Menerka Klausul Surat Perintah 11 Maret

  Kamis, 11 Maret 2021   Praditya Fauzi Rahman
Surat Perintah 11 MAret. (Arsip Nasional Republik Indonesia )

GUBENG, AYOSURABAYA.COM -- Lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Super Semar) merupakan salah satu peristiwa sejarah Indonesia.

Sejarahwan, Purnawan Basundara, mengatakan Supersemar lahir akibat kondisi politik yang memanas pada tahun 1965 tepatnya usai peristiwa 30 September.

"Nampaknya, dari peristiwa pemberontakan itu (G30SPKI), memang respons pemerintah yang dipimpin Presiden Soekarno terhadap pemberontakan itu cukup lamban," kata Purnawan kepada AyoSurabaya.com, Rabu (10/3/2021).

Kondisi saat itu bertambah buruk dengan perekonomina yang morat-marit. Hal itu memantik protes dari para mahasiswa, pelajar, dan masyarakat yang lain. 

AYO BACA : 4 Pelajaran Penting dari Isra Miraj

Aksi protes atu unjuk rasa terus berlangsung sampai pada bulan Maret 1966. Kemudian, munculaah inisiatif dari Soeharto yang pada waktu itu menjabat sebagai pimpinan tertinggi  militer Indonesia. Dia juga merupakan satu-satunya perwira berpangkat jenderal yang masih ada, setelah jenderal lainnya terbunuh dalam peristiwa 30 September. 

"Para jenderal saat itu, totalnya ada 7 jenderal, terbunuh pada G30SPKI, otomatis pucuk pimpinan angkatan darat waktu itu hanya ada di Bapak Soeharto," lanjutnya. 

Kemudian, penguasa wilayah Pangdam Jaya waktu itu yakni Brigjen Amir Mahmud mendapat pinta langsung dari Soeharto untuk meredakan kekacauan kala itu. Kondisi itu pun mendapat perhatian khusus oleh Soeharto dengan mengutus tiga jenderal, yakni Pangdam Jaya Brigjen Amir Mahmud, Menteri Perindustrian Brigjen M.Yusuf, dan Menteri Veteran Brigjen Basuki Rahmat untuk menghadap Presiden Soekarno.

Namun, tidak diketahui pasti apa isi pembicaraan dalam pertemuan super rahasia yang terjadi di Istana Bogor kala itu. Sampai pada akhirnya tercetuslah Super Semar yang kemudian diaplikasikan oleh Soeharto.

AYO BACA : Kecelakaan Bus Maut di Sumedang, 23 Penumpang Tewas

"Detil pembicaraan dengan Pak Karno waktu itu, saya kira banyak yang tidak diketahui sebenarnya seperti apa, perbincangan antara tiga jenderal itu dengan Presiden Soekarno. Dari kunjungan tiga jenderal itu, menghasilkan sebuah naskah yang kemudian dikenal dengan Surat Perintah 11 Maret dan itu adalah latar belakangnya yang terjadi," beber dia.

Berdasarkan analisa Purnawan, bila melihat posisi Presiden Soekarno pada waktu itu yang berada di Istana Bogor dan menandatangani Super Semar itu, diduga kuat domisili awal dicetuskannya berada disana pula. Usai mendapatkan Super Semar, ketiga petinggi TNI kala itu pulang ke Jakarta dan menyerahkan ke Soeharto. Beberapa saat setelah menerima dan membaca Super Semar, Soeharto langsung melaksanakan isi surat itu. Kendati demikian, masih belum diketahui pasti siapa yang pertama kali mencanangkan adanya Super Semar kala itu.

"Sampai saat ini, saya kira masih belum jelas benar ya pencetusnya. Ada yang mengatakan bahwa Bung Karno saat itu dalam kondisi terpaksa mengeluarkan surat. Terlepas dari itu semua, memang situasi Jakarta pada saat itu sangat kacau akibat demonstrasi yang ada di mana-mana, ditambah dengan kondisi masyarakat yang terdampak ekonomi. Melalui surat itulah, saya kira Pak Harto mengambil inisiatif untuk membereskan kondisi Jakarta pada saat itu," tandas Purnawan.

Lantas, apakah Soeharto menggunakan Super Semar untuk mengambil kekuasaan Soekarno? Purnawan menerangkan tidak ada istilah menyerahkan kekuasaan. Menurutnya, Soeharto semata-mata hanya mengamankan situasi yang sedang semrawut, terutama di Jakarta. Pada klausul lain adalah untuk mengamankan posisi dan keamanan presiden. 

Dalam penerapan Super Semar di lapangan sesuai isi surat perintah Soekarno, Purnawan meyakini tafsir yang dilakukan Soeharto berbeda. Artinya, situasi yang terjadi di Jakarta saat itu perlahan-lahan menyebabkan kekuasaan Bung Karno mengalami penurunan. Bahkan, sampai pudar. Sementara, Soeharto yang waktu itu dianggap sebagai pengemban Supersemar atau orang yang dipilih perintah untuk melaksanakan Supersemar itu semakin menguat.

"Nah, ini saya kira perubahan-perubahan yang sangat cepat terjadi pada saat itu, terkait dengan turunnya surat yang dari presiden Soekarno kepada Soeharto pada saat itu," tutupnya.


 

AYO BACA : Liga Champions: PSG dan Liverpool Lolos ke Babak Perempat Final

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar