Omzet Petani dan Pedagang Tanaman Hias di Surabaya Melonjak Drastis selama Pandemi

  Selasa, 02 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Khusnul Huda menunjukan tanaman hias jenis Varigata seharga Rp 2,5 juta , Selasa (2/3/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

GUBENG, AYOSURABAYA.COM -- Sejak pandemi melanda Tanah Air, para pedagang dan pembudidaya tanaman hias di Surabaya ketiban rejeki nomplok.

Salah satunya dialami Khusnul Huda yang mengaku kebanjiran order. Hampir seluruh koleksi tanaman hias yang dimilikinya, mulai Aglonema, Adenium, sampai Kaktus laris manis diburu para kolektor. 

Harga tanaman hiasnya dibanderol beragam sesuai dengan jenisnya, ukuran, dan usianya.Termurah Rp15.000, hingga yang paling mahal Rp2,5 juta. Semakin langka tanaman, semakin mahal pula harga yang dipatok. 

"Sing varigata iki paling larang (Yang Varigata ini paling mahal)," terang pria yang akrab disapa Mas Inul itu saat dijumpai AyoSurabaya.com, Selasa (2/3/2021). 

AYO BACA : 16 Daerah di Jatim Masuk Zona Kuning, Surabaya Zona Apa ?

Khusnul menambahkan, pendapatan sejak awal pandemi Covid-19 meningkat tajam, hampir 1000%. Sebelum pandemi, omzet perharinya sekitar Rp 500.000 sampai Rp1 juta. Namun sejak pandemi, meningkat hingga Rp15 juta per hari.

"Meningkat banget, Mas, mungkin karena orang-orang lebih sering di rumah. Sebelum pandemi justru lebih sepi, karena mungkin dulu fokusnya belanja selain tanaman. Nah selama pandemi sekarang lebih sering menghabiskan waktu di rumah," katanya.

Tanaman favorit yang paling banyak dicari adalah jenis kaktus. Selain perawatannya yang mudah, harganya pun relative murah.

Soal pejualan ia juga memanfaatkan platform media sosial.

AYO BACA : Gubernur Khofifah Minta Kota Pasuruan Jadi Hub Bromo-Tengger-Semeru

"Sampai saat ini, yang paling ramai lalu itu lewat media sosial, seperti Instagram, Facebook, dan Whatsapp, itu bisa sampai luar kota. Saya juga pakai marketplace dan saya ini pada dasarnya petani tanaman, nah reseller saya itu mayoritas menggunakan marketplace," jelas pemilik stan tanaman hias 'Inul Nursery' itu. 

Pedagang tanaman hias lainnya mengungkapkan hal yang sama.

Sujud Syukur yang lebih khusus menjual bonsai mengatakan sejak awal pandemi, hampir seluruh tanamannya  diburu pembeli. Terutama bonsai jenis Mamey. 

"Paling murah saya jual Rp200.000 dan paling mahal Rp5 juta. Saya juga jual jenis serut dan santigi. Nah, selama pandemi meningkat kurang lebih 60 persen, omzet saya sampai Rp 40 juta perbulan," kata pemilik stan bunga Pohon Mungil itu. 

Syukur menjelaskan lebih lanjut harga tanaman bonsai tidak mengalami fluktuasi yang tajam.

"Pasarnya tetap terjaga, nah, itu yang pertama. Selama pandemi ini otomatis meningkat penjualannya, karena banyak orang-orang yang memiliki uang banyak sekaligus penghobi atau mungkin tidak tahu harus menghabiskan uangnya bagaimana, akhirnya dia pusing kan, lalu mencari hiburan, salah satunya yang merawat bonsai ini," kata Syakur. 

AYO BACA : Sopir Ambulans Tantang Penganut Konspirasi Kuburkan Jenazah Covid-19

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar