Tuti Winarti, Wanita yang Perjuangkan Disabilitas di Kota Pahlawan

  Senin, 08 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Para disabilitas melakukan proses finishing pesanan bantal dan tas di UMKM Tiara Handycraft, Jalan Sidosermo Surabaya, Senin (8/3/2021). (Ayosurabaya.com/Praditya Fauzi Ridwan)

WONOCOLO, AYOSURABAYA.COM -- Tuti Winarti begitu sabar menuntun para pekerjanya menjahit dan mendesain kain perca. Mayoritas karyawannya merupakan para penyandang disabilitas, baik tuna rungu, daksa, sampai wicara.

Tuti menjelaskan, sengaja mendirikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan bahan dasar kain perca. Menurutnya, kain perca atau dengan kualitas baik sekalipun memiliki potensi menjadi sejumlah benda dengan nilai jual dan fungsi yang tinggi.

"Sebenarnya, semua pekerjaan bisa dilakukan dengan mesin jahit. Semua orang bisa tapi tidak semua orang mau. Karena, 90% lebih di kehidupan kita itu menggunakan kain dan semuanya dijahit, belum ada pakaian yang di press," kata Tuti saat membuka perbincangan dengan AyoSurabaya.com, Senin (8/3/2021).

Begini Syarat dan Biaya Bikin SIM untuk Disabilitas di Surabaya

Selama pandemi Covid-19, Tuti terpaksa merumahkan sebagian karyawannya. Saat ini, hanya ada 15 orang yang bekerja di rumahnya yang berada di Jalan Sidosermo Indah 2 nomor 5 Surabaya. Sebelum pandemi, Tuti mengaku bisa mempekerjakan hingga 30 karyawan disabilitas.

"Sebelum pandemi, ada 30 pekerja. selama pandemi bisa dikerjakan di rumah, untuk mengefisiensikan pertemuan juga ya karena pandemi, karena tempatnya juga terbatas," kata wanita berusia 51 tahun itu.

Untuk mendampingi dan menuntun para pekerjanya, Tuti sengaja menggandeng para mahasiswa magang dari sejunlah kampus. Supaya, pekerjaan yang dilakukan berjalan sesuai tepat waktu dan akurat.

Begini Syarat dan Biaya Bikin SIM untuk Disabilitas di Surabaya

Tuti menjelaskan, awal mula berdirinya Tiara Handycraft bertujuan untuk memberi kesempatan dan kursus kepada para penyandang disabilitas. Dalam menyebarkan ajakannya kala itu, para disabilitas menyampaikan dari mulut ke mulut dan link di daerah masing-masing.

Di sisi lain, Tuti juga sempat mengemban amanat dari satu panti di Jawa Timur untuk membimbing para tuna daksa. Selepas pelatihan dan pelajaran yang diperoleh, alumnus tuna daksa mengajak sejumlah rekan yang serupa untuk bergabung bersama Tuti.

"Alumni-alumninya yang tidak terserap ke lapangan pekerjaan, memperdalam di sini. Setelah termampukan, ada yang buka usaha sendiri, lalu juga melakukan training dan sudah ada jam terbang. Karena kalau dari pelatihan saja kan kurang, jadi kami berikan training serta job. Yang terpenting, mereka (disabilitas) mengerti, pekerjaan di tempat apapun itu tidak harus menuntut fasilitas di tempat itu, tetapi tempat itu harus mereka terima apa adanya sampai mereka bisa menyerap potensi potensi yang ada di lingkup kerja," katanya.

170 dari 500 Penghuni Panti Asuhan Yayasan Bhakti Luhur Malang Positif Covid-19

Tuti ingin, para disabilitas dapat mandiri dalam kondisi apapun. Sehingga, memancing mereka supaya mampu untuk memiliki pekerjaan di wilayahnya sendiri. "Tujuan akhirnya, mereka termampukan di wilayahnya," katanya.

Para disabilitas yang bekerja di rumahnya berasal dari lintas provinsi. Tuti menyebut, para pekerjanya ada yang berasal dari Bali, Kalimantan, Sumatra, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah. Ia mengaku memang melayani disabilitas dari manapun dengan tujuan bisa menjadi acuan di wilayah masing-masing selepas menimba pengalaman dan ilmu di UMKM-nya.

Kendati demikian, tidak semua jenis disabilitas bisa bergabung dengannya. Tuti menegaskan, ada pengcualian terhadap tuna netra. Alasannya, keterbatasan ruang dan tenaga pendamping.

Ibu Hamil Jangan Kekurangan Vitamin D, Ini Dampak Buruk pada Bayi

"Semua disabilitas bisa bergabung di sini, kecuali tunanetra. Karena, kami tidak menyiapkan tenaga pendamping, sehingga mereka harus menempuh secara mandiri, itu adalah syarat utamanya, itu sudah standartnya. Di sini tempatnya sempit, kami juga sering gonta-ganti posisi. Karena, untuk tunanetra kan harus menghafal tempat, nah itu yang tidak bisa (dikerjakan) di sini," tuturnya.

UMKM yang berdiri sejak Maret 1995 itu pernah mengalami masa keemasan. Tuti menjelaskan, di tahun 2004 ada orderan massal yang membuatnya kualahan. Saat itu, ia membuka kesempatan lagi bagi pekerja disabilitas. "Dulu pernah booming, sampai 70 orang di tahun 2004," tuturnya.

Olahan yang dihasilkan dari kain pesanan maupun perca pun beragam, mulai dari busana, tas, bantal, home dekor, aksesoris, spai pelengkap peralatan medis.

Limbah perca yang didapat juga berasal dari lingkungannya dan bisa jadi produk yang mahal. Terutama, bila memiliki fungsi yang dibutuhkan, seperti halnya tas. Untuk harga yang dibanderol pun beragam, mulai Rp5.000 sampai Rp300.000 per item.

Sayangnya, selama pagebluk membuatnya terpaksa merumahkan sebagian karyawannya. Selain sepi orderan, Tuti juga meminimalisasi persebaran Covid-19 di tempat kerjanya.

"Kalau ditunjang dengan material yang mahal, otomatis harga bisa lebih mahal lagi. Sebelum pandemi, sovenir itu sampai ribuan, nah selama pandemi kan dibatasi kumpulan orang-orang, jadi orderan kita cuma ratusan aja. Kecuali, kalau pas ada kampanye bisa banyak tapi harganya minim banget, itu harga tekanan. Setidaknya kita masih terhibur dengan melakukan aktivitas," tuturnya lalu tersenyum.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar