Pedagang Buku di Kampung Ilmu Surabaya Butuh Perhatian Pemerintah

  Minggu, 07 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Para pedagang buku 'Kampung Ilmu' sedang menanti pembeli di Jalan Semarang Surabaya, Minggu (7/3/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

BUBUTAN, AYOSURABAYA.COM -- Kampung Ilmu sempat menjadi surganya para pecinta buku di Kota Surabaya. Sejak berdiri di tahun 2008, kawasan wisata baca ini menjadi sentral penjualan buku-buku bekas favorit anak sekolah. Namun kondisinya kini terpuruk.

Di Kampung Ilmu sendiri masih terdapat 85 pedagang yang masih bertahan. Meski harga buku yang dijual relatif murah dan menyajikan koleksi buku sejarah dan komik-komik lawas yang langka, mereka masih kalah saing dengan platform digital. Hal ini diperburuk dengan pandemi Covid-19 yang membuat anak sekolah harus belajar jarak jauh. 

Ketua Paguyuban Pedagang Kampung Ilmu Jalan Semarang Surabaya, Budi Santoso, menjelaskan sebelum ada pembelajaran via daring, para pedagang kerap berkeliling ke sejumlah daerah di Jawa Timur (Jatim) untuk menjajakan dagangan secara konvensional. 

"Dulu, sering jualan di pondok pesantren dan bazar, seperti di Ponorogo, Sampang, Pamekasan, Surabaya, Sidoarjo, dan beberapa daerah lain," jelas Budi kepada AyoSurabaya.com, Minggu (7/3/2021).

AYO BACA : Gara-gara PJJ, Pedagang Buku Kampung Ilmu Surabaya Kehilangan Omzet

Selama berjualan secara konvensional, Budi menyebut para pedagang sering mengandalkan para tengkulak dari sejumlah wilayah. Sebab, dalam satu kali beli, ada ratusan bahkan ribuan buku yang diborong untuk dijual kembali ke daerah masing-masing. 

"Dulu, orang kulakan banyak, ada yang dari Blitar, Lamongan, Madiun, Trenggalek, sampai Yogyakarta. Karena sepi, sekarang mereka juga jarang kulakan, kabeh (semuanya) mampet. Sekarang yang efektif cuma online," terangnya.

Budi menjelaskan, akhir-akhir ini tak sukar mencari atau memborong beragam jenis buku dari sejumlah wilayah. Dengan banyaknya penerbit yang merugi, bahkan pailid, membuat barang dagangan semakin menggunung.

"Sekarang ini kan banyak penerbit collapse, kalau buku sekarang tidak karu-karuan banyaknya, penerbit-penerbit menengah juga. Di gudang mereka sudah menumpuk, jadi sudah dipersilahkan siapa yang mau beli, jadi tidak susah cari dagangan," sebutnya.

AYO BACA : Kaesang-Felicia Putus, Nama Jokowi Dibawa-bawa

Sejauh ini, sambung Budi, para pedagang buku belum memperoleh arahan dari pemerintah kota untuk menunjang penjualan buku di Kampung Ilmu. Ia mengaku iri dengan UMKM lain yang kerap masuk pemberitaan lantaran memperoleh bantuan dari pemerintah, baik dalam segi modal, fasilitas, hingga lokasi.

"Tidak ada bantuan sama sekali dari pemerintah, durung tau dileboni (belum pernah dimasukin) dan belum pernah ditanyakan," imbuh pria berusia 48 tahun itu.

Ia berharap, pemerintah turut andil memajukan bisnis edukasi yang kian terpuruk itu.

"Yo koyok sing diomongno (seperti yang disampaikan) pemerintah, seperti membantu UMKM, ya saya harap bantuan itu konkret ya, karena kami juga membutuhkan itu, entah itu dalam permodalan atau apa, ya pengen e diewangi sitik-sitik (inginnya dibantu sedikit-sedikit)," tandasnya. 

 

AYO BACA : Ternyata Gatot Nurmantyo Pernah Ditawari Kudeta Partai Demokrat, Namun Menolaknya

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar