Gara-gara PJJ, Pedagang Buku Kampung Ilmu Surabaya Kehilangan Omzet

  Minggu, 07 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Suasana kawasan Kampung Ilmu Surabaya yang sepi pembeli, Minggu (7/3/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

BUBUTAN, AYOSURABAYA.COM -- Kisah inspiratif datang dari para pedagang buku di Kampung Ilmu Kota Surabaya. 

"Monggo, Mas, pinarak. Mados buku nopo? Lagi sepen niki (Silahkan, Mas, duduk sini. Mau cari buku apa? Lagi sepi ini)," bujuk seorang wanita sembari membawa novel garapan Andrea Hirata kepada ayosurabaya.com Minggu (7/3/2021).

Berlokasi di Jalan Semarang, Bubutan, ada puluhan stan yang setiap harinya menjual beragam buku. Mulai dari cerpen, novel, sekolah, sampai majalah lawas. Semua ada, lengkap, dan terawat.

Sayangnya, pandemi Covid-19 membuat para pedagang buku merugi. 

Ketua Paguyuban Pedagang Kampung Ilmu Jalan Semarang Surabaya Budi Santoso mengungkapkan penyebabnya. 

AYO BACA : Menanti Bulan Suci, 5 Keistimewaan Bulan Ramadan

Budi menegaskan, sepinya pembeli disebabkan adanya prosesi belajar mengajar via virtual atau daring sejak beberapa tahun terakhir. Akibatnya, omzet para anggota paguyubannya terjun bebas. 

"Ya terdampak, Mas. Penurunan omzet sampai 60%," terang Budi.

Meski begitu, Budi mengaku para pedagang enggan pasrah. Mereka berinisiatif dengan beralih ke platform digital. Ia mengaku, sejumlah pedagang kerap memasarkan buku melalui marketplace yang sampai kini kian meningkatkan omset seperti sedia kala.

"Alhamdulillah, para pedagang masih tertolong dengan penjualan via online. Karena, kalau konvensional (manual), sehari hampir tidak ada yang beli,” sambungnya.

Budi menyatakan, para pedagang tak mau melewatkan kesempatan berdagang daring itu. Oleh karena itu, hampir seluruh platform marketplace selalu dimanfaatkan, mulai dari Shopee, Tokopedia, Lazada, Bukalapak, Facebook, WhatsApp Bussines, hingga Instagram.

AYO BACA : Annisa Pohan Ungkap Dugaan Sumber Biaya Penyelenggaraan KLB Partai Demokrat

“Akhirnya kami inisiasi sendiri (jualan online), karena tidak mungkin juga kita hanya memanfaatkan jualan manual," beber pria berusia 48 tahun itu.

Budi tak menampik memang ada hal positif dari kegiatan via daeing. Pasalnya, bisa membuat para pedagang lebih leluasa dalam berjualan. Bahkan, mampu menjangkau seluruh wilayah di Indonesia dan mancanegara.

Ia menyebut pekerjaan lebih efisien lantaran para pedagang hanya perlu melalukan packing dan mengirim tanpa harus membeber dagangan seperti saat berjualan secara konvensional. Sampai saat ini, marketplace menjadi senjata utama para pedagang untuk memburu calon pembeli tanpa perlu melakukan kualifikasi maupun segmentasi pasaran seperti saat berjualan manual.

“Enaknya, kita lebih luas (jangkauannya), yang biasanya (konvensional) dibeli warga Surabaya saja. Sekarang yang beli bisa dari Papua, Jakarta, sampai Malaysia," sebutnya.
 
Budi menambahkan, sebelum pagebluk, para pedagang sudah mengalami penurunan omset. Kondisi itu diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 yang mengakibatkan pendapatan semakin semrawut.

Kendati demikian, Budi menyisipkan pesan agar generasi penerus bangsa untuk selalu belajar dengan menggunakan media apapun. Meski pembelajaran sedang dikebut via daring, ia ingin para pelajar tetap mencari referensi ilmu lainnya.

“Secara tidak langsung, (belajar via daring) juga berpengaruh ya. Semua beralih ke online,” tandasnya.

AYO BACA : Kaesang-Felicia Putus, Nama Jokowi Dibawa-bawa

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar