guru, tapi juga wartawan sebelumnya di media Suara Umum lalu ke sini menjadi Pimred, jadi Imam Soepardi, Dr Sutomo, dan gengnya dulu yang membuat media ini," jelasnya.

Perihal penggunaan bahasa Jawa ngoko Madya, Annete mengungkapkan hal tersebut adalah salah satu karakteristik Panjebar Semangat. Kendati terkesan lebih mengena dan merakyat, menurutnya penggunaan bahasa Jawa dalam pemberitaan cukup efektif. Tak ayal, peminatnya didominasi warga Jawa, baik dari Timur, Barat, maupun Tengah.

"Bahasa ini (Ngoko Madya) di Surabaya terkesan halus, tapi kalau di daerah Jawa Tengah terkesan kasar, memang tidak pernah berubah bahasanya dari dulu," jelasnya.

Begitu halnya dengan halaman dan jumlah halaman yang dicetak. Kata Annete, Panjebar Semangat pernah mengalami masa keemasan sekitar tahun 1960-an. Saat itu, jumlah eksemplar yang berada di pasaran laku hingga 80.000. Jumlah itu diklaim menjadi penjualan terbesar hingga saat ini.

"Dulu, tujuannya hanya untuk menyebarkan semangat perjuangan kemerdekaan, lama-lama menjadi komersil. Paling banter (kencang) itu tahun 1960 sampai 1966, itu bisa sampai 80.000 eksemplar. Sekarang banyak turun, tinggal 11.000 eksemplar," kata Anette.

Di sisi lain, untuk bagian percetakan halaman, lanjut Anette, pernah mengalami pasang surut. Ia menyebut Panjebar Semangat pernah mengurangi dan menambah halaman sesuai kesenangan konsumen dan pasar. Bahkan, mayoritas konsumen lebih menyukai halaman mistis nan klenik yang disuguhkan. Terutama para konsumen di kawasan Jawa Tengah.

Anette memaparkan lebih lanjut wilayah pemasaran Panjebar Semangat ke seluruh daerah di Indonesia, kecuali Papua. Harganya pun cukup terjangkau, hanya Rp 35.000,00 per majalah.

"52 halaman, halamannya fluktuatif. Sebelumnya lebih tipis, lalu kembali lagi ke 52 halaman. Kami lebih menguatkan ke sastra agar tidak kalah dengan media media baru, terutama untuk cerita bersambung, cerita cekak, dan cerita pendek (cerpen). Yang paling ditunggu pembaca adalah cerita mistis, hantu-hantuan. Dari dulu sampai sekarang, pembaca yang paling banyak dari provinsi Jawa Tengah di Semarang dan sekitarnya, karena pembacanya 40% sendiri," tandasnya.

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar