Penyelundupan Ratusan Burung dan Kura-Kura Jalur Laut Digagalkan Petugas

  Selasa, 02 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Ratusan burung yang berhasil diselamatkan dari penyelundupan melalui jalur laut dari Makassar di pelabuhan Tanjuk Perak. (Humas BBKP Surabaya)

SEDATI, AYOSURABAYA.COM -- Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya Musyaffak Fauzi mengatakan, pihaknya menggagalkan penyelundupan ratusan burung dan kura-kura. Total, ada 633 ekor burung dan kura-kura yang rencananya diselundupkan pada Rabu (24/2/2021).

Ratusan satwa itu tak dilengkapi dokumen kesehatan dari daerah asalnya, Makassar.

"Keberhasilan penggagalan ini berkat kerja sama antara Karantina Pertanian Surabaya wilayah kerja Tanjung Perak bersama Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya," kata Musyaffak melalui keterangan tertulis yang diterima Ayosurabaya.com, Selasa (2/3/2021).

Penggagalan yang dilakukan pihaknya berawal dari informasi masyarakat terkait adanya penyelundupan satwa melalui jalur laut di Kapal Motor (KM) Dharma Rucitra. Tim gabungan langsung merangsek dan menyisir setiap sudut kapal. Pun dengan seluruh alat angkut berupa truk.

Ratusan burung dan kura-kura pun ditemukan dalam truk di kapal KM Dharma Rucitra asal Makassar.

Adapun modus yang digunakan, terduga pelaku memasukkan ratusan satwa tanpa dokumen itu ke keranjang plastik dan kandang berbahan kawat. Agar lebih memuluskan aksinya dan tak terpantau petugas, terduga pelaku menyembunyikannya ke sisi belakang truk.

“Modus yang dilakukan tetap sama, satwa dikemas dalam keranjang plastik dan kandang kawat. Lalu, disembunyikan di belakang kursi sopir serta di atas kepala truk. Untuk alat angkut yang digunakan adalah 3 truk,“ katanya.

Musyaffak menuturkan, 633 ekor satwa itu terdiri atas beragam jenis, 313 Jalak Rio-Rio, 10 ekor Merpati Hitam Sulawesi, 6 Kakaktua Jambul Putih, 19 Nuri Tanimbar, dan 285 kura-kura.

Kakatua Jambul Putih dan Nuri Tanimbar adalah jenis satwa yang dilindungi. Karena itu, 2 hewan itu tidak bisa diperjual belikan maupun diburu. Sehingga, lanjut Musyaffak, penggagalan penyelundupan tersebut adalah salah satu upaya pihaknya untuk mencegah Kakatua Jambul Putih dan Nuri Tanimbar dari kepunahan.

Sampai saat ini, pihak Musyaffak masih mendalami peranan dari 5 terduga pelaku tersebut. Bila terbukti bersalah dan secara sah melanggar hukum, tak menutup kemungkinan seluruhnya dapat dijerat dengan Undang-Undang (UU) nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

Musyaffak mengimbau agar masyarakat lebih peka dengan kondisi sekitar perihal primata maupun satwa lain yang dilindungi. Bila ditemukan adanya hal serupa, segera melaporkan dan memeriksakan komoditas pertanian yang akan dilalulintaskan ke karantina pertanian setempat.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar