Pakar Nilai Monorail Tidak Efektif Digunakan di Surabaya

  Minggu, 07 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Ilustrasi monorel. Purnawan mengatakan monorel tidak efektif untuk warga Surabaya. (Paul Brennan dari Pixabay )

GUBENG, AYOSURABAYA.COM - Dosen Sejarah di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Purnawan Basundoro menyebut ada sejumlah Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi dan Armudji. Salah satunya adalah moda transportasi.

Purnawan mengatakan, terkait monorel yang pernah diwacanakan di masa kepemimpinan Tri Rismaharini tidak efektif untuk warga Surabaya. Menurutnya, masyarakat lebih memilih moda transportasi daring seperti Gojek dan Grab lantaran lebih efisien.

Disisi lain, pembangunan monorel juga menyerap anggaran yang mahal. Begitu juga dengan perawatannya. Maka dari itu, ia menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya agar membuat moda transportasi khusus supaya bisa dimanfaatkan khalayak.

"Monorel itu saya kira tidak efektif, karena masyarakat itu kan sudah terbiasa dengan menggunakan muda transportasi yang pribadi, dianggap simpel dan bisa menerobos kemacetan. Nah, sementara kalau trem listrik itu kan harus membuat infrastruktur yang sangat mahal dan belum tentu juga efektif untuk menarik minat masyarakat untuk meninggalkan moda transportasi yang pribadi tadi," terangnya kepada AyoSurabaya.com, Minggu (7/3/2021).

Sebenarnya, lanjut Purnawan, yang paling penting adalah mendekatkan sarana transportasi ke pemukiman-pemukiman. Dengan begitu, dapat mendorong antusiasme masyarakat untuk menggunakan transportasi itu. 

"Misalnya, monorel dibangun, tapi hanya di tengah kota, lah dari tengah kota ke rumah-rumah itu tidak ada aksesnya. Jika kita lihat di Hongkong, itu kota kecil tetapi sistem transportasinya dengan MRT itu langsung mendekat ke pemukiman-pemukiman, meskipun pemukiman di sana berbeda dengan di sini, nah disini kan tidak karena problem transportasi kita itu kan transportasi umum itu jauh dari pemukiman, lalu bagaimana caranya dari pemukiman menuju tempat pemberhentian moda transportasi umum itu," sambung penulis buku berjudul Arkeologi Transportasi: Perspektif Ekonomi dan Kewilayahan Karesidenan Banyumas 1830-1940an itu.

Menurutnya, hal itu masih menjadi problem sampai saat ini. Sehingga, masyarakat lebih memilih mengendarai sepeda motor atau ojek online. Purnawan menegaskan, PR itu harus diatasi oleh Pemkot Surabaya. 

"Mendekatkan moda transportasi umum ke pemukiman ini termasuk PR-nya Pak Eri, termasuk rencana integrasi 3 daerah, Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya," tandasnya. 

Purnawan menyinggung moda transportasi komuter yang diberlakukan di Surabaya. Ia menilai moda transportasi itu tidaklah efektif. Selain jauh dari pemukiman, masyarakat juga harus merogoh kocek dan waktu lebih banyak.

"Itu pernah dicoba ketika diperlakukan kereta komuter Surabaya-Sidoarjo. Dulu setiap jam ada, tetapi itu hanya di stasiun-stasiun yang lokasinya jauh dari pemukiman, ya orang-orang males. Tapi coba dekat ke kawasan pemukiman seperti ke dalam-dalam, pasti orang tertarik," ungkapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar