Cara UMKM Tiara Handycraft Tingkatkan Omzet yang Turun saat Pandemi Covid-19

  Senin, 08 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Para pekerja disabilitas di Tiara Handicraft Sidosermo, Wonocolo, Surabaya. Senin (8/3/2021). (Ayosurabaya.com/Praditya Fauzi Rahman)

WONOCOLO, AYOSURABAYA.COM -- Dampak pandemi Covid-19 turut dirasakan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satunya UMKM Tiara Handycraft di Jalan Sidosermo, Kecamatan Wonocolo, Kota Surabaya.

Pemilik UMKM Tiara, Tuti Winarti, mengaku sepi pembeli selama setahun pagebluk. Order yang diperolehnya menurun drastis. Namun, Tuti berupaya mengembalikan omzet yang sempat anjlok melalui platform media sosial dan marketplace.

"Untuk menyiasati sepinya orderan, saya japri (chat pribadi), WhatsApp konsumen-konsumen lama, share produk ke sosmed dan marketplace juga yang jarang kita lakukan sebelumnya," kata Tuti saat dijumpai AyoSurabaya.com, Senin (8/3/2021).

Hampir semua media sosial dan marketplace populer digunakannya untuk meraup omzet.

Di sisi lain, Tuti selalu mementingkan kepuasan dan komplain dari pembeli. Dengan menghargai dan menjalin relasi tersebut, selama labeling belum lepas dari produknya, dia menilai pembeli masih menyayangi produk Tiara Handycraft.

Meski tak jarang yang 'maidu' atau protes dengan hasil yang kurang baik.

"Karena, mereka sering minta kita memperbaiki ke kami lagi, artinya mereka sayang dengan produk kami," katanya.

Tuti menegaskan, dia lebih senang ketika orang membeli produk yang merupakan jerih payah dari para pekerja disabilitas dengan memandang segi kualitas dan harga. Dengan begitu, ada nilai jual dan daya saing dari produk itu yang diklaimnya memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan, kualitas tak kalah dengan pabrikan.

Dia ingin para konsumen baru untuk membeli produknya dari segi kualitas, bukan belas kasih lantaran pekerjanya didominasi disabilitas.

Menurutnya, hal tersebut malah berdampak buruk bagi pasarnya dan justru tak memberi support kepada para penyandang disabilitas.

"Banyak yang beranggapan produk ini mahal karena dibuat disabilitas, padahal yang kami utamakan adalah kualitas. Sebetulnya, kualitas kami secara konstruksi dan lain sebagainya kami utamakan keunggulannya, potensinya, bukan mengharapkan belas kasih dari orang, tapi pengakuan dari produknya. Itu yang selalu kami bawa agar kustomer lebih mengenal dan itu yang kami terapkan ke anak-anak," kata wanita berusia 51 tahun itu.

Tuti mengatakan, usai memperoleh penghargaan dari New York beberapa tahun silam, lingkungan sekitarnya semakin terbuka dan menerima keberadaan para disabilitas.

Banyak orang tua dan pelanggan yang percaya bahwa pengakuan disabilitas itu dimulai setelah dapat pengakuan berdasarkan penghargaan yang diperolehnya dari PBB dulu.

Dia pun mendorong agar para disabilitas mampu bekerja dengan layak dan setara dengan orang normal lain. Termasuk bekerja di lingkungan industri sekalipun.

Tuti ingin masyarakat lebih terbuka dan memberikan kesempatan yang lebih layak kepada para disabilitas. Selain memiliki skill dan pengalaman, para disabilitas juga mampu bersaing sesuai kapasitas masing-masing meski harus ada pendampingan.

"Karena, mikirnya pasti eksploitasi dan pemanfaatan, padahal kami memberikan kesempatan dan peluang ke mereka. Nah, dulu di negeri saya itu sulit memperoleh pengakuan seperti ini, sebab pemikiran orang-orang dulu kan pasti bekerja dengan orang normal aja bisa rugi, apalagi dengan disabilitas. Padahal, banyak kelebihan meskipun ada keterbatasan fisik. Tekanan terbesar itu sering datang dari keluarga, lalu dari masyarakat," tuturnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar